Terpaan #Lifegoal di Tengah Kehidupan yang Gini-gini Aja

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 19 Agustus 2017
Saya masih bersikeras bahwa hidup ini bukanlah sebuah pertandingan. Namun dalam kondisi saat ini, paradigma konsep menang-kalah tidak dapat dihindarkan.

Dunia melalui sosial medianya sedang menampilkan serangan yang dapat dikatakan masif: Hidup yang Berkelimpahan. Bahkan, umat Kristen sendiri seringkali terjebak dalam konsep kemakmuran yang dijadikan sebagai pusat doa dan tujuan beribadah. Lantas, jika hidup BERKELIMPAHAN adalah tolak ukur hidup yang diberkati, maka kita punya alasan untuk menunduk malu.

Mayoritas orang yang membaca tulisan ini adalah ‘orang biasa’. Sepatuh apapun kita pada nasihat Mario Teguh soal "nobody to somebody" dan mengikuti semua petunjuk dari buku "Think and Grow Rich”, toh nyatanya kita tetap bukan siapa-siapa. Anak gang sebelah mungkin tidak tahu nama kita, tak cukup penting untuk dikenal dan memang biasa-biasa saja. Saya pasti tidak sendirian meratapi hidup yang gini-gini aja. Mungkin ketika kita bercermin melihat diri kita masing-masing, ada perasaan lega karena beberapa hal sudah tercapai. Semakin banyak teman, gaji meningkat, banyak berlibur dan jalan-jalan, membuka usaha (bisnis), atau berprestasi di tempat kerja. Cukup menyenangkan bukan? Banyak pencapaian yang diperoleh dan dipercayakan terjadi dalam kehidupan kita oleh Sang Pencipta. Seketika itu saya dan kalian merasa layak membusungkan dada dengan senyum bangga.

Namun semua itu runtuh ketika secara sadar kita mengetahui: orang lain sudah pergi ke Maldives ketika kita berbangga dengan Bandung atau Malang (Batu), orang lain menjadikan Eropa-Indonesia tak jauh berbeda dengan Surabaya-Sidoarjo, orang lain memberikan ibunya hadiah Tas Hermes ketika kita masih kesulitan dan sering salah saat menyebutkan merknya. Gesture tubuh kita berubah dari yang membusungkan dada menjadi tertunduk lesu sambil bergumam “ah ternyata aku belum ada apa-apanya.” Saya merasakan itu, setiap detailnya sampai ke hal-hal yang paling sederhana sekalipun. Kita mencapai banyak hal, namun terlihat ‘kalah’ ketika disandingkan dengan keberhasilan orang lain. Lalu apa poinnya? Mungkin sampai akhir (meninggal) kita hanya menjadi orang ‘biasa-biasa’ saja.

Belakangan ini tagar #lifegoal, #relationshipgoal, #mygoal dan tagar goal-goal lainnya kerap mengaburkan penghargaan terhadap apa yang sebenarnya Tuhan inginkan dalam hidup kita. Dia sudah merancang jalan hidup kita seperti ini, mungkin tidak melejit ataupun memecahkan rekor. Tapi wajib untuk diingat bahwa proses tak pernah kalah penting dibandingkan hasil. Ketika sosial media menyerbu tanpa lelah lewat tagartagar kekinian dan hal-hal keren yang terlihat mata, kita harus lebih jeli melihat hal lain yang lebih penting diperhatikan: pertumbuhan karakter! Kang Ebet pernah berujar, "memang baik menjadi orang penting, tetapi jauh lebih penting menjadi orang baik."

“Itulah alasan mengapa kita disebut human being, bukan human doing.

Sebuah proses menjadi sangat berharga ketika kita terus belajar dan mau bertumbuh bahkan melalui hal yang tidak menyenangkan yang Tuhan ‘biarkan’ terjadi dalam kehidupan kita. Berdamai dengan keadaan dan secara penuh berproses di dalamnya sangatlah penting, satu yang keliru ketika kita terlampau pasrah dengan hidup yang gini-gini aja tanpa berusaha lebih. Sudah menjadi kodrat manusia untuk berjuang. Semua goal dan tagar kekinian tadi membuat sebuah perjalanan hidup tampak kalah saat kita tak bisa mengikuti standar tertentu (Sandy Yeriko, 2016). Standar yang mana? Sosial media kita sudah menampilkan jawabannya. Contohnya popularitas (jumlah like dan love) yang kita peroleh dan besar gaji. Contohnya kalimat-kalimat di bawah ini:

“work until you shop without looking the price tag” atau “work hard until you don’t need to introduce yourself.”

Kalau memang standarnya demikian, ayo ngaku bagi yang merasa sudah mencapai titik tersebut. Beranikah? Saya sendiri tak berani mengakuinya karena saya masih sering resah dengan price tag yang menempel. Kabar baiknya, itu bukan masalah! Kita harus tetap mempunyai goal dalam hidup ini, teman saya Sandy Yeriko pernah menuliskan begitu apik kalimat ini: “kita perlu punya tujuan, faktanya tujuan itu akan sangat penting bagi masa depan kita. Tapi jangan sampai tujuan kita berbahan bakar keirian sosial sehingga kita lebih berorientasi pada ‘terlihat keren’ dibandingkan ‘beneran keren’. Memang, mengembangkan citra keren itu lebih gampang dan less sacrificial daripada mengembangkan potensi diri. Tapi itu akan membuat dunia kita tidak tersentuh berbagai pengalaman, pikiran kita berkelana dalam kekecewaan, dan mimpi kita yang sebenarnya tidak sempat diperjuangkan.

Ambisi untuk senantiasa ‘menang’ dan menggapai utopis membuat kita gagal fokus pada proses yang kita jalani, potensi yang kita miliki, mimpi yang harus terus dihidupi, bahkan panggilan mulia yang sebenarnya. Sekali lagi saya ulang, mungkin sampai akhir (meninggal) kita hanya menjadi orang ‘biasa-biasa’ saja, tidak terkenal dan bukan seorang milyuner. Sekali lagi, itu bukan masalah!

“Dengan menerima diri, kita sanggup untuk mengarahkan mimpi. Dengan meredefinisi arti sukses, kita sanggup berdamai dengan – bahkan merayakan – kegagalan. Dan, dengan menghargai setiap proses dan progress, kita akan semakin menghargai hal-hal sederhana yang Tuhan anugerahkan dalam hidup kita.”

Kita akan belajar mengenal diri sendiri dengan cara yang lebih baik, dari indahnya menjalin pertemanan, berkarya dengan hati (sesuai idealisme), menolong orang yang kesulitan, membaca buku yang kita mau, serta tertawa atau menangis bersama mereka yang kita kasihi. Terdengar klise dan membosankan? Ya, tapi itu terjadi karena hal-hal tersebut kita anggap sebagai perkara remeh yang ‘biasa-biasa’ saja. Padahal lewat hal-hal sederhana itulah Tuhan menunjukan kasih-Nya kepada kita.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE