Tidak Ada Tahun yang Benar-benar Baik atau Buruk

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 22 Januari 2019
Tidak akan berlangsung selalu gembira tanpa sedikitpun kecewa Tidak mungkin senantiasa kalah, hingga kehabisan alasan untuk berbangga

Awal tahun ini banyak kabar yang sudah jadi bahan perdebatan. Kasus prostitusi, kemunculan Nurhadi-Aldo, hingga sengketa tentang gereja di beberapa tempat.

Tidak berhenti di isu-isu yang “jauh” dari kehidupan personal saya, kabar kondisi orang-orang dekat saya turut datang dan menjadi kejutan (yang sayangnya kurang sedap) bagi saya. Tiga teman saya putus cinta. Satu teman saya yang lain kehilangan bayinya yang baru berusia beberapa pekan karena sebuah kondisi fisik tertentu. Ada juga teman yang gagal meraih impian yang sudah diperjuangkan sejak lama dengan menguras energi serta rupiah (tiket ke luar pulau beberapa kali).

Bahkan belum genap sebulan perdana tahun baru dihabiskan, sudah banyak hal terjadi.

Saya sendiri optimistis untuk tahun 2019, mengingat bagaimana 2018 telah berjalan dengan sangat menggairahkan. Banyak kesempatan untuk mengeksplorasi diri, sebagian sesuai dengan apa yang saya dambakan sejak lama, dan banyak yang justru melebihi ekspektasi. Sayangnya, optimisme awal tahun harus berbenturan dengan rangkaian berita kurang baik dan jelas saja, itu membuat saya tergoyahkan.



Unsplash.com


Apakah ini pertanda tahun ini akan menjadi sedikit lesu dan tidak beruntung?

Apakah usai merasakan tahun yang beruntung ini adalah giliran saya untuk berhadapan dengan banyak kemalangan?

Mungkin benar, pikir saya. Pasalnya dari 1 Januari hingga 16 Januari sudah ada dua kegagalan yang harus saya rasakan. Mengetahui apa yang sedang saya perjuangkan di tahun ini, kemudian memperjuangkannya, dan gagal tanpa menunggu lama membuat saya terdiam dan merasa, sungguh awal tahun yang memberi candaan tak lucu.

Saya semakin yakin tahun ini akan menjadi tahun yang sulit, hingga di satu titik saya sadar sesuatu.

 

Tidak ada yang tahun yang benar-benar baik

Tidak ada yang tahun yang sepenuhnya buruk

Tidak akan berlangsung selalu gembira tanpa sedikitpun kecewa

Tidak mungkin senantiasa kalah, hingga kehabisan alasan untuk berbangga



Unsplash.com


Saya diingatkan hal ini tepatnya kemarin, saat saya berangkat kerja dengan kondisi yang masih gelap, dan saya memperhatikan langit di sebelah kanan saya. Indah. Biru yang mulai muncul dengan siratan awan yang tidak teratur. Di sebelah kiri justru sebaliknya. Langit seperti sedang malas. Dari satu titik yang sama saya dapat melihat dua pemandangan langit yang berbeda.

Hal ini senada dengan apa yang terjadi di malam harinya. Saat saya mendapatkan kabar kegagalan kedua saya di tahun ini melalui notifikasi e-mail, saya sedang duduk di selasar area Taman Ismail Marzuki dengan segala kondisi yang saya sukai: semangkok tahu gejrot yang enak ditemani anak kucing berbulu hitam putih yang sangat lincah berlari dan melompat ke sana kemari. Di satu titik yang sama saya merasakan dua gejolak emosi yang berbeda.

Saya kecewa mendapati kegagalan itu, tapi tak berarti hari saya seketika menjadi buruk.

Satu episode putus cinta, kegagalan meraih mimpi, bahkan kehilangan orang terkasih tidak serta merta membuat kita berhak berpikir bahwa tahun ini adalah tahun yang sial. Ada Amin?

Rasanya saya sudah terbuai sedemikian mensyukuri 2018 hingga mengabaikan atau berusaha melupakan bahwa sebenarnya di 2018 ada episode saya menangis merasa tersakiti, ada perasaan tidak berdaya sebab seakan tak punya orang yang bisa diandalkan, dan ada segala pergulatan emosi akibat tak mulusnya jalan hidup.

2018 kita tidak sempurna, begitu pula 2019, ataupun 2029 kelak. Dan itu tidak masalah.



Unsplash.com


Hidup yang tidak sempurna, namun tetap baik bahkan membaik

Barusan kala #10yearschallenge merebak di media sosial, kita mungkin dipaksa mengingat bagaimana kondisi kita atau wajah kita di tahun 2009. Kita tertawa melihat bagaimana kita sudah berubah dan tentunya bagaimana style saat itu rasanya sulit dilogika. Tapi ini uniknya, saya melihat hanya ada dua kemungkinan yang terjadi tentang teman-teman saya: getting better or (at least) staying same.

Saya sendiri tersenyum ketika mengingat bagaimana terbatasnya saya di tahun 2009 sebagai mahasiswa baru dari desa yang menuntut ilmu di Surabaya. Bagaimana untuk makan Hokben saja rasanya harus mengatur keuangan sedemikian. Hari ini, ketika kondisi membuat saya bisa memilih banyak hal (makanan khususnya) dengan lebih leluasa, saya tahu persis bahwa ini berkat Tuhan. Dan kalau 10 tahun sudah terbukti Tuhan menjadikan segalanya baik dan makin baik, apa iya kita layak berasumsi bahwa kesulitan di tahun ini dapat sedemikian hebat untuk membuat kita tergeletak?



Unsplash.com


Khotbah awal tahun yang saya dengarkan membahas tentang kalimat pengutusan, “arahkanlah hatimu kepada Tuhan.” Sebenarnya saya sudah tahu betapa indahnya kalimat ini saat mengedit naskah yang sekilas juga membahasnya. Namun hari itu, kalau sekali lagi saya diingatkan, pastilah bukan sebuah kebetulan.

Mungkin Tuhan ingin saya dan kita semua benar-benar menghidupi satu sikap hati yang mengarah kepada Tuhan. Untuk ingat betul apa yang diserukan di Mazmur 121, bahwa Tuhan yang kita nantikan pertolongannya berkuasa bukan hanya atas kita, manusia, namun atas langit dan bumi. Lah, Dia sendiri Penciptanya! Saat roda suka duka terus berganti, kita tahu bahwa Tuhan tidak ke mana-mana. Tertidur dan terlena saja pun, tidak.

Satu bagian lagu dari Tauren Wells ini saya rasa tepat untuk menjadi seruan kita di sepanjang tahun bahkan sepanjang hidup kita, dan tentunya sebagai penutup tulisan ini. Salam.

 

On the mountains, I will bow my life
To The One who set me there
In the valley, I will lift my eyes to The One who sees me there
When I'm standing on the mountain, didn't get there on my own
When I'm walking through the valley I know I am not alone!
You're God of the hills and valleys!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE