Tiga Sumber Masalah Krisis Kepercayaan Diri Dan Bagaimana Aku Pulih

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 1 Maret 2017
Kata orang, semua laki-laki itu tampan dan semua perempuan itu cantik.

Ah itu klise. Setidaknya menurut saya. Kalimat tersebut kerap sulit dihayati secara personal. Andai saja menerima diri semudah ketik ‘amin’ dan tekan tombol ‘share’ di sosial media, tapi ternyata tidak samasekali.Buktinya, beberapa waktu lalu diberitakan ada seorang laki-laki yang telah menjalani lebih dari 100 operasi plastik untuk memperbaiki penampilannya. 700 juta rupiah ditukar dengan 150 jam rasa sakit yang harus dialami hanya untuk penampilan ideal. Kita mungkin geleng-geleng dengan fakta tersebut. Sayapun juga. Tapi… saya pernah ada di posisi yang sama. Posisi saya memang tidak ekstrim., namun bersumber dari masalah serupa, krisis kepercayaan diri.

Di penghujung melepas usia 23 tahun, saya mengalami sindrom-tidak-penting ini. Cukup parah, agaknya. Keminderan satu per satu tiba, dari soal gigi berantakan, kulit wajah dengan bercak hitam, rambut mengembang, hingga selera fashion yang engga banget. Benar-benar gejolak aneh yang semestinya hadir ketika usia belasan tahun.

Saat titik terendah di masa krisis tersebut, saya mencoba berdamai dan mengintisarikan dengan jernih asal muasal jebakan perasaan tak nyaman ini. Ternyata ada tiga sumber masalah dasar hidup manusia, yang merampas sukacita dari dalam hati. Mengatasinya adalah titik pijak untuk menyelesaikan krisis kepercayaan diri!

 

Tak sehatnya nilai diri, terlalu dijerat standart dunia

Kita tidak bisa memungkiri bahwa media dan pandangan umum menciptakan sebuah konsep tentang kecantikan. "Warna kulit cerah, tubuh kurus, rambut lurus panjang." Begitu pula laki-laki, berdada bidang dan berbadan kekar. Untung-untung jika bisa berjenggot a la Adam Levin atau klimis manis seperti Lee Min Ho.

Padahal, seharusnya, kitatahu persis nilai diri kita.

Ijinkan saya memberi ilustrasi sederhana.

Ada uang seratus ribu rupiah. Baik dalam kondisi kertas lusuh ataupun klimis rapi, nilainya tidak akan berubah. Kenapa demikian? Karena nilainya tidak tergantung penampilan tapi dari si pemberi nilai. Dalam case ini adalah, Bank Indonesia. Begitu pula kita! Nilai diri kita sejatinya ditentukan oleh Sang Pencipta kita. And if we agree and believe that everything that God Almighty made is wonderful, so are we. We will never look down ourselves anymore.

Kejadian 1:36 "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita" menjadi peringatan lantang bahwa dari penciptaan kita sungguh telah dibentuk seturut Gambar-Nya. Melihat diri rendah dan memakan mentah standar dunia bukankah hampir sinonim dengan pengabaian akan kebaikan ciptaan Allah yaitu, kita, manusia. Bahkan tindakan itu adalah penghinaan pada Sang Pencipta!

 

Tak banyak bersyukur, terlalu Banyak Membandingkan

Tidak ada perempuan yang tidak suka dibilang cantik. Tidak ada laki-laki yang tak suka dibilang gagah. Satu yang berbeda adalah tidak semua orang akan menginvestasikan waktu dan uangnya untuk hal itu. Tidak semua perempuan menghabiskan dana untuk bersolek dan tidak semua lelaki menginvestasikan waktu di sasana kebugaran. Dan kabar baiknya, itu tak masalah.

Sayangnya, di era media sosial, kita dengan mudah mengamatihidup (dan penampilan) orang lain. Era ini membuat kitasangat rentan dengan godaan komparasi. Kita menjadikan diri kita seakan sebagai kompetitor orang lain. "Aku harus bisa lebih eksis, lebih cantik. lebih modis". Padahal hidup ini tidak soal kompetisi lho, youth! Memang hidup jaman kini sarat dengan persaingan walau tersamar, namun sejatinya kita tidak diciptakan Allah untuk menjadi ‘lebih’ dari orang lain, kita hanya diminta untuk terus menjadi ‘lebih baik’ dari diri kita sebelumnya.

 

Comparison is the thief of Joy –Roseevelt

Memang benar adanya, kebiasan menilai "rumput tetangga lebih hijau" adalah tak bijak. Untungnya bagian ini disimpulkan dengan apik saat saya bercakap dengan kakak perempuan saya yang kira-kira begini isinya.

"Biarkan orang lain menilaimu tidak keren, biarkan jika bagi mereka kamu tergolong seorang yang ‘kalah’. Tapi yang terutama adalah kamu tahu berharganya dirimu sendiri."

EXACTLY!! Dari obrolan itu, saya mengambil sebuah konklusi. Prinsip "bahagia dengan pilihanmu" adalah rona cantik dan kharisma tampan yang tidak bisa disembunyikan. Tidak boleh berlebih, tapi jangan sampai kurang.

Rona itu membuat kita merasa aman dan nyaman menjadi diri sendiri. Di detik itu kita dapat tersenyum dan berbisik dalam hati: "Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; … jiwaku benar-benar menyadarinya. (Mazmur 139:14)

 

Tak punya orang-orang yang tepat, terlalu banyak suara orang-orang yang nyinyir

`

Suatu siang tak lama dari pergumulan soal krisis kepercayaan diri ini,saya dan kekasih saya makan bersama. Di tengah obrolan saya melemparkan joke sederhana. Tak disangka, dia tertawa dengan begitu lepasnya. Momen itu membuat saya seketika merasa bahwa gigi gingsul, bercak di kulit wajah, dan rambut mengembang is no longer matter. Jangan salah arti, mempedulikan penampilan tetap perlu. Bedanya, saya tidak lagi menjadikan itu sebagai beban hingga membenci diri sendiri.

Penting sekali rupanya memilih orang-orang seperti apa yang kita ijinkan hadir di hidup kita dan membawa pengaruh. Saya hanya cukup beruntung telah memilih dan memiliki kekasih serta kakak saya sebagai influencer di hidup ini. Andai saja saya memilih Awkarin, ah entahlah apa jadinya diri ini. Sekian.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE