Undangan untuk Duduk dan Makan Bersama.

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 17 Oktober 2018
Barangkali jangan ajak kami untuk pembinaan. Ajak saja kami makan dan kami akan ikut dengan visi Anda tanpa perlu ada pemaksaan pada kami.

Kupandang sebuah foto perkumpulan remaja pemuda di tahun 2009 dengan perasaan haru teringat hangatnya komunitas itu. Harus kuakui, aku merindukan mereka, dan ingin rasanya aku menemui mereka, menjabat tangan atau menepuk pundak sembari berkata ‘Tuhan mengasihimu, do your best at your place now!’

Orang di seberang meja makanku tersenyum,

“Dang, kapan kamu kembali kesini dan membangun komunitas kita lagi?”

“Abang! Tahun lalu, Tuhan minta aku meninggalkan kota ini untuk beranjak ke tempat lain. Sudah bukan season-ku lagi untuk ada di sini karena Tuhan minta aku mengerjakan sesuatu di tempat lain. Apa yang aku tinggalkan di komunitas ini biarkan dilanjutkan lewat adik-adikku generasi muda. Aku senantiasa berdoa kiranya Tuhan menguatkan mereka dan memberikan pada mereka berkat berkali lipat dari apa yang aku kerjakan, aku percaya saja apa yang kita tabur, Tuhan akan membuatnya bertumbuh.”

“Jika begitu, tetap kerjakan kebaikan yang kamu kerjakan dan lanjutkan saja. Kuatkan kami, jadilah bagian dari support system bagi kami.”



Photo by rawpixel on Unsplash


Demikian aku menyesap secangkir kopi dan lewat obrolan siang ini, lewat meja makan, kami menceritakan semua pergumulan itu. Ya, sudah dua tahun aku meninggalkan Bekasi dan menuju ke kota besar lainnya. Meninggalkan sejuta kenangan dan kerinduan pada anak-anak muda, berkeliling mengumpulkan sahabat-sahabat lamaku dari ‘Gua Adulam’ masing-masing dan mengajak mereka makan bersama hanya untuk mendengar cerita mereka dan menguatkan mereka. Kali ini, bersama mentor rohaniku di Bekasi.

Sayangnya, aku memang pernah ada di titik dimana aku dan sahabat-sahabat seangkatanku mulai menjadi tawar hati ketika ada di ladang pekerjaan yang baru. Kami kehilangan semangat pelayanan, kami kehilangan waktu untuk dihabiskan bersama. Kami kehilangan anak-anak remaja yang tadinya melayani Tuhan penuh semangat karena mereka kehilangan komunitas atau barangkali karena, sesaknya kehidupan di ibu kota yang dingin membuat mereka juga menjadi dingin. Wajah kami kaku untuk tersenyum, lidah kami terikat untuk mengapresiasi orang lain atau sekadar minta maaf, kami lebih suka judging daripada caring. Banyak dari kami yang mulai kehilangan ‘cinta mula-mula’ pada Tuhan.



Photo by Ramdan Authentic on Unsplash


Mereka berkata hidup orang Kristen itu seperti sebotol minuman soda yang dibuka oleh seseorang di bawah teriknya mentari. Mereka tentunya berharap merasakan sensasi soda itu dan terpuaskan ketika meminumnya. Namun apa jadinya ketika botol minuman soda itu diminum dan isinya adalah air biasa, tawar! Oke, mungkin hari ini aku bekerja mati-matian dalam musim baru di hidupku. Sayangnya, hidupku hambar. Ketika orang lain bersinggungan dengan kekristenanku, mereka tidak dapat mencicipi sensasi pertemuan dengan Kristus karena hidupku hambar. Hal itulah yang sempat kualami. Waktu remaja, waktu pemuda aku boleh jadi on fire dalam melayani Tuhan tetapi hari ini, aku burn out.

Aku teringat dalam suatu perjalananku di masa kuliah di Bandung, aku merasa benar-benar sendirian di masa kuliah. Setiap makan malamku yang biasanya kuhabiskan bersama keluarga dan teman-teman komunitasku, seketika hilang. Aku kesepian, aku sendirian dan aku tawar hati. Namun saat itulah aku merasa Yesus benar-benar duduk berhadapan muka denganku, Ia mengajakku makan bersama-Nya.

Benar, kita tidak pernah berharap terus menerus menghabiskan makan malam sendirian. Benar, kita juga tidak akan pernah menarik orang asing yang tidak kita kenal untuk menemani makan kita. Kita pasti ingin orang yang dekat dan kita kasihi untuk makan bersama-sama dengan kita. Mengapa? Karena makan bersama selalu menandakan keintiman dalam hubungan pada umumnya. Demikianlah Tuhan selalu berusaha menarikku pada-Nya, dan di atas meja makan itu aku menceritakan keluh kesahku pada-Nya. Tentang nilai burukku, tentang hubunganku yang ditolak, tentang terintimidasinya aku soal pendapatanku yang buruk, semua hal kubeberkan di meja makan itu dan Tuhan menyegarkanku dalam segala keluh kesahku.



Photo by Ethan Hu on Unsplash


Tuhan seakan menjawab kegelisahanku dan menuturkan isi hati-Nya padaku ketika aku makan bersama dengan-Nya.

“Tuhan, kenapa aku selalu kecewa dengan kebaikan yang kuberikan pada orang lain yang tak berbalas dan tak memberi dampak pada mereka?”

“Jangan kecewa, tetap lakukan saja karena perbuatanmu yang tulus menentukan respons orang lain padamu bukan sebaliknya. Lakukan bagianmu dan bagian orang lain adalah urusan mereka.”

“Tuhan aku kehilangan tujuan hidupku!”

“Perhatikan kehidupan lebih dekat lagi, lebih luas lagi karena aku akan membawamu berjalan bersama-Ku lebih jauh (jaraknya) tetapi juga lebih dekat (perhatiannya).”

Dan aku perlahan belajar mengerti hati-Nya, hati yang sama yang Ia ajarkan pada Yunus. Betapa Ia sayang pada anak-anak-Nya walau kadang mereka bersalah pada-Nya, hatinya yang begitu luas, begitu lebar, begitu panjang, dan begitu dalam.

Meskipun komunitasku jauh, aku senantiasa merindukan mereka, ingin menguatkan mereka dan setiap aku jatuh cinta pada Tuhan di meja makan itu, aku selalu ingin membagikan cerita tentang-Nya pada rekan-rekanku dengan cara yang sama dengan-Nya membuatku jatuh cinta.

Seorang penatua menanyakan padaku mengapa kaum muda sulit untuk diajak pembinaan, tidak pernah hadir dan aku memberi saran pada mereka,

“Barangkali jangan ajak kami untuk pembinaan. Ajak saja kami makan dan kami akan ikut dengan visi Anda tanpa perlu ada pemaksaan pada kami.”

Generasi ini membutuhkan sebuah ajakan, uluran tangan untuk ‘makan bersama’. Sama seperti sahabat-sahabat kita yang selalu butuh bantuan di manapun mereka berada. Kita perlu menjawab kebutuhan mereka melalui keintiman yang sama seperti Tuhan melakukannya. Kau tidak perlu memaksa kami untuk jatuh cinta! Cukup duduk dan menjadi teman sebangku, kemudian mendengarkanku, maka kau sudah membuatku jatuh cinta.



Photo by Bewakoof.com Official on Unsplash


Aku ingat suatu kali Yesus melakukan hal yang sama pada seorang pemungut cukai bernama Zakheus dalam Lukas 19,

"Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."

Dan BAM! Hari itu Zakeus berubah. Ia merasa diterima dan ia melakukan hal paling radikal yang dilakukan seorang pemungut cukai, melakukan sesuatu yang diluar akal orang banyak.

"Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."

Mari kita coba teman-teman! Mari melakukan hal yang sama seperti yang Tuhan lakukan: ajak seseorang duduk bersama, dengarkan mereka dan hidup mereka juga akan berubah karena mereka juga merasa disapa oleh Yesus sendiri.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE