“Uripi Urup Iku”, Sebuah Prinsip Damai Mengalahkan Keangkuhan Pribadi

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 16 Juni 2017
Tak hanya melulu soal perubahan dalam skala besar. Tetapi juga perubahan dalam skala kecil, bagi diri kita sendiri. Perjuangan kita tak hanya melawan radikalisme, kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, tetapi juga melawan diri sendiri.

Setelah TRP GKI 2017 selesai, sosial mediaku ramai dengan pemuda-pemudi GKI yang begitu bersemangat, berbagi cerita, rencana dan asa pasca TRP. Aku melihat “sumbu” mereka tersulut, persis seperti tema TRP 2017 ini, “Urip Iku Urup” atau “Hidup itu Menyala”. Tentu saja, “sumbu” yang tersulut itu bukanlah amarah kebencian, tetapi semangat yang berkobar-kobar untuk membawa transformasi bagi bangsa ini.

Bersyukur TRP ini bisa dilaksanakan di tengah kondisi bangsa yang sedang carut marut. Aku membayangkan apabila saat ini kondisi Indonesia sedang adem ayem, mungkin saja “sumbu” pemuda GKI tidak akan tersulut. Bersyukurlah, entah karena TRP ini bisa terlaksana, atau bersyukur karena kondisi bangsa yang sedang kacau.

Tujuanku menulis artikel ini bukanlah ingin merangkum kembali isi TRP, karena sudah banyak yang menuliskannya. Aku juga bukan ingin memberikan motivasi panjang lebar tentang bagaimana membawa perubahan bagi bangsa ini, karena mungkin kita sudah kenyang akan hal tersebut. Aku menulis artikel ini agar menjadi penyeimbang bahwa urip itu tidak sekedar urup, tetapi kita juga harus uripi urup iku (menghidupi yang menyala itu).

Apa maksudnya? Sepulang TRP kita sudah punya segudang semangat dan rencana untuk kita bagikan kepada rekan-rekan sepelayanan kita. Kita ingin segera melakukan ini itu, sudah tak sabar membawa perubahan bagi bangsa ini. Di tengah semangat yang menggebu-gebu itu, mungkin kita tak sadar bahwa kita telah menyakiti hati rekan kita. Entah karena tutur kata atau arogansi kita.

Itu hanya satu contoh saja. Mungkin tak hanya rekan sepelayanan kita, mungkin juga tak hanya soal TRP. Bisa saja ada keluarga yang tersakiti, persoalan pekerjaan, atau bahkan tugas kuliah kita. Alih-alih membawa perubahan bagi bangsa ini, kita justru “asik” membawa luka bagi orang di sekitar kita. Sumbu kita mungkin memang terbakar, membuat orang-orang yang jauh di luar sana dapat melihat terang kita. Tapi tanpa kita sadari, api kita justru membakar dan membawa luka bagi yang ada di dekat kita.

Inilah yang aku maksud dengan “Uripi Urup Iku”.

Api yang berkobar-kobar itu harus kita hidupi dengan sungguh-sungguh agar tidak membawa bencana bagi mereka yang ada di dekat kita.

Perubahan yang ingin kita bawa bagi bangsa ini harus berjalan berdampingan dengan perubahan hati dan sikap. Mungkin kita harus belajar bersabar, rendah hati, memaafkan dan belajar bahwa setiap orang tidak sempurna. Dan masih banyak kemungkinan lain yang menjadi PR besar kita selepas TRP ini. Tak hanya melulu soal perubahan dalam skala besar. Tetapi juga perubahan dalam skala kecil, bagi diri kita sendiri. Perjuangan kita tak hanya melawan radikalisme, kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, tetapi juga melawan diri sendiri.

Dalam Amsal tertulis, “Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati menerima pujian.” (Amsal 29:23). Ego dan keangkuhan seringkali yang menjadi penyebab kita menyakiti orang lain. Kita begitu berambisi memenuhi keinginan ego, entah supaya dipuji, atau merasa bangga. Kita sampai lupa, di tengah ambisi itu, kita menyakiti orang-orang lain. Lawanlah ego kita itu! Lawanlah kesombongan itu. Kita lawan dengan menjadi rendah hati supaya bisa lebih menghargai orang lain. Dengan kita tak mengharapkan pujian, pujian itu akan datang sendiri. Sekalipun pujian itu mungkin tak datang dengan tepuk tangan atau kata-kata indah, melainkan dia bisa saja datang melalui senyuman orang yang kita kasihi.

Artikel ini kututup dengan sebuah puisi singkat

Seribu aksi
Tak akan berarti
Apabila kita saling membenci
Dan menyakiti

Seribu aksi
Menjadi berarti
Apabila kita saling mencintai
Dan mengasihi

Seribu aksi
Akan terbukti
Apabila mereka tak mati
Dalam luka di hati

Seribu aksi
Membawa bukti
Apabila kita menjadi
Pembawa-pembawa damai
Di bumi pertiwi

Selamat membawa perubahan
Bagi bangsa
Dan diri sendiri

Bus Semarang-Jogja, 21 Mei 2017

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE