Valentine Rabu Kelabu

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 23 Februari 2018
Di tengah euforia itu, seberapa banyak dari kita yang mengingat cinta Tuhan saat hari Valentine?

Tepat di tanggal ini dua perayaan besar terjadi. Pertama, hari yang mungkin dinanti-nanti oleh banyak anak muda, yaitu Valentine’s Day. Hari di saat orang-orang berlomba menyatakan rasa kasihnya kepada sesama, khususnya lawan jenis. Memang setiap tahun Valentine’s Day dirayakan pada tanggal 14 Februari. Kedua, adalah Rabu Abu. Hari dimana umat Kristiani di seluruh dunia diajak untuk merenungkan dan menyadari keberdosaan kita, hingga hanya Allah sendiri yang dapat menolong kita. Hari ini juga menandai dimulainya masa prapaskah serta masa pantang dan puasa. Rabu Abu tahun ini secara kebetulan diadakan pada tanggal 14 Februari 2018 silam.

Mungkin sebagian orang hanya mempedulikan salah satu perayaan saja dan mengabaikan yang lainnya. Selama ini Valentine’s Day dikenal dan dirayakan sebagai hari kasih sayang. Perasaan Kasih itu sendiri dapat diperuntukkan pada orang tua, teman, saudara, sahabat, dan pasangan. Karena begitu erat kaitan Valentine’s Day dengan hubungan romantis lawan jenis, banyak anak muda yang berlomba-lomba memberikan kado, coklat, bunga, bahkan menyatakan perasaannya pada orang yang mereka sukai. Baik orang yang mendapatkan perhatian lebih maupun orang yang cintanya terbalas akan merasa bahwa Valentine mereka sukses dan menyenangkan. Namun, bagaimana dengan orang yang merasa tidak mendapatkan perhatian khusus dari lawan jenis, atau mereka yang pernyataan cintanya ditolak? Sebagian besar dari mereka akan merasa bahwa hari Valentine mereka gagal dan tidak bermakna.


Photo by Andrew Neel on Unsplash

Di tengah euforia itu, seberapa banyak dari kita yang mengingat cinta Tuhan saat hari Valentine? Apakah kita hanya menyadari kasih Tuhan hanya ketika kita berhasil meraih apa yang kita harapkan dari Hari Valentine? Atau kita sama sekali tidak mengingatnya? Atau justru kita menyalahkan Tuhan ketika ekspektasi kita mengenai Hari Valentine tidak terwujud?

Tuhan kita adalah Tuhan yang amat penuh kasih. Ia sudah mengenal dan mengasihi kita sejak kita belum mengenal dunia ini. Bahkan Ia dengan rela mengaruniakan putra-Nya yang tunggal untuk menjadi tebusan dan jaminan keselamatan bagi kita. Khususnya melalui Rabu Abu kita diingatkan mengenai betapa berdosanya diri kita. Namun, meskipun kita berdosa, Tuhan tetap menyediakan pengampunan ketika kita mau bertobat. Ini mengingatkan kita pada kasih Allah yang besar. Namun, seringkali kita melupakan sosok Tuhan yang telah terlebih dulu mengasihi kita sebab terlena dengan gambaran keren dari cinta di dunia. Terkhusus 14 Februari lalu, banyak yang terlalu mendamba-dambakan valentine yang sempurna daripada Rabu Abu yang bermakna. Kita terlalu berharap bahwa akan ada orang yang mencintai kita, namun kita lupa akan Tuhan yang selalu mencintai dan menerima kita apa adanya. Kita terlalu ngotot mencari pasangan hidup, namun kita lupa pada kesetiaaan Allah pada kita. Padahal, pengharapan yang diletakkan pada Tuhan adalah sauh yang aman dan kuat bagi jiwa kita, namun seringkali kita meletakkan pengharapan kita pada perkara yang tidak pasti. Segala sesuatu yang Allah rancangkan itu adalah rancangan yang penuh damai sejahtera, namun seringkali kita tidak cukup sabar dalam menanti Tuhan mewujudkan rancangan-Nya dalam hidup kita.

Selain itu, tidak ada manusia yang dilahirkan tanpa keinginan mencintai dan dicintai. Namun, dunia begitu mengagung-agungkan cinta pada sesama, dan celakanya secara tidak sadar kita juga sering terpengaruh. Kita memberikan coklat pada teman kita, tetapi persembahan pada Tuhan saja tidak kita berikan. Kita berusaha selalu ada saat sahabat membutuhkan, tetapi menolak ketika diminta untuk melayani. Kita mencintai pacar kita, tetapi merenungkan Firman Tuhan hanya sesekali. Memang Tuhan meminta kita untuk mengasihi sesama, namun usaha kita untuk mengasihi sesama tidak seharusnya melebihi usaha kita dalam mengasihi Allah (Matius 22:37-39).


Photo by Cassidy Kelley on Unsplash

Dunia juga begitu mengagungkan cinta pada lawan jenis, seringkali kita merasa gengsi dan tertekan apabila kita tidak memilikinya dan menyebabkan anak muda berlomba-lomba menarik perhatian lawan jenis. Tidak salah memang. Namun, ketika itu dijadikan hal yang paling utama, jelaslah mengecewakan dan kurang tepat. Apalagi, tak sedikit dari kita yang dalam memilih lawan jenis kita hanya mendasarkan pada keinginan dan rasa suka kita. Kita tidak membawa ia yang kita sukai kepada Tuhan. Bahkan, kerap kita memaksakan kehendak kita untuk memiliki seseorang tanpa peduli apa kata Tuhan. Padahal jelas Tuhan meminta kita untuk mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan Tuhan tambahkan pada kita. Sehingga, kita seharusnya belajar untuk mencintai dan mengenal Tuhan dengan sungguh dahulu sebelum kita belajar mencintai lawan jenis. Jadikan Allah sebagai dasar, pedoman, dan tujuan dalam pencarian, pergumulan, dan hubungan kita dengan lawan jenis.

Akhir kata, Hari Valentine bukanlah hari yang haram untuk dirayakan. Namun, penting untuk belajar agar lebih bijak dalam merayakan momen 14 Februari. Tidak hanya sampai di sini, namun juga lebih bijak dalam memilih dan berhubungan dengan orang lain.

Selamat memasuki masa prapaskah dan selamat merayakan hari kasih sayang!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE