Welcome to The Island of The Misfit Toys! Part 01

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 03 September 2018
10 September 2018 adalah Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia. Berikut adalah cara-cara sederhana untuk menjadi sahabat bagi mereka yang tinggal di dalam himpitan pikiran kelam, dengan gundukan luka, lara, perilaku destruktif, serta kecenderungan bunuh diri.

Di laci meja belajar saya, tersimpan puluhan eulogi* yang terlipat rapi di dalam amplop-amplop putih. Lusuh, karena sudah ditimbun begitu saja sejak delapan tahun lalu. Mereka otomatis menjadi harta karun di antara onggokan benda-benda kecil tak berkesan seperti peniti, jepit rambut, bungkus sedotan Chatime yang malas saya buang ke tempat sampah, sketsa-sketsa di kertas bergaris hasil kebosanan saat rapat gereja, struk belanjaan, bolpen dan spidol kering gara-gara tutupnya hilang, mentos aneka rasa yang sepertinya sudah lama kadaluarsa, dan barang lain yang ditakdirkan untuk dilupakan.

Eulogi pertama saya ditulis saat saya berumur 14 tahun untuk sahabat yang meninggal karena bunuh diri.

Saya marah. Marah ke keluarga sahabat yang menciptakan neraka sedemikian rupa di tempat di mana ia harusnya dapat pulang dan berteduh, marah kepada teman-teman dan lingkungannya karena pelan-pelan membunuh sahabat dengan perkataan yang dipikir pakai dengkul, marah ke diri sendiri karena saya mengabaikan miscallnya di siang hari itu, bahwa ternyata saya adalah orang terakhir yang ia coba untuk hubungi dan ia mungkin masih bernafas saat ini jika saya cukup berani untuk kehilangan lima menit kelas Sejarah demi mengangkat telepon darinya.



Photo by Annie Spratt on Unsplash


Hari itu, saya merasa bertambah umur empat puluh tahun. Tua, lelah, penat, berat, dan kekenyangan perasaan bersalah. Sejak saat itu pula, saya mulai menulis eulogi untuk orang-orang terdekat. Persiapan jika suatu hari tiba-tiba mereka dijemput Tuhan. Persiapan jika saya kembali gagal ‘menyelamatkan’ orang terkasih. Sebuah bentuk keegoisan mutlak, demi saya yang benci kejutan dan hal-hal lain yang terjadi tanpa aba-aba.

Lhadalah, beban sebanyak itu lama-lama berbuah juga. Pengalaman tersebut menjadi salah satu dari banyak faktor saya didiagnosa Major Depressive Disorder dan Panic Disorder. Setelah memutuskan untuk terbuka tentang kondisi saya, mulailah berdatangan kisah-kisah pilu dari kawan-kawan yang mengalami hal sama, yang lalu membuat saya sadar bahwa sahabat saya bukan orang terakhir yang akan memutuskan untuk mengakhiri hidup. Juga, bahwa saya juga bukan satu-satunya yang rajin dikunjungi beragam pikiran gelap.

Pertanyaan yang sering saya dapatkan adalah, “Steff, temanku bilang mau bunuh diri. Aku harus apa?” Pernah berada di kedua posisi berbeda ini (ditinggal bunuh diri dan berpikiran untuk bunuh diri) mudah-mudahan memberikan saya cukup bekal untuk berbagi cara-cara kecil buat menjadi kawan bagi mereka yang hidup dalam himpitan pikiran kelam. Cekidot.


Listen and Believe

Orang yang bergulat dengan pikiran destruktif akan mengatakan (dan melakukan) hal yang mungkin buat kamu nggak masuk akal. “Aku ga punya tenaga buat bangun dari kasur” atau bagaimana ia masih super sedih karena insiden kecil dua minggu lalu. Ada yang sungguh-sungguh merasa diri buruk walaupun orang lain melihat dia sebagai sosok yang luar biasa. Bagaimana mereka bisa tampak begitu down saat lima menit lalu masih bisa ketawa-ketiwi. Respons otomatis pasti bertanya, “kamu kenapa?”. Namun cobalah untuk selalu mengingat bahwa pertanyaan tersebut sepatutnya dilontarkan karena kamu peduli, nggak hanya sekedar penasaran, yang berarti respons berikutnya adalah belajar untuk percaya.

Karena saya tahu betapa sulitnya memahami kami. Sebuah pekerjaan rumah yang berat untuk merasionalisasi usaha menyakiti diri oleh seorang aktivis gereja, atau bagaimana kawanmu yang biasanya ceria bisa tiba-tiba histeris saat berada di tengah keramaian. Dan ya emang gausah dipaksakan kalo nggak pernah ada di posisi itu, gengs. It’s completely okay. Nah, jadi masalah saat lalu meremehkan pain yang mereka alami. Sudah cukup stigma masyarakat yang doyan ngelabelin “kurang iman”, “gak bersyukur”, “dasar baperan”, “gitu aja nggondok”, “kurang piknik", dst dsb dll yang semakin memojokkan dan bikin rajin menyalahkan diri sendiri. Ketakutan terbesar kami adalah jadi beban untuk orang-orang yang dikasihi. Sehingga saat kawanmu akhirnya berhasil merogoh keberanian untuk terbuka, sesungguhnya yang dibutuhkan hanya telinga untuk mendengar dan hati untuk menerima.



Photo by Bewakoof.com Official on Unsplash


Memvalidasi pergumulannya, bahwa semua luka yang ia tanggung dan rasakan nyata adanya, bukan diada-adain, ataupun bentuk lebay belaka adalah langkah awal untuk membantunya pulih. “You’re not okay, and it’s okay. I don’t understand your pain, but i’m here for you”.

Merayakan pencapaian-pencapaian seperti berhasil melewati semester perkuliahan yang berat, menyelesaikan deadline tepat waktu, bahkan yang sederhana seperti mencoba hobi baru juga dapat mendorongnya untuk menjalani hari dengan positif.


Always Ask. Never Assume.

IntothelightID.org mencatat salah satu hal yang haram dilakukan kepada orang-orang dengan kecenderungan bunuh diri adalah melemparkan asumsi tentang mereka. Hal ini termasuk “meremehkan bahwa ucapan kematian, tidak ingin dilahirkan, merasa terperangkap, merasa tidak ada masa depan, atau hendak tidur selamanya sebagai ucapan yang main-main.”

Komunitas agama (surprise surprise) justru kerap menjadi ‘hakim’ nomor satu. Asumsi-asumsi bahwa kami cuma butuh lebih banyak berdoa dan baca kitab suci membuat perilaku menyalahkan diri sendiri berkembang biak dengan liar. Komentar seperti itu yang dulu sering bikin saya marah ke Tuhan karena lha kayaknya saya sudah rajin berdoa, rajin pengakuan dosa, rajin pelayanan, tapi kok ya kepala ini masih berat dan gelap.



Photo by Jordan Bauer on Unsplash


Nah, kawula muda, daripada berasumsi seenak udel, jauh lebih baik untuk bertanya, ya gak? Daripada berasumsi dia butuh lebih sering ke gereja, dicekoki comotan ayat alkitab, atau piknik, bertanyalah. Bertanya apa yang sebenarnya ia rasakan, bertanya apa yang sebenarnya ia butuhkan, “Do you want to talk about it? Would you like to go hang out with me? Do you need some space? Would you mind if I pray for you?”


*Eulogi adalah pidato atau ucapan atau tulisan yang memuji atau menghormati seseorang, terutama yang sudah meninggal dunia


Baca bagian selanjutnya:

Welcome to The Island of The Misfit Toys! (Part 02)

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE