Welcome to The Island of The Misfit Toys! Part 02

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 03 September 2018

It’s Not About You

Saya bersyukur dianugerahi teman-teman yang luar biasa suportif dan pengertian. Yang selalu membuat saya merasa saya nggak sendiri menghadapi ini. Namun ada satu pengalaman yang cukup menohok dan masih teringat jelas di kepala. Saat seseorang yang sempat saya sebut sahabat tiba-tiba mengungkapkan kemarahannya karena ia sudah merasa berusaha dengan keras untuk membuat saya merasa lebih baik tapi saya sendiri sering terlihat down saat bersama dia. Ia kesal karena merasa usahanya sama sekali tidak dihargai, bahwa saya enggan memilih untuk bahagia.

Jadi gini, seringkali kekambuhan tuh ga kenal waktu dan tempat, geng. Dan justru sering nggak ada hubungannya dengan orang-orang yang sedang bersama kami saat itu. Salah satu simtom depresi adalah obsessive thinking. Potongan-potongan memori dan suara-suara sering muncul dan berganti dengan kilat. Susah njelasinnya. Satu-satunya analogi yang paling mendekati adalah otak kayak dikerubungi semut. Jadi saat tiba-tiba pusing, kesal, dan sedih, percayalah ini bukan gara-gara kalian. Juga bukan pilihan kami untuk menjadi depresi, kena serangan kecemasan, atau bahkan tiba-tiba ingin berhenti hidup. Nggak perlu merasa bersalah atau gagal apalagi menyalahkan. IntothelightID memberikan sedikit tips tentang ini:


“Menyadari bahwa perilaku manusia sangat dinamis dan sulit diperkirakan, terutama jika Anda bukan ahli dalam bidang ini. Menerima keterbatasan ini membantu Anda untuk melakukan yang terbaik namun juga bersiap untuk menerima apapun yang terjadi. Kendati kita adalah orang yang membantu mereka, namun kita perlu menyadari bahwa kita juga seorang manusia biasa. Ada kalanya kita juga sedang lelah atau juga memiliki masalah. Maka dari itu, pastikan kita sedang dalam kondisi baik ketika menghadapi mereka. Apabila kita merasa tidak sanggup, lebih baik sampaikan dengan baik-baik bahwa kita sedang tidak dapat membantu mereka. Sebagai alternatif lain, kita bisa meminta mereka untuk menghubungi orang lain yang ia juga percaya atau berikan kata-kata pemberi semangat”



Photo by KE ATLAS on Unsplash


Friends of The Misfit Toys

“The Perks of Being A Wallflower” adalah salah satu film yang nggak akan pernah bosan saya tonton. Charlie (Logan Lerman) menderita gangguan jiwa dengan simtom halusinasi dan black out, buah dari pelecehan seksual saat masih kecil ditambah perasaan bersalah setelah bibinya tewas dalam kecelakaan lalu lintas dalam perjalanan mengantarkan kado ulang tahunnya. Terkucilkan, kerap jadi korban rundungan, dan rendah diri. Hingga ia bertemu lalu bersahabat dengan Patrick (Ezra Miller) dan Sam (Emma Watson), seniornya yang berjiwa bebas dan tak pernah menghakimi Charlie meskipun ia kerap dipandang aneh.

Salah satu dialog yang paling saya ingat adalah saat Sam mengajak kawan-kawannya mengangkat gelas untuk Charlie, setelah Charlie berjanji untuk menyimpan rahasia terbesar Patrick dan tidak sengaja bercerita tentang kehilangan terpahit atas sahabatnya yang bunuh diri beberapa hari sebelum sekolah menengah mulai.



whicdn.com


“Charlie, welcome to the island of the misfit toys” ujar Sam.

Ekspresi Charlie menanggapinya dengan sebuah senyuman kebahagiaan yang bersahaja. Kelegaan atas anugerah komunitas yang akan menerimanya apa adanya, bahwa ia akhirnya menemukan tempat bersandar, tempat untuk singgah dan berlabuh.

Referensi kalimat Sam berasal dari tayangan kartun Natal stasiun televisi NBC pada tahun 1964 berjudul "Rudolph the Red Nosed Reindeer". Island of the misfit toys adalah tempat dimana Santa Claus meninggalkan mainan-mainan yang rusak, tidak sempurna, atau dianggap tidak cukup baik. Namun, pada akhir cerita Santa menemukan rumah untuk setiap mainan dengan anak-anak yang mencintai mereka seutuhnya.

When I think about Jesus, I think about perfect love. I think about endless, unconditional, everlasting love. Itu Yesus lho ya. Tentu sebuah cita-cita yang muluk-muluk buat sebiji manusia seperti saya. Yakali. Namun setidaknya kita bisa berjuang demi secuil kekuatan untuk mengasihi sebesar itu, setuju?



Photo by John Reign Abarintos on Unsplash


Saya rindu mengasihi dengan bebas. Bebas dari ekspektasi, bebas dari harapan untuk dikasihi balik seturut yang saya inginkan alias pamrih, bebas dari asumsi, bebas dari tenggat waktu dan batas kesabaran, bebas dari ketakutan dianggap ini itu, takut tidak punya hati yang cukup luas untuk mengasihi tanpa batas, takut harus menulis eulogi-eulogi lainnya. Saya rindu mengasihi tanpa banyak basa-basi. Dan kalau hanya dengan mendengar, menangis tertawa bersama, serta berbagi peluk diiringi doa bisa melumat sebongkah dua bongkah pilu di dada dan kepala kawan-kawan kita, then what are we waiting for? Bukankah itu awal dari perjuangan yang baik?

Dan untuk kamu yang sedang sesak dengan luka dan beban hati, jangan cemas. Percayalah kamu nggak sendiri. Beneran dah. Ntar kita ngobrol-ngobrol yak!


Also remember, there’s always a home for every misfit toys :)


Referensi:

https://www.intothelightid.org/2017/07/21/apa-yang-harus-dilakukan-jika-rekan-anda-memiliki-kecenderungan-bunuh-diri/

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE