Yusuf, 'Move on’ dan Masa Lalu

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 22 Oktober 2018
Melalui pengampunan, Yusuf telah bebas dari jerat kepahitan, kebencian, dendam dan dengan leluasa dapat membantu dan mengasihi mereka yang pernah menyakitinya.

Move on merupakan hal yang sulit bagi sebagian orang, terutama dari kisah yang buruk. Misalnya saja mengalami bullying oleh teman semasa sekolah.

Saya sempat mengalami bully semasa SMA. Sampai puncaknya pada acara wisuda, saya tidak mengundang orang tua karena merasa tidak layak bagi mereka untuk menghadiri acara wisuda anak yang paling tidak punya teman di sekolah.



Sampai-sampai saya memilih untuk langsung berganti pakaian, hapus make up dan pulang, tidak beramah tamah dengan teman dan guru. Tetapi Puji Tuhan saya berhasil move on dan di kampus saya sekarang berpartisipasi menjadi mentor untuk mengenalkan mahasiswa baru kepada ‘rumah kedua’ mereka.

Pengalaman ini membuat saya mengakui bahwa memang sedikit banyak kita adalah produk dari masa lalu kita. Apa yang kita sukai, benci, hindari, dekati dan hargai merupakan campuran dari berbagai pengalaman masa lalu kita.

Namun, tidak boleh berhenti disana. Kita juga harus ingat bahwa ketika Kristus mati bagi dosa kita, maka Ia membayar semua dosa kita termasuk dosa masa lalu kita. Namun seringkali kita masih sulit untuk lepas dari jerat masa lalu, kenyataannya kita masih saja diliputi rasa bersalah, malu, menyesal, dan marah ketika mengingatnya. Ini merupakan tanda kita masih belum ‘move on’ dengan masa lalu.



pexels.com


Mau tahu mengapa kita seringkali belum ‘move on’ terhadap masa lalu? Check this out!

1. Malu terhadap masa lalu
Rasa rendah diri, terhina, tidak enak hati kerap muncul ketika membicarakan masa lalu. Yang bisa saja disebabkan oleh kesalahan yang dilakukan atau pengalaman memalukan di masa lalu. Seringkali pengalaman masa lalu ditutupi agar orang lain tidak dapat mengetahuinya.

Rasa malu terus menerus berkembang jika terus menerus disembunyikan. Cara untuk menyembuhkannya yaitu dengan cara membawanya di bawah terang kebenaran.

2. Menyesali sesuatu di masa lalu
Ini merupakan perasaan di mana kita merasa tidak senang, kecewa, dan diliputi rasa bersalah ketika kita mengingat masa lalu. Perasaan ini diikuti dengan keinginan dan usaha untuk memperbaiki atau mengubah masa lalu, yang umumnya sangat menyiksa, karena di salah satu sisi kita ingin mengubah masa lalu, tetapi di sisi lain kita sadar bahwa tidak dapat mengubah masa lalu. Hal tersebut biasa terjadi karena kesalahan yang kita lakukan atau tidak melakukan sesuatu.

3. Dendam ketika mengingat masa lalu
Rasa ingin membalas dendam itu lahir karena belum melepaskan pengampunan. Dendam dan terluka adalah dua hal berbeda. Ketika kita disakiti atau diperlakukan tidak adil, pada saat itulah kita sakit hati dan terluka. Sekalipun berusaha mengampuni tetapi itu butuh waktu. Sakit hati bukan dendam karena dendam timbul disebabkan oleh keinginan untuk membuat orang yang menyebabkan terluka mengalami hal yang sama. Perbedaannya adalah keinginan untuk membalas.



Ada beberapa cara ‘move on’ dengan masa lalu. Pertama, dengan menerima masa lalu.
Masa lalu merupakan bagian dari hidup kita. Menolak masa lalu tidak akan membuatnya terlepas, tetapi akan membuat semakin terjerat di dalam masa lalu, sulit menghidupi masa kini dan susah membangun masa depan. Juga tidak mengabaikan rasa sakit yang ditimbulkan pengalaman pahit, malah akan membuatnya bertahan lama dan menghantui kita.

Seperti Yusuf yang menerima masa lalunya (Kejadian 45:4), tidak menolak kenyataan bahwa saudara-saudaranya pernah menjualnya ke tanah Mesir. Memang sulit, tetapi jika tidak dilakukan, kita akan terus bergelut dengan pemikiran kita.

Kedua, kita perlu mengakui perasaan secara jujur.
Mari akui bahwa seringkali kita membohongi perasaan kita, karena manusia umumnya menolak melihat ke belakang dan merasakan penderitaan masa lalu. Berbeda dengan Yusuf (Kejadian 45:2) yang menangis ketika memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya.
Banyak dari kita meminimalkan dan merasionalkan kesalahan orang agar kita tidak terluka. Tetapi Yusuf tidak melakukan itu. Ia malah mengakui yang dilakukan saudara-saudaranya adalah kesalahan yang disengaja (Kejadian 50:20). Ini penting untuk next step yaitu pengampunan.

Ketiga, dengan melepaskan penderitaan melalui pengampunan.
Banyak orang berpikir bahwa pengampunan hanya akan berguna bagi orang yang diampuni dan bukan bagi orang yang mengampuni. Ini keliru sebab pengampunan akan membebaskan yang mengampuni dari masa lalu. Itulah yang dilakukan Yusuf. Ia bebas dari jerat kepahitan, kebencian, dan dendam, sehingga ia leluasa untuk membantu dan mengasihi mereka yang pernah menyakitinya.



Photo by Bobby Rodriguezz on Unsplash


Terakhir, namun yang tak kalah penting. Kita perlu memberi diri bekerjasama dengan Allah untuk menjadi berkat. Yusuf bisa saja menghancurkan saudara-saudaranya melalui kemarahannya. Tetapi sebaliknya, Yusuf bekerjasama dengan Allah memberkati keluarganya (Kejadian 50:20). Bekerjasama dengan Allah untuk memberkati orang yang menyakiti kita sangatlah mustahil. Jika Yusuf bisa maka kita pun bisa. Bekerjasama dengan Allah untuk menjadi berkat bukan berarti mengabaikan kejahatan, atau meminimalkan pelanggaran mereka, tetapi melawan keinginan untuk membalas dan kebencian dengan melakukan kasih dan kebaikan.

“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Lukas 6:27)
Let’s us move on, guys!

“Tuhan tidak akan membuang masa lalu saudara yang menyakitkan, Dia akan menggunakannya untuk membentuk masa depan saudara yang penuh kebahagiaan”
Phillips Brooks (1835-1893)

Referensi: Gaya Hidup Kristiani “Core: Maturity II”: Lesson 6, Ministry of Education, Rehoboth Community , Bandung, 2018

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE