A "KAIROS" in the KRONOS

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 14 Januari 2019
Tanpa perjumpaan itu, hidup menjadi sesuatu yang kering

Sebuah refleksi atas Injil Lukas 2:21-35

Bangun pagi, berangkat ke kampus, makan, dan tidur adalah rutinitas yang pasti kita jalani secara otomatis. Namun, berbeda halnya jika pada suatu hari, di tengah padatnya pelajaran di sekolah misalnya, ada seorang teman yang berniat untuk menraktir makan siang kita. Tentu, hal tersebut akan menjadi sebuah momen khusus yang mungkin akan kita ingat setidaknya untuk beberapa hari. Ada kalanya bahkan kita mengharapkan teman tersebut kembali melakukan hal yang sama, tetapi momen itu ternyata tak kunjung datang. Memang begitu yang disebut sebuah kesempatan. Kadang kala, ia tidak datang dua kali. Maka, menjadi sebuah hal yang tepat jika kebudayaan Yunani memiliki tiga istilah untuk menunjukkan sebuah “waktu” :

Chronos : Istilah ini dipakai untuk menunjukkan sebuah waktu yang berulang, lumrah terjadi, atau biasanya sudah menjadi sebuah kebiasaan (rutinitas).

Kairos : Istilah yang menunjukkan waktu-waktu tertentu sebagai suatu kesempatan karena memiliki momen yang berharga yang belum tentu dapat terulang.

Aion : Istilah untuk menunjukkan waktu yang tanpa batas (merujuk pada kekekalan).

Berangkat ke sekolah adalah sebuah chronos tetapi tidak menjumpai kemacetan di sekitar jam-jam padat mungkin adalah sebuah kairos. Tidur adalah sebuah chronos tetapi mimpi indah adalah sebuah kairos. Begitulah kairos, ia hadir di tengah-tengah chronos seperti apa yang disaksikan dalam Injil Lukas 2 : 21-35.



Photo by Julie Johnson on Unsplash


Sudah menjadi suatu kebiasaan bagi orang Yahudi untuk menjalani beberapa tradisi keagamaan, termasuk bagi mereka sepasang suami-istri yang sedang hangat-hangatnya memadu cinta dalam ikatan perkawinan dan sedang sangat berbahagia karena dikaruniai seorang anak.

Menurut yang tertera dalam kitab Imamat, seorang anak yang baru dilahirkan ketika genap usianya delapan hari harus menjalani penyunatan sebagaimana sunat menjadi sebuah tanda pengingat akan perjanjian yang dilakukan Allah dengan Abraham, nenek moyang mereka. Selain itu, jika anak yang baru dilahirkan adalah seorang anak sulung, maka anak sulung yang seharusnya dipersembahkan bagi Allah itu harus ditebus dengan korban setelah genap masa pentahiran yang harus dijalani sang ibu, kira-kira 33 hari setelah penyunatan.

Sebagai seorang manusia yang lahir di keluarga Yahudi, Yesus pun harus menjalani serangkaian tradisi itu. Namun, peristiwa yang mungkin dinilai oleh keluarga Yusuf sebagai sesuatu hal yang biasa dan lumrah terjadi ini, justru direspons secara berbeda oleh seseorang yang bernama Simeon yang hadir di tengah-tengah upacara penebusan anak sulung yang harus dilakukan Yusuf dan Maria kepada Yesus di Bait Allah.



Photo by David Sinclair on Unsplash


Keterangan Alkitab menyaksikan Simeon sebagai seorang yang saleh dan benar. Kepadanya telah dinyatakan bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias. Tak ada keterangan yang menunjukkan ia sebagai seorang imam, tetapi kemungkinan ia adalah seorang yang telah lanjut umurnya. Keterangan lainnya yang mungkin memengaruhi cerita menjadi sebuah momen yang dramatis adalah saat ia datang ke bait Allah oleh Roh Kudus (directed by the Spirit).

Pimpinan Roh Kudus yang menggerakkan Simeon hadir ke bait Allah membuat hari itu menjadi momen khusus bagi Simeon karena Allah menggenapi janji-Nya. Ia bertemu dengan Yesus Kristus sebagai sosok Mesias yang telah Allah janjikan. Ia tentu sangat bersukacita. Oleh sebab itu, Simeon merespons pertemuan itu dengan menatang Yesus di gendongannya sambil memuji Allah. Dalam pujiannya, ia merasakan damai sejahtera. Damai sejahtera yang sifatnya bukanlah sementara, tetapi kekal. Untuk itu, dalam damai sejahtera yang telah ia peroleh, ia dapat dengan berani berkata : “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi…” (ay. 29).

Pergi yang dimaksud bukanlah sekadar kembali ke tempat tinggalnya. Tetapi, kembali ke haribaan Sang Khalik! Perjumpaannya dengan Yesus adalah sesuatu yang berharga sehingga perjumpaan itu menghantar Simeon untuk melihat hidupnya sebagai sesuatu yang lebih berharga daripada perjumpaan itu sendiri. Kini, ia telah menemukan arti penantiannya bahkan arti hidupnya! What a kairos in the chronos!



Photo by Dennis Ottink on Unsplash


Tentang tahun yang baru berganti

Momentum datangnya 2019 yang baru saja kita rayakan (atau mungkin euforianya masih ada) bisa saja hanya menjadi sebuah chronosapabila dilewati tanpa hati yang berefleksi. Momentum tahun baru bisa terlewat begitu saja tanpa Roh Kudus yang "men-direct" kita ke dalam perjumpaan dengan Kristus.

Tahun baru menjadi sebuah kairos bukan karena resolusi yang kita punya, tetapi lebih dalam dari itu, tahun baru menjadi sebuah kairos ketika Kristus terlibat dalam pengalaman hidup kita, menjumpai kita dalam ketegangan peziarahan hidup. Perjumpaan itu membuat cara pandang bahkan hidup kita diubahkan seutuhnya karena dalam perjumpaan itulah, ada damai sejahtera yang kita nikmati. Damai sejahtera yang bukan hanya membuat kita dengan tenang menjalani hidup, tetapi damai sejahtera yang membawa kita pada kesadaran akan arti hidup sendiri.

Arti hidup di dalam Dia yang memberi harapan kekal di tengah kefanaan hidup. Damai sejahtera itu juga membuat kita punya keyakinan iman yang akhirnya menyadarkan bahwa perjumpaan dengan Kristus sendiri adalah hal yang lebih indah dan berharga daripada hidup itu sendiri. Tanpa perjumpaan itu, hidup menjadi sesuatu yang kering. Tanpa perjumpaan itu, hidup menjadi sesuatu yang membosankan karena hanya bergelut dengan ketidakpastian yang kerap meredupkan pengharapan.



Photo by Christian Escobar On Unsplash


Oleh sebab itu, dalam euforia tahun baru yang mungkin masih ada, hendaknya kita tidak terlarut dalam waktu yang berjalan begitu saja. Biarlah Kristus yang kelahiran-Nya kita rayakan beberapa minggu yang lalu juga benar-benar hadir dalam hati kita. Di dalam kehadiran-Nya, Ia memberikan gairah, harapan dan makna hidup yang baru bagi kita yang menjalani 2019 ke depan dalam kemisteriusan yang terkadang membuat diri merasa tertantang. Namun, tak jarang membuat diri merasa jenuh, putus asa bahkan memutuskan untuk berhenti melangkah lebih jauh.

Di dalam Kristuslah, kita menemukan sebuah keberanian menghadapi misteri itu dalam sebuah keyakinan: "lebih baik aku berjalan dalam gelap bersama Kristus di dalamnya daripada berjalan dalam terang tetapi tanpa Kristus".

Hanya Roh Kudus yang membuat kita dapat berjumpa dengan Kristus yang mengubahkan hidup!

Selamat berziarah! Selamat menemukan kairos dalam chronos!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE