Adam dan Hawa di Era Milenial

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 3 Maret 2019
Pria dan wanita harkat dan martabatnya setara. Tuhan tidak memandang suatu gender atau golongan lebih mulia atau lebih rendah dari yang lain.

Pada kisah penciptaan (Kejadian 1-3), Tuhan telah menciptakan kita sebagai laki-laki dan perempuan dengan peran yang Ia berikan sesuai kodratnya. Pada zaman dahulu – sebelum emansipasi, role tersebut dijalankan dengan sangat ketat. Selain menceritakan keinginannya untuk merdeka seperti wanita Eropa, pahlawan nasional kita, R.A. Kartini, dalam korespondensinya dengan seorang kenalannya di Belanda, mengungkapkan keterbatasan akibat adat yang dialami wanita Jawa. Mereka tidak bebas mengenyam pendidikan, harus dipingit hingga dinikahkan dengan pria yang kurang dikenal, bahkan dipoligami.

Fast forwards ke zaman sekarang, pembagian role sesuai gender termasuk hal yang kontroversial dan tabu untuk dibicarakan. Mayoritas sudah menerima bahwa perempuan boleh melakukan apa pun yang laki-laki bisa lakukan, dan sebaliknya. Namun ditengah pro dan kontra tersebut, masih beredar dua pendapat arus utama seperti, “Perempuan tempatnya di dapur saja” atau “Waktunya perempuan berkuasa”.

Seiring perkembangan zaman, penempatan role antara laki-laki dan perempuan mengalami pergeseran. Perempuan zaman kini mulai mandiri – hasil perjuangan para pahlawan penggerak emansipasi wanita. Saat ini, perempuan bisa bebas bersekolah, berkarier, bahkan menjadi pendeta; sebuah perkembangan yang tidak bisa kita pungkiri. Hal seperti ini juga tidak jauh dari kehidupan saya. Ayah dan ibu saya, keduanya berkarir demi menyokong kehidupan kami sekeluarga.



Photo by Christian Holzinger on Unsplash


Apakah salah? Tentu tidak. Dalam situasi ketika kebutuhan keluarga akan lebih tercukupi, sah-sah saja jika isteri membantu mencari nafkah. Demikian pula suami diperbolehkan – bahkan sangat dianjurkan – untuk turut membesarkan anak dan membantu pekerjaan rumah. Dengan demikian, ia dapat menunjukkan kasih yang kepada isterinya, dengan catatan, tidak menghalangi kewajiban masing-masing dalam menjalankan role utama dalam keluarga. Hal tersebut penting demi terwujudnya keluarga yang fungsional dan harmonis.

Lantas bagaimana role yang harus kita jalankan di era sekarang? Sejenak kita kesampingkan sudut pandang ideologis atau kultural tentang patriarki, matriarki, atau egaliter. Apakah yang disabdakan Tuhan tentang peran pria dan wanita, terutama dalam jenjang pernikahan dan berkeluarga?

Galatia 3:28 Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.

Ayat tersebut menegaskan bahwa derajat semua orang sama di hadapan Kristus. Pria dan wanita harkat dan martabatnya setara. Tuhan tidak memandang suatu gender atau golongan lebih mulia atau lebih rendah dari yang lain. Hal ini harus digarisbawahi. Namun dalam kesetaraan derajat tersebut, Tuhan sudah memberikan role yang berbeda untuk dijalani pria dan wanita, dari saat Adam dan Hawa diciptakan.



Photo by Joshua Newton on Unsplash


Sebagaimana disebutkan dalam Kejadian 3, wanita memiliki peran untuk melahirkan dan membesarkan anak, sementara pria bekerja mencari nafkah. Perbedaan tugas utama tersebut semakin terwujud dalam hidup berkeluarga, antara suami, isteri, serta anak-anaknya seperti tergambar jelas pada Kolose 3 : 18-21.

Kolose 3:18 Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. [19] Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. [20] Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. [21] Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.

Perlu diingat, bahwa tanggung jawab istri ialah tunduk kepada suami (Kolose 3:18), sementara tanggung jawab suami sebagai pemimpin, tidak membenarkan suami untuk bertindak semena-mena terhadap istrinya (Kolose 3:19); melainkan harus saling mengasihi satu sama lain. Sang istri bukanlah barang atau properti milik sang suami, melainkan – seperti ditegaskan di Galatia 3:28 – seorang manusia yang diciptakan dengan harkat dan martabat setara.

Hawa sendiri tidak diciptakan dari tulang kaki agar tidak diinjak-injak oleh Adam, begitu pula sebaliknya. Itulah sebabnya Tuhan menciptakan Hawa dari tulang rusuk untuk menjadi pendamping hidup Adam.



Photo by Heather Miller on Unsplash


Kepemimpinan memang dipercayakan Tuhan kepada sang suami. Oleh sebab itu, suami harus menjalankannya dengan bijaksana, sebagaimana Kristus memimpin gereja. Dalam hal berkeluarga, suamilah yang memimpin gereja terkecil, yaitu keluarga.

Kristus mengasihi umat-Nya dengan kepedulian, pengampunan, respek, dan pengorbanan. Demikian pula seorang suami harus mengasihi dan melindungi istri serta keluarganya. Tidak dibenarkan seorang suami bertindak layaknya diktator yang bisa seenaknya sendiri, melainkan wajib menghormati sang istri dengan segala perbedaan pendapatnya. Bahkan suami harus mengasihi istri seperti mengasihi tubuhnya sendiri.

Pada dasarnya memang perempuan dan laki-laki memiliki peran yang berbeda. Perempuan dengan tugas utamanya membesarkan anak dan mengurus rumah tangga dan laki-laki dengan tanggung jawab utama memberi nafkah dan memimpin keluarga. Yang terpenting, semua ini harus dijalankan dalam kasih, kepada Tuhan dan kepada pasangan.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE