Adventus: Kedatangan yang Dinantikan

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 11 Desember 2018
Penantian memang sangat berkaitan dengan sebuah harapan (hope).

Anjing memang kerap kali menunjukkan kesetiaan kepadanya tuannya. Tak terkecuali bagi Hachiko, seekor anjing peliharaan dari seseorang yang bernama Hidesaburō Ueno. Kedekatan antara Hachiko dengan Ueno sungguh nampak ketika sang tuan hendak berangkat bekerja. Hachiko-lah yang dengan setia mengantar kepergian Ueno dari depan pintu gerbang hingga ke Stasiun Shibuya. Di petang hari, hal yang sama pula dilakukan Hachiko untuk kembali datang ke stasiun dan menunggu tuannya yang hendak menuju ke rumah.

Pada 21 Mei 1925, Ueno meninggal dunia secara mendadak. Hachiko yang tidak tahu menahu tentang peristiwa tersebut tetap menjalankan “rutinitas”nya. Ia terus menunggu tuannya di stasiun. Namun, insting Hachiko sebagai anjing nampaknya bekerja. Ia merasakan ada suatu hal yang tidak beres telah terjadi sehingga ia tidak mau makan selama 3 hari, walaupun masyarakat sekitar memberikannya makanan.

Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Ueno, Hachiko terlihat menunggu kepulangan majikannya di Stasiun Shibuya. Hingga pada akhirnya, pada 8 Maret 1935 pada pukul 06.00 pagi, setelah menunggu sepuluh tahun lamanya, ia ditemukan sudah tidak bernyawa di jalan dekat Jembatan Inari, Sungai Shibuya. Tempat tersebut berada di sisi lain Stasiun Shibuya, tempat dimana Hachiko setia menunggu kedatangan tuannya, Ueno, yang telah meninggalkannya terlebih dahulu.



unsplash.com


Siapa yang Hendak Datang?

Adven (Adventus) berarti datang atau kedatangan. Kata tersebut sudah lama digunakan pada masa Romawi untuk menyambut kedatangan kaisarnya. Masa Adven juga dimaknai sebagai masa persiapan sebelum Natal, yakni masa untuk menghayati makna kedatangan Kristus. Dalam tradisi, Minggu Adven I dan II berisi tentang bagaimana umat mempersiapkan diri untuk kedatangan Tuhan Yesus (parousia) sedangkan pada Minggu Adven III dan IV, umat diajak untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan dalam rupa seorang bayi kecil dan mungil.

Kedatangan Tuhan Yesus memang seringkali disangkutpautkan dengan hal-hal yang menakutkan dan bahkan dirujuk sebagai akhir zaman (kiamat dan hal-hal eskatologis lainnya). Peristiwa tersebut bahkan dirincikan di dalam Injil Lukas 21:25-26:


“Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang”



unsplash.com


Kita kerap kali terjebak pada perasaan cemas dan takut dalam menyambut akhir zaman. Kedatangan-Nya bukan lagi bermakna kegembiraan dan kelegaan karena Ia sudah datang, melainkan berubah makna menjadi sebuah kecemasan dan ketakutan karena kita hanya fokus pada berbagai peristiwa yang dijelaskan dalam Lukas 21:25-26, lebih-lebih percaya pada berbagai ramalan dan nubuatan palsu tentang akhir zaman.

Hal tersebut menjadi bukti bahwa fokus iman kita telah bergeser. Kepercayaan kita pada Allah yang hendak datang bergeser menuju berbagai peristiwa akhir zaman yang menakutkan. Pergeseran tersebut telah terjadi karena kita menyibukkan diri untuk tersesat pada pertanyaan “apa yang akan terjadi?” dan “kapan itu terjadi?” Celakanya, para murid juga tersesat pada pertanyaan yang sama! Ayatnya yang ketujuh (Luk 21:7) menjelaskan bahwa para murid Yesus memfokuskan diri pada pertanyaan kapan akhir zaman itu terjadi dan apa tanda-tandanya.

Kita seharusnya berfokus diri bukan pada "apa yang akan terjadi?" atau "kapan hal itu akan terjadi?" karena jika kita memfokuskan diri pada kedua pertanyaan itu, hanya kecemasan dan ketakutanlah yang menjadi hasilnya. Fokus kita pada masa penantian ini seharusnya pada "siapa yang akan datang?", maka kita akan mendapatkan jawaban: "Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya." (Luk. 21:27)

Jangan biarkan kecemasan dan ketakutan menguasai diri kita. Lihatlah dalam Lukas 21:28 saat Yesus mengajak para murid untuk bangkit (anakupto) dan mengangkat muka (epair). Kata yang sama pula bisa diterjemahkan sebagai tindakan untuk berdiri tegak dan berseru, sebuah tindakan yang amat bertolak belakang dengan kecemasan dan ketakutan yang kita alami. Hal tersebut seharusnya semakin menguatkan kita untuk berani melawan setiap kebingungan, kecemasan, dan bahkan ketakutan kita selama ini. Perintah "bangkit" dan "angkatlah mukamu" juga akan dapat membuat kita semakin mudah melihat dan tahu siapa yang telah datang, yakni Anak Manusia!



unsplash.com


Sebuah Penantian

Penantian memang sangat berkaitan dengan sebuah harapan (hope). Kisah Hachiko di atas menegaskan bahwa penantian lahir dari sebuah harapan. Hemat saya, hanya sebuah harapan untuk bertemu dengan tuannya yang bisa membuat Hachiko dengan setia menanti kepulangan tuannya tersebut di Stasiun Shibuya selama 10 tahun lamanya, meskipun majikannya ternyata tidak pernah pulang lagi.

Begitu pula dengan kita. Masa Adven yang sudah kita masuki dan terus kita hayati untuk empat minggu ke depan sejatinya mengajak kita untuk menantikan dan terus berharap pada Kristus yang akan kembali. Itulah yang menjadi salah satu peringatan dan kenangan (anamnesis) serta misteri iman kita bahwa wafat dan kebangkitan-Nya kita maklumkan dan muliakan, serta kedatangan-Nya yang senantiasa kita rindukan.

Panggilan untuk menanti ini juga menuntut sebuah kesiapan diri. Teringat akan Injil Matius 25:1-13 mengenai gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh. Kita dapat belajar dari kesiapan gadis-gadis bijaksana yang membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka, sehingga, ketika mempelai sudah datang, mereka sudah siap. Hal ini bisa menjadi refleksi kita bersama: apa yang sudah kita siapkan dalam menyambut-Nya? dalam peristiwa Adven itu kita diajak untuk secara terus-menerus menghidupi dengan kesiapan diri dan doa.



unsplash.com


Martin Luther, Sang Reformator Gereja, pernah berkata, "Bahkan jika saya tahu bahwa besok dunia akan hancur, aku akan tetap menanam pohon apelku." Dari Luther kita bisa belajar bahwa menanti kedatangan-Nya (adventus) bukanlah sebuah penantian yang pasif. Bertolak belakang dari itu, kita diajak untuk menghayati hidup yang berinisiatif. Masih tersedia cukup waktu bagi kita untuk melakukan banyak perubahan yang lebih baik sebagaimana yang dikehendaki-Nya dalam kehidupan kita. Pandanglah masa adven ini sebagai waktu dan kesempatan yang berharga untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik.

Kiranya kita dapat menantikan kedatangan-Nya dengan penuh kesetiaan. Selamat menanti dan berjuang dalam masa adven ini!


Ad Maiorem Dei Gloriam

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE