Antara Pemilu dan Keselamatan Indonesia

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 25 Maret 2019
Kalau segala sesuatu sudah ditentukan, mengapa kita harus memilih?

Pernahkah teman-teman bertanya, “Kalau Tuhan yang mengangkat setiap pemimpin negara, mengapa harus ada demokrasi? Kalau segala sesuatu sudah ditentukan, mengapa kita harus memilih?” Ah, kalau sudah begini, ujung-ujungnya akan muncul pertanyaan yang sering jadi perdebatan orang Kristen, “Kalau Tuhan sudah memilih beberapa orang untuk selamat, mengapa kita harus mati-matian berdoa dan melayani orang lain untuk menerima Kristus dan bertumbuh?”

Jika teman-teman pernah penasaran mengenai Pemilu, termasuk mengenai kehendak bebas manusia (free will) dan kedaulatan Allah yang “mengatur” manusia (determination), saya berharap tulisan ini dapat menjadi perpanjangan tangan Allah untuk memberkati rasa penasaran Anda. Sebaliknya, kalau pertanyaan seputar Pemilu tidak pernah terlintas dalam benak teman-teman, saya juga berharap tulisan ini tetap dapat memberkati, ya.



Photo by on Unsplash


Sebagai orang Kristen, sudah sewajarnya kita percaya bahwa Allah yang mengangkat dan menurunkan pemimpin (Roma 13:1; Kolose 2:10). Jika ditarik pada konteks Indonesia, kenyataan ini menghasilkan kesimpulan yang luar biasa: Allahlah yang mengatur 267 juta hati dan pikiran manusia (Amsal 21:1). Bayangkan! Lebih dari 200 juta diri manusia, dengan atau tanpa disadari, menjadi alat di tangan Allah kita untuk mengangkat dan menurunkan pemimpin. Oleh karena itu, kita harus percaya bahwa pemimpin negara dalam periode berikutnya, meskipun bukan pilihan kita, merupakan pilihan Allah. Dan perintah Allah kepada Anda: patuhilah mereka (Roma 13:2).

Jika benar demikian, untuk apa kita bersikeras memikirkan siapa presiden yang terbaik, kalau nantinya Allah juga yang memilih? Mari kita baca apa yang Tuhan janjikan pada Abraham saat Dia memanggilnya untuk ke Kanaan.

“Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, memberkati engkau serta membuat namamu mashyur; dan engkau akan menjadi berkat. … Dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

(Kejadian 12:2-3)



Photo by on Unsplash


Bila ditarik pada konteks kita saat ini, janji Allah di atas mencakup dua hal. Bagian pertama, Allah akan memberkati kita, dan yang kedua adalah bahwa melalui kita-lah Dia akan memberkati Indonesia. Seperti yang kita ketahui dan imani, Allah tidak melupakan janji-Nya. Yesus Kristus, Tunas Isai itu, lahir dan menjalani masa pelayanan-Nya selama ±3,5 tahun—dan Dia lahir dari keturunan Yehuda, cicit Abraham (Matius 1).

Namun jika kita memperhatikan lebih cermat, secara tidak langsung, Kristus juga memberkati dunia melalui keturunan Abraham. Buktinya:

1. Kristus lahir sebagai Anak Daud, keturunan Abraham,

2. Kristus mati di tanah Israel, dan

3. Kristus menunjukkan kebangkitannya pertama-tama pada keturunan Abraham, dan dari sanalah seluruh bangsa, termasuk Indonesia, menerima berkat keselamatan.

Tiga poin tersebut menunjukkan kesetiaan Allah terhadap janji-Nya, bahwa melalui keturunan Abrahamlah bangsa-bangsa akan mendapat berkat. Yang membuat speechless, saat ini, kitalah keturunan Abraham dalam iman! Melalui kitalah, Allah akan memberkati Indonesia. Melalui orang percaya yang taat akan Allah, Dia akan mengangkat pemimpin yang dikehendaki-Nya.



Photo on Unsplash


Apakah Dia mampu menuliskan nama capres-cawapres maupun para caleg di awan, atau membisikkan nama mereka melalui angin di sore hari? Tentu bisa. Pertanyaan ini sama saja dengan, “Apakah Dia mampu mengutus malaikat kepada setiap orang yang belum percaya dan menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, atau membuat batu menyanyikan puji-pujian bagi-Nya agar seluruh dunia tahu dan percaya pada-Nya?” Saya percaya Allah mampu melakukan semuanya itu, bahkan lebih dari yang dapat dibayangkan. Namun apakah Dia mau melakukannya? Saya kira tidak. Saya yakin bahwa Allah masih memegang teguh janji-Nya, bahwa segala sesuatu yang baik akan Dia kerjakan melalui orang-orang yang taat kepada-Nya.

Oleh karena itu, mempertahankan sikap apatis dan golput dapat dipastikan bukan merupakan kehendak Allah. Apatis atau sikap tidak peduli, adalah cara Iblis untuk menghalangi Allah memberkati Indonesia melalui kita—dan Allah sangat ingin memberkati Indonesia. Dengan kata lain, jika kita tidak peduli pada keadaan bangsa kita saat ini, sementara Allah peduli, kita perlu berefleksi, “Apakah benar, saya mengasihi Allah? Apakah mungkin saya mengasihi Allah, tapi tidak peduli dengan apa yang Allah mau?”

Lantas bagaimana cara kita mengetahui siapa pemimpin yang Allah kehendaki? Pada kenyataannya, kita akan mengetahuinya ketika hasil Pemilu secara resmi diumumkan. Lalu siapa yang harus Anda pilih? Saya percaya Allah akan menuntun masing-masing kita untuk menentukan pilihan dalam Pemilu tahun ini.



Photo on Unsplash

Dalam pemahaman inilah, kita sebagai orang percaya yang mengasihi Tuhan sudah sewajarnya mengikuti setiap tahapan Pemilu dengan rasa sukacita. Sekarang kita paham bahwa Allah menggunakan kita—melalui pikiran dan pilihan yang diambil—untuk mengangkat pemimpin yang dikehendaki-Nya, sehingga melaluinya, Indonesia akan menerima berkat keselamatan. Kiranya kasih Allah pada Indonesia bisa mengalir melalui kita.

Selamat memilih, dan selamat bersukacita.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE