Apa sih Natal itu?

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 16 Desember 2018
Sesungguhnya Natal mendorong kita menginternalisasi desire yang ada pada Allah menjadi desire kita sendiri, yaitu berbela rasa kepada yang lain, karena sesungguhnya yang lain itu adalah sesama.

Atmosfer Natal Di Mana-Mana

Jumat malam di ujung November menjelang Desember, sebuah keluarga kecil mengunjungi salah satu mall di Kawasan Puri, Jakarta Barat. Mall yang dianggap banyak orang sangat representatif atas Jakarta. Begitu keluarga kecil tersebut turun dari mobil dan memasuki pintu masuk mall, langsung terasa suasana Natal yang begitu wow.

Entah bagaimana sang penata interior mall itu sanggup membawa nuansa dan spirit selebrasi Natal yang meriah tapi elegan, sehingga mampu menyihir banyak orang untuk berlama-lama meskipun hari semakin larut. Sungguh suatu rekayasa atmosfer yang bisa mendorong banyak orang menghabiskan banyak rupiah di sana. Keluarga kecil itu pun turut larut dalam suasana, sehingga lupa waktu, sampai akhirnya menyadari bahwa penghabisan hari telah semakin dekat, sementara anak-anak keluarga tersebut mulai mengantuk, betapapun mereka masih ingin bermain.

Fenomena serupa tidak hanya terjadi di satu pusat perbelanjaan, tapi juga menjadi semacam wabah yang telah menular selama bertahun-tahun di sebagian besar pusat perbelanjaan menjelang Natal. Meriah dan penuh sukacita, tapi sebenarnya konsumtif. Seolah semua terhisap dalam gejala perekonomian masa kini, di mana roda ekonomi digerakkan oleh konsumsi masyarakat, mengenyahkan pepatah hemat pangkal kaya yang berpotensi “mematikan ekonomi”. Tapi, sudahkah kita memikirkan: sebenarnya mengapa kita melakukan sebuah kebiasaan/tradisi yang kita lakukan tiap Desember dan untuk apa itu semua?



Photo by freestocks.org on Unsplash


Apa kata para Penulis Injil?

Sebaiknya kita coba lihat kembali ke catatan-catatan yang ditulis oleh para penulis Injil tentang Natal yang pertama. Dari situ barangkali kita bisa melihat kembali apa Natal itu sebenarnya dan apakah kita sudah secara pas menyikapinya.

Bila diperhatikan baik-baik, para penulis Injil menuliskan catatan-catatan yang mengisahkan berbagai peristiwa yang membentuk Natal pertama itu. Dapat disimpulkan, ada dua kisah utama dari Natal pertama, yaitu momen hadirnya keagungan dan kemuliaan Ilahi, dan berbagai momen horor yang menyertai Natal pertama. Bintang yang menuntun kedatangan orang-orang majus (menurut tradisi mereka adalah kaum intelektual pada masa itu), penampakan malaikat kepada para gembala -yang dianggap mewakili kaum marginal dalam masyarakat- agar mereka ke Betlehem, dan paduan suara meriah dari tentara malaikat di langit. Itu semua semacam display Ilahi yang menunjukkan keagungan dan kemuliaan bayi yang lahir di palungan.

Di waktu yang sama, tersirat derita dari Maria yang ditanggungnya dengan tabah dan sukacita karena bersedia menjadi perawan yang mengandung, kesigapan dan ketulusan Yusuf sebagai pelindung Sang Bayi dan Maria, terutama ketika harus mengungsi ke Mesir, serta rencana Herodes untuk membunuh Sang Bayi yang disusul pembunuhan banyak bayi di Betlehem. Ikuti keseluruhannya, maka kita bisa memperoleh suasana teror dan horor yang berkepanjangan yang harus dialami oleh keluarga Sang Mesias.



Photo by Pro Church Media on Unsplash


Yang Ilahi dan Yang Jahat

Yang Ilahi diikuti oleh yang jahat. Yang Suci hadir berdampingan dengan yang najis. Kabar Sukacita tidak mengeliminasi penderitaan. Inilah gambaran tentang pertarungan dan pergulatan di dunia yang telah jatuh tapi dikasihi oleh Allah. Inilah gambaran tentang siapa Allah dan siapa manusia.

Allah datang dan turun dengan menerobos ke dunia ini untuk berempati, bukan sekedar bersimpati kepada manusia. Berempati adalah berbela rasa, yang berarti ikut hadir bersama dan mengalami beserta mereka yang lain. Lebih dari sekedar bersimpati, yang walaupun baik adanya namun belum mencapai tahapan action. Dengan simpati, sebenarnya masih tersirat adanya jarak antara saya dengan yang lain, namun dengan empati, jarak tersebut dilebur.

Allah menjadi Pribadi yang sungguh memahami, bukan hanya melalui pengamatan, namun juga lewat pengalaman bersama dengan ciptaan yang paling dikasihi-Nya, yaitu manusia. Ini adalah hal yang baik dari Allah. Namun yang jahat tidak membiarkan kebaikan menyebar begitu saja dengan mudah, dan itulah yang dosa kerjakan.



Pexels.com


Apa yang kita perbuat sesungguhnya menunjukkan siapa kita. Manusia adalah penghalang utama kebaikan Allah karena manusia telah jatuh. Dalam kejatuhannya, manusia bukan saja berusaha menyingkirkan Allah, namun juga sesama manusia. Manusia sengaja mengasingkan yang lain dengan menyingkirkannya demi kekuasaan dan keuntungan sepihak. Manusia membuat manusia lainnya menjadi alien yang harus dibuang karena ketakutan bahwa alien ini bisa jadi neraka baginya.

Lebih ironis lagi, pada akhirnya apa yang dikerjakan manusia hanya membuat dirinya sendiri menjadi alien. Dia semakin tidak paham dirinya sendiri dan mengalami split dalam setiap perbuatannya. Hanya kehampaan, kekosongan, dan kesepian yang diperolehnya di ujung tindakannya.

Manusia membangun kebudayaan dan peradaban yang begitu mengagumkan, namun ironisnya dalam kehebatan dan keagungannya sekalipun nasib manusia sama seperti telur di ujung tanduk. Tak ada manusia yang sungguh berkuasa atas dirinya, dan kematian membuktikan hal itu. Kepada pihak yang seperti itulah Allah datang dan menghampiri, rela menanggung risiko apapun yang diperlukan, demi mengangkat kembali manusia ke posisi dan perannya mula-mula, yaitu sebagai citra, gambar, dan rupa Allah.



Photo by Eneida Hoti on Unsplash


Natal dan Berbela Rasa

Maka sekarang kembali ke pertanyaan: apa sih sebenarnya Natal itu? Bila mengikuti uraian di atas, maka sesungguhnya Natal mendorong kita menginternalisasi desire yang ada pada Allah menjadi desire kita sendiri, yaitu berbela rasa kepada yang lain, karena sesungguhnya yang lain itu adalah sesama. Terlebih lagi kepada mereka yang termarginalkan, karena Allah mengingat orang-orang seperti demikian. Hasrat berbela rasa untuk mengangkat derajat kemanusiaan, atau setidaknya memanusiakan manusia.

Natal pun menjadi reflektor, cermin tentang siapa kita sesungguhnya. Manusia adalah makhluk bebas, dan karena itu bisa dengan bebas memilih apapun serta bertanggung jawab atas semua pilihan bebasnya. Tiap-tiap kita di tiap-tiap hari selalu berhadapan dengan pilihan menjadi agen kebaikan seperti Maria, Yusuf, orang-orang majus dan para gembala, atau menjadi agen kejahatan seperti Herodes dan para ahli Taurat. Pilihan apapun memiliki konsekuensi, sama seperti yang dikisahkan di Injil tentang para tokoh tadi.



Photo by Emily Morter on Unsplash


Pertanyaan Untuk Direnungkan

Mari kita kembali pada kemeriahan dan keceriaan atmosfer Natal di pusat-pusat perbelanjaan tadi. Memang tidak sepenuhnya salah. Namun, pernahkah kita sungguh-sungguh menyadari kalau Natal sebenarnya adalah sukacita bagi manusia yang dibayar dengan penderitaan Allah sampai di kayu salib?

Semoga kita tidak menjadi manusia yang menyia-nyiakan kebaikan Allah dalam hidup kita. Merry Christmas, Guys!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE