Apakah Gereja Mengasihi Pezinah?

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 14 Januari 2019
Diskriminasi merupakan salah satu faktor mengapa orang-orang (terutama anak muda) meninggalkan gereja.

Berita yang menjadi tren dua minggu pertama di tahun 2019 adalah skandal prostitusi yang menimpa artis tanah air. Entah mengapa topik ini merupakan topik yang paling laku dibahas setelah politik. Bahkan, Google pun menampilkan bahwa pencarian tertinggi di Indonesia pada diwipekan pertama 2019 adalah frasa ‘prostitusi online’. Banyak orang membicarakan hal ini, mengingat kultur budaya kita yang masih menganggap tabu aktivitas seksual (apapun itu), apalagi aktivitas yang dianggap ‘tidak selayaknya dilakukan oleh pasangan yang tidak menikah’. Para warganet yang membaca berita tadi pun mengomentari (bahkan melempar caci maki) orang-orang yang terlibat dalam kasus tersebut.

Jangan salah, pola pikir yang sama juga diterapkan dalam gereja. Akui saja, masih banyak gereja yang masih ‘malu-malu’ untuk berbicara mengenai masalah seksual, apalagi kepada anak remaja-pemudanya. Walaupun tidak semua, tetap masih banyak gereja yang menghindari membahas hal ini. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa tidak sedikit anak remaja-pemuda gereja telah melakukan aktivitas seksual yang tidak sehat. Ketika ada anak remaja-pemuda yang ‘ketahuan’ telah melakukan hal itu, maka sontak menjadi perbincangan hangat di gereja, dan tidak jarang mereka diasingkan oleh komunitas gereja.

Aku mengobrol dengan tiga orang, sebut saja namanya: Natan, Budi, dan Lia. Mereka merupakan anak remaja-pemuda dari masing-masing gereja yang berbeda sinode. Secara terus terang, ketiga orang ini mengakui bahwa mereka telah melakukan aktivitas seksual yang tidak sehat dengan pasangan masing-masing. Karena perasaan bersalah (mungkin kita bisa sebut ‘perasaan berdosa’) mereka, akhirnya mereka bercerita kepada pendeta untuk curhat. Namun, ketiga orang tersebut mendapat perlakuan yang sama dari ketiga pendeta jemaat mereka:
Mereka dihakimi oleh pendeta, diumbar, dan dijadikan contoh buruk bagi jemaat. Perasaan malu begitu besar meliputi ketiga hati temanku ini, sehingga mereka tidak pernah mau lagi pergi ke gereja.



Photo by Abigail Keenan on Unsplash


Diskriminasi tidak jarang terjadi di gereja. Salah satunya bagi mereka yang tertuduh (yang terbukti maupun tidak) telah melakukan aktivitas seksual yang tidak selayaknya. Mereka dijauhi dan dijadikan contoh buruk. Dalam tulisan ini, aku tidak mau membahas sisi keberdosaan mereka. Bagiku, dosa merupakan ranah yang privat antara dirinya dengan Tuhan. Pada dasarnya kita tidak punya hak untuk menghakimi seseorang, apakah dirinya berdosa atau tidak. Kita mendapat dua tawaran dalam menghadapi permasalah ini: mindset menghakimi, atau mindset mengasihi.

Dalam bukunya yang berjudul You Lost Me, David Kinnaman mengatakan bahwa diskriminasi merupakan salah satu faktor mengapa orang-orang (terutama anak muda) meninggalkan gereja dan ini terbukti pada tiga orang tersebut. Diskriminasi bisa bermacam-macam bentuknya, dimulai dari membicarakan kekurangan seseorang hingga mengasingkan seseorang karena ia telah melakukan perbuatan yang dianggap tercela. Bagaimana kita dapat bertindak dalam situasi ini?

Nampaknya Pendekatan narasi seorang pezinah yang diampuni Yesus merupakan narasi yang cocok diletakkan dalam permasalahan ini. Inti dari kisah ini adalah bagaimana Yesus menunjukkan bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa. Terbukti, tidak ada yang merajam batu pada wanita itu. Yesus menunjukkan bahwa kasih dapat merubah segala sesuatu. Kasih memberikan sebuah kesempatan bagi seseorang untuk hidup dalam pengampunan dan hidup dalam kebenaran.



Photo by Steve Halama on Unsplash


Seperti pada paragraf sebelumnya, ada dua pilihan yang dapat kita ambil: menghakimi atau mengasihi. Menghakimi berarti kita terang-terangan menganggap bahwa mereka merupakan contoh manusia berdosa yang layak dijauhi dan dijadikan contoh buruk. Menghakimi berarti kita menghalalkan segala cara untuk membicarakan mereka tanpa merasa berdosa.

Sedangkan, mengasihi merupakan hal yang berbeda dari menghakimi. Mengasihi tidak berbicara mengenai ‘permakluman’ atas perbuatan mereka. Mengasihi bukan untuk memanjakan, tetapi mengajarkan. Ketika kita memilih mengasihi, kita tidak serta merta membiarkan mereka. Mengasihi berarti kita peduli, kita ikut bergumul dan mendukung mereka (mendukung dalam membina dan mendoakan mereka). Mengasihi berarti kita percaya bahwa manusia berdosa mempunyai kesempatan untuk hidup dalam pengampunan. Mengasihi berarti kita sadar bahwa diri kita juga merupakan orang yang sering melakukan dosa (dengan versi yang berbeda), sehingga muncul perasaan ‘solidaritas sesama pendosa’ untuk tumbuh bersama di dalam Kristus.



Photo by Rawpixel on Unsplash


Aku menyadari bahwa pembaca tulisan ini datang dari berbagai latar belakang pengalaman yang berbeda. Mungkin ada yang pernah bergumul dengan masalah yang sama, sehingga sampai saat ini masih merasa berdosa dan takut ke gereja. Mungkin ada juga yang sampai sekarang senang membicarakan ‘dosa’ orang lain. Aku harap, kita sama-sama menyadari sebuah ajakan untuk mulai mengasihi mereka, sesama pendosa, agar dapat saling mengoreksi dan menerima segala kelebihan dan kekurangan. Hal inilah yang membuat kita semakin tumbuh di dalam Kristus. Maka dari itu, stop menghakimi! Kasihilah sesamamu manusia!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE