Bagian yang Terlupakan dari Reformasi Gereja 31 Oktober (Bagian 1)

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 11 Desember 2018
Jangan lupa bahwa yang terpenting dalam proses pembacaan dan penafsiran Kitab Suci ialah ketika apa yang kita baca itu mampu mengubah diri kita.

“Lupa” pertama yang perlu kita maafkan bersama adalah tidak ingatnya kita bahwa 31 Oktober bukanlah sebuah perayaan Halloween bagi pengikut Kristus. Ada hari Reformasi Gereja yang diperingati pada tanggal yang sama. Namun ingat saja tidak cukup.

Saya selalu menjelaskan maknanya pada anak-anak di rumah dan di sekolah, “Tanpa reformasi, kamu tidak akan bisa ikut bernyanyi di paduan suara kalau bukan Imam; kamu juga tidak bisa memuji Tuhan di sembarang tempat; kamu harus membayar Gereja kalau mau “cepat” masuk sorga; kamu hanya bisa membaca Alkitab kalau mengerti Bahasa Latin,” dan lain sebagainya.

“Lupa” kedua yang sering menjangkiti kita ialah lupa bahwa Reformasi Gereja tidak sebatas mengubah kehidupan gerejawi dan peribadahannya, tetapi juga turut mengubah dunia. Seorang filsuf ternama, Max Weber, pernah menghubungkan Protestanisme (Kalvinisme) dengan lahirnya kapitalisme pada abad 19. Setelah pemikiran Weber tersebut muncul, banyak sekali buku yang kemudian mengkaji pengaruh Reformasi Gereja dan Protestanisme terhadap lahirnya liberalisme modern, demokrasi, sains modern, sekularisme, dan masih banyak lagi.

Relasi kelahiran berbagai paham tersebut membuat sejarawan Brad Gregory baru-baru ini menyimpulkan, Reformasi Gereja 500 tahun yang lalu masih terus memengaruhi hidup setiap orang, bukan hanya di Eropa dan Amerika utara, tetapi juga di seluruh dunia – terlepas apakah dia Kristen atau bukan.



pixabay.com


“Lupa” yang ketiga adalah melupakan “bahaya” yang dibawa oleh Reformasi Gereja. Seorang teolog bernama Alister McGrath, dalam bukunya yang berjudul Christianity’s Dangerous Idea, mengingatkan bahwa semangat pengajaran ‘the priesthood of all believers’ yang dibawa Luther dan para reformator lain cukup berbahaya. Secara radikal ajaran tersebut meyakinkan para Kristen awam bahwa kuasa untuk membaca dan menafsirkan Kitab Suci tidak berpusat pada otoritas Gereja atau para pemimpinnya, melainkan pada setiap orang Kristen.

Semangat ‘the priesthood of all believers’  ini ternyata tidak hanya berdampak pada tataran spiritualitas individu, tetapi juga masuk dalam kancah politik. Beberapa pergolakan bersenjata yang sempat terjadi di sebagian wilayah Eropa setelah tahun 1517, oleh 6 orang pangeran Jerman yang melawan Gereja Katolik adalah salah satu contohnya. Keenam orang yang digerakkan semangat reformasi itu dikenal dengan the protesters, atau yang dalam bahasa Latin disebut, ‘protestantes’.

Kuasa untuk membaca dan menafsirkan Alkitab kemudian diikuti inisiatif untuk menerjemahkan isi Alkitab ke dalam berbagai bahasa. Hadirnya teknologi mesin cetak makin memantik penyebaran Firman Tuhan melalui media tulisan. Pada masa itu, diperkirakan tidak kurang dari 3.000 Alkitab berbahasa Inggris terjemahan William Tyndale dicetak diam-diam di Jerman untuk disebarkan di Inggris. Lima abad setelah reformasi berlangsung – yakni hari ini – terdapat ribuan denominasi Gereja Protestan dan sekitar setengah milyar penganut Kristen Protestan yang memenuhi muka bumi (Thomas A Howard, Remembering the Reformation: 2016). Bagus, sekaligus menakutkan.



pixabay.com


Menakutkan? Ya. Mau sampai kapan dan sampai berapa banyak kita akan terus memecah diri untuk membentuk denominasi baru? Apa alasan perpecahan itu? Seringkali karena penafsiran yang berbeda atas bagian-bagian tertentu di Alkitab. Maka haruskah Firman yang menyatukan kita menjadi satu tubuh Kristus justru menjadi sumber perpecahan? Siapakah yang berotoritas menentukan benar-salahnya suatu tafsiran? Bagaimana dampak semangat Reformasi 1517 itu kini, dalam dunia yang semakin global, plural, dan disertai isu-isu yang semakin beragam?

Suatu hari, C.S. Lewis berkata bahwa ia memberanikan diri menulis tema apologetik Kekristenan (walaupun ia bukan seorang teolog), dengan kesadaran bahwa terkadang seorang murid lebih berhasil belajar matematika dari temannya ketimbang dari gurunya. Pertimbangan yang sama akan saya gunakan untuk secara khusus membahas ke-“lupa”-an kita pada salah satu akar reformasi: penafsiran Firman oleh setiap orang percaya.

Penafsiran Firman atau hermeneutika (Yunani: “hermÄ“neuein” yang berarti menafsir) dari sebuah teks, pada dasarnya bisa dipandang dari dua perspektif: behind the text dan through the text.



pixabay.com


1. Sudut pandang behind the text dipelopori oleh Schleiermacher (1768-1834), seorang teolog yang juga disebut bapak hermeneutika modern. Ia berangkat dari sebuah keprihatinan akan kualitas praktik penafsiran kaum Protestan kala itu. Sudut pandang ini mengajarkan bahwa pemahaman terhadap suatu teks akan menjadi lebih akurat jika dipahami sesuai dengan pikiran dan perasaan sang penulis saat menuliskannya.

Jika penulisnya masih hidup, tentu kita dapat langsung memastikan maksudnya dengan bertanya. Namun hal ini mustahil untuk mendekati sebuah teks kuno. Maka dari itu, intensi (maksud) dari penulis harus direproduksi. Agar dapat mengira-ngira isi pikiran yang ada di balik sebuah kata atau ungkapan, kita harus mencari tahu kebiasaan, budaya, serta peristiwa apa saja yang sudah maupun sedang dialami penulis pada waktu tulisan tersebut dihasilkan.

Seorang anak pendeta bernama Wilhelm Dilthey (1833-1911) lantas menambahkan metode penghayatan, untuk bisa menyelami keadaan historis-sosiologis-kultural yang dihidupi penulis dalam kehidupan sehari-harinya. Maka dapat disimpulkan, mereproduksi intensi penulis sama dengan merekonstruksi dunia mental dan dunia fisik sang penulis, atau segala yang ada ‘di belakang teks’ tersebut.



pixabay.com


2. Upaya penafsiran berikutnya adalah dengan menganalisis tata bahasa yang dipakai dalam suatu teks. Hasil analisis yang diperoleh lantas dijadikan acuan untuk membentuk pemahaman yang akurat terhadap teks tersebut, maupun untuk menghasilkan makna baru secara kreatif – sebut saja cara ini through the text.


Bagian selanjutnya: bagian 2

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE