Bagian yang Terlupakan dari Reformasi Gereja 31 Oktober (Bagian 1)

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 11 Desember 2018
Bagian sebelumnya: bagian 1

Pada sudut pandang ini, kaidah bahasa serta pemahaman atas hubungan simbol-simbol bahasa dapat dijadikan sebagai dasar penafsiran. Walau demikian, hampir tidak mungkin untuk bergantung pada interpretasi gramatik semata. Perbedaan penggunaan bahasa Ibrani, Yunani, Aramaik, dan bahasa-bahasa Timur Dekat kuno yang dipakai pada waktu menuliskan Alkitab, dengan kondisi bahasa-bahasa tersebut di masa sekarang menjadi salah satu alasannya. Siapakah yang sanggup menjamin kalau tafsiran dari teks tersebut telah sesuai dengan penutur atau penulis mula-mula?

Pendekatan historis dan panduan dari forum akademis para penafsir teks tentu sangatlah membantu. Meski begitu, tak dapat dibantah bahwa kesulitan untuk mengartikan suatu kata atau frasa karena tak dapat lagi ditelusuri asalnya tentu tetaplah ada. Kerumitan proses penafsiran tersebut bisa direfleksikan sebagai himbauan pada umat – yang telah diberi “kuasa untuk menafsirkan Firman” – untuk tidak menafsirkan semau-maunya, tetapi juga tidak menghindar dari proses berpikir kritis. Maka pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan?



pixabay.com


Seorang filsuf bernama Hans Georg Gadamer (1900-2002) pernah menyatakan bahwa sebuah teks memiliki horizonnya sendiri. Jika perspektif behind the text dilakukan dengan mereproduksi pemikiran sang penulis, maka usaha through the text dilakukan dengan merekonstruksi makna teks sehingga horizon tulisan dan pembaca dapat melebur menjadi satu. Dalam penyatuan ini, akan terjadi akumulasi sejarah yang dibawa masing-masing horizon.

Sebagai contoh, horizon teks Reformasi Gereja dimulai pada abad ke-16 dengan segala situasi sejarahnya ketika dituliskan. Selama berjalannya waktu, cara pandang sejarah terhadap Reformasi 1517 terus bertransformasi. Setiap kejadian dan studi yang berkaitan tentangnya selama ini, itulah yang membentuk horizon Reformasi 1517. Sementara itu, kita, para pembaca, memiliki horizon tentang Reformasi Gereja dari sumber tidak langsung. Bisa bersumber dari khotbah, percakapan, atau artikel, yang semuanya terkorelasi dengan kondisi dunia saat ini. Hal ini disebut Gadamer sebagai prasangka.

Adanya prasangka yang dimiliki setiap orang membuat peleburan horizon suatu peristiwa oleh satu pembaca akan berbeda dengan pembaca yang lain – apalagi dengan orang-orang di masa yang berbeda. Apakah bisa dibuat sama? Tidak mungkin.



pixabay.com


Filsuf lain bernama Paul Ricoeur (1913-2005) menanggapi pemikiran Gadamer tentang peleburan horizon. Menurutnya, pemahaman dari setiap orang bukan saja dapat merekonstruksi makna asal dari suatu teks, tetapi juga secara kreatif bisa menghasilkan makna baru yang dibutuhkan pembaca dalam orientasinya ke masa depan. Dalam kaitannya dengan Reformasi Gereja, makna itulah yang terus menghidupkan semangat Reformasi dari zaman ke zaman. Dari cara ini pulalah, Firman Tuhan terus hidup dan relevan di segala zaman bagi para pembacanya.

Menurut Ricoeur, proses kreatif ini bisa terjadi karena kapasitas dan kapabilitas manusia untuk mengimajinasikan metafora-metafora yang ada dalam horizon teks maupun horizonnya. Ia dapat meleburkannya tetapi sekaligus memelihara tegangan perbedaan antara keduanya. Bagi Ricoeur, inilah tanggung jawab etis seorang pembaca Firman, yaitu menafsir dalam arti menghasilkan semangat baru dari Firman yang dibaca, yang sanggup merajut masa lalu, masa kini, dan masa depan, kemudian mampu mentransformasi diri pembaca di masa mendatang.

Maka sungguh benar jika hermeneutika bukan hanya bicara seni untuk memahami, tetapi juga seni ketidaksepahaman. Ketidaksepahaman yang produktif juga konstruktif.



pixabay.com


Lalu apa bedanya penafsiran ‘semau gue’ dengan penafsiran yang menghasilkan makna baru? Letaknya terdapat pada kesadaran penafsir terhadap mana horizonnya dan mana horizon teks. Penafsir ‘semau gue’ lebih mudah mengklaim pemahamannya terhadap suatu teks, meski sebenarnya pemahamannya itu didominasi oleh prasangka serta suara-suara lain yang menggaung setiap hari di sekitar dirinya. Alhasil, penafsir tidak ditransformasikan oleh pemahamannya itu.

Apa nasehat para tokoh hermeneutika through the text bagi para pembaca awam? Periksa horizon kita terlebih dahulu dengan saksama, agar kita menyadari pengaruh dari sekeliling kita (media, film, budaya, dll.) terhadap teks yang sedang dibaca. Jangan lekas merasa memahami, karena bisa jadi sebenarnya prasangka kitalah yang sedang bersuara. Dengan rendah hati kita juga harus mengakui bahwa pemahaman kita atas suatu teks tak akan pernah murni dan utuh. Walau demikian, jangan lupa bahwa yang terpenting dalam proses pembacaan dan penafsiran Kitab Suci ialah ketika apa yang kita baca itu mampu mengubah diri kita.

Semoga kebebasan untuk membaca dan menginterpretasikan Firman yang telah dianugerahkan Tuhan Yesus melalui Reformasi 1517 dapat kita respons dengan ucapan syukur yang bertanggung jawab – yakni ucapan syukur yang menghasilkan transformasi diri dan kesanggupan untuk menyuarakan kebenaran Firman itu di tengah dunia. Kiranya Roh Kudus senantiasa menjembatani kita dalam pelbagai perbedaan yang tak hakiki.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE