Bahagia Memulai Tahun yang Baru

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 8 Januari 2019
Kita percaya bahwa Tuhan –pencipta langit dan bumi- memberikan pertolongan-Nya kepada kita

Kini adalah tahun 2019. Tahun telah berganti. Gegap-gempita kembang api yang menerangi malam pergantian tahun baru telah berhenti. Langit malam yang cantik dengan warna-warni kini kembali meredup. Keheningan dan gelap malam kembali akan datang menghiasi malam-malam yang akan kita lalui di tahun ini. Kini tibalah waktunya untuk menurunkan kalender lama dan menggantinya dengan yang baru, membereskan pohon Natal dengan segala hiasannya, serta menghabiskan kue-kue yang tersisa.

Ada banyak respons seseorang ketika memasuki tahun yang baru: biasa saja, senang, bertanya-tanya, bahkan ada yang ketakutan. Ada sebagian orang yang secara spesifik khawatir memasuki tahun ini, mengingat 2019 adalah tahun politik bagi Indonesia. Sebuah pemilihan presiden akan dilaksanakan dalam beberapa bulan ke depan. Berbagai prediksi yang menyenangkan maupun menegangkan mulai berseliweran. Suasana politik itu memengaruhi seluruh bidang dan segi kehidupan kita sebagai satu bangsa. Bahkan, suasana ini juga berdampak pada berbagai kegiatan gereja dan keluarga, misalnya ada orang yang menghindar untuk melakukan pernikahan di tahun ini.

Lalu, bagaimana kita sebagai orang beriman memasuki tahun yang baru ini? Inilah lima cara untuk memulai tahun yang baru dengan bahagia:



Photo by The Journal Garden | Vera Bittereron Unsplash


1. Kumpulkan bukti kesetiaan Tuhan

Tomas, murid Tuhan Yesus, tidak percaya pada peristiwa kebangkitan sebelum dia melihat buktinya secara langsung. Kita terkadang menganggap rendah Tomas karena hal itu. Walau demikian, pada kenyataannya, banyak orang yang hidup memerlukan bukti. Kita membutuhkan bukti untuk percaya bahwa Tuhan itu ada. Ini kabar baik bagi kita: kasih Allah sungguh telah terbukti! Pemazmur mengatakan: “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya.” (Mzm. 46:2-4).

Mari kumpulkan bukti kesetiaan Allah. Buatlah sebuah daftar, tuliskanlah semua pengalaman kita bersama Tuhan di tahun 2018 yang lalu. Daftarkanlah doa-doa kita yang Tuhan telah jawab, perlindungan yang Tuhan nyatakan, kehidupan keluarga yang Tuhan jaga, teman dan sahabat yang Tuhan beri, dan lain-lain. Dengan daftar itu, kita dapat melihat bahwa Tuhan telah terbukti setia di tahun lalu, maka Tuhan juga akan membuktikannya di tahun ini.

2. Lihatlah sekeliling kita

Memandang ke sekeliling akan memperlebar wawasan kita. Kita akan memahami bahwa kehidupan ini bukan hanya tentang kita, melainkan tentang semua makhluk. Semua pergumulan, kerja keras, dan tantangan bukan hanya terjadi kepada kita, melainkan juga kepada semua orang yang ada di dunia ini. Teman di gereja, tetangga, penjual di pasar, para mahasiswa, pekerja kasar di jalan atau pebisnis di kantor ber-AC, semua orang mengalami pergumulan dalam memasuki tahun yang baru... dan semuanya terus berjuang.

Dengan memandang ke sekeliling, kita meningkatkan kepeduliaan kepada orang lain. Barangkali ada orang-orang di sekitar kita yang memasuki tahun ini dengan kekuatiran atau ketakutan yang berlebihan. Kita dapat memberi dorongan semangat atau kekuatan pada mereka. Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus (Gal. 6:2). Tingkatkan kepedulian kita. Dengan peduli kepada orang lain, maka kita akan membuat diri kita sendiri menjadi orang yang lebih baik.



Photo by Melody Jacob on Unsplash


3. Banyak melepaskan, sedikit menuntut

Orang terkadang berpikir bahwa dengan memiliki banyak hal, dirinya akan berbahagia. Sayangnya, yang terjadi seringkali kebalikan. Semakin banyak kita memiliki maka semakin cemaslah diri kita, dan dengan demikian semakin tidak berbahagialah kita. Lalu, bagaimana kita bisa bahagia? Dengan hidup tanpa melekat. Hidup yang rela untuk lepas dari apa yang ada dalam hidup kita. Bahkan rela untuk melepaskan anak kita ke jenjang studi yang lebih tinggi, rela untuk kehilangan teman dan sahabat, rela untuk menghadapi berkurangnya tenaga dan peran kita.

Untuk rela, kita perlu banyak memberi. Dengan memberi, maka kita akan merasa lebih bahagia daripada kita menuntut. Rasul Paulus pernah berkata: “... dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kis. 20:35).

4. Tersenyum kepada diri sendiri

Kita tersenyum saat kita merasa bahagia. Senyum, bukan soal wajah. Senyum adalah soal hati kita yang merasa bahagia, pikiran kita dengan kenangan yang baik, bahkan jiwa kita yang nyaman. Karena itu, menjadi penting memasuki tahun yang baru ini dengan tersenyum. Tersenyum bukan hanya kepada orang lain saat kita bersalaman selamat tahun baru di gereja, melainkan tersenyum kepada diri kita sendiri. Tak harus menggunakan cermin untuk melakukannya. Sederhana, kini lebarkan mulut kita dan tersenyumlah.

Amsal 17:22 menuliskan: “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Bukan obat sembarang obat, melainkan obat yang manjur. Maka biarkan diri kita tahu bahwa kita bahagia dengan memberikan senyum terbaik kita kepada diri kita sendiri.



Photo by rawpixel on Unsplash


5. Berserah dengan penuh kepada Tuhan

Ini tips terakhir dan terpenting. Kalimat “Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi” (Mzm. 121:2) bukanlah sebuah kalimat klise. Ini adalah pengakuan iman kuno umat Tuhan, yang terus berlaku sampai saat ini. Kita percaya bahwa Tuhan –pencipta langit dan bumi- memberikan pertolongan-Nya kepada kita. Dengan demikian kita dapat berserah kepada-Nya dengan sepenuh hati. Berserah bukan berarti menyerah. Karena ‘menyerah’ dilakukan setelah merasa kalah atau tak mampu. Kita ‘berserah’ dari awal tahun ini kepada Tuhan, bahwa Tuhan akan berserta kita menjalaninya.

Filipi 4:6 berbunyi: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Mari berserah kepada Tuhan dalam doa-doa kita. Harapan, cita-cita, keinginan, ketakutan, kecemasan, segala hal yang kita rasakan dan pikirkan dalam tahun 2019. Tetapi, bukan sekadar berdoa, melainkan berdoa dengan bersyukur. Berdoa dengan mengingat semua hal baik yang Tuhan telah terlebih dahulu lakukan bagi hidup kita.

Semoga dengan lima tips di atas, rasa bahagia dapat kita miliki dalam memasuki tahun yang baru ini. Selamat Tahun Baru 2019! Tuhan memberkati!



Artikel ini juga dapat dibaca di renungan Wasiat Januari-Februari 2019

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE