#DILDOFORINDONESIA

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 14 Maret 2019
Dildo itu menyenangkan, anda harus mengenalnya!

Dildo? Mau bahas sex toys? Wait, jangan keburu nethink (negative thinking) dulu nih. Dildo (kepanjangan dari pasangan Nurhadi dan Aldo) ini ialah pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden—fiktif—nomor urut 10. Pasangan ini diusung oleh koalisi—yang juga fiktif—Indonesia Tronjal Tronjol Maha Asyik dengan semangat #smackqueenyaqueen (baca: semakin yakin) dan #dildoforindonesia.

Aneh, bukankah setahu kita kan pasangan Capres Cawapres untuk Pemilu 2019 ini hanya Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno? Lantas siapa sebenarnya Nurhadi-Aldo?

Nurhadi, sejatinya ialah seorang tukang pijat dari kabupaten Kudus, sedangkan Aldo hanyalah sosok fantasi. Sosok mereka yang masuk dalam dunia politik adalah hasil rekayasa yang dibuat oleh generasi milenial—yang jenuh dengan situasi politik menjelang Pemilu 2019. Dalam wawancara BBC, salah seorang tim sukses #dildoforindonesia menyatakan bahwa sosial media sudah dipenuhi berbagai bentuk black campaign, saling hina dan menciptakan masyarakat yg terkotak-kotak menjadi dua kubu. Berlatar belakang itulah, lanjutnya, sosok Nurhadi-Aldo dibuat untuk memberi kesegaran dengan desain dan slogan kampanye yang unik.



unsplash.com


Tampaknya keresahan milenial memang benar nyata. Dalam sebuah lagu buatan Saykoji yang berjudul Mars Tronjal Tronjol, liriknya menjelaskan bahwa hoaks dan saling fitnah terjadi akiabt kondisi Pemilu yang keras ini. Bahkan Deddy Corbuzier—Father of YouTube di Indonesia—pun mengungkapkan, bahwa saat ini Indonesia seolah terbagi menjadi dua kelompok masyarakat: antara cebong (sebutan bagi kelompok fanatik pasangan calon nomor urut 1) serta kampret (sebutan bagi kelompok fanatik pasangan calon nomor urut 2).

Saya tidak tahu apakah anda tergolong cebong, kampret, atau kelompok milenial yang resah dan kini terhibur oleh pasangan calon nomor urut 10 ini? Secara personal saya adalah kelompok yang ketiga. Namun apakah saya harus berhenti pada pilihan menghibur diri dengan suatu gambaran pemimpin yang fiktif?

Mesias, Gambaran “Dildo” di Benak Orang Yahudi...


Penat dengan atmosfer politik tampaknya bukan cerita baru dalam kehidupan manusia. Pada tahun 2006 sempat muncul Partai Anjing di Hungaria, atau dalam bahasa asli Magyar, “Ketfarku Kutya Party”, dengan mencalonkan seekor anjing fiktif sebagai kandidat wakil rakyat. Beberapa belahan dunia lain seperti Australia, Jerman dan Polandia pun juga pernah membuat partai bernuansa komedi karena jenuh dengan pemerintahan yang ada (Sumber: Infografik Tirto.id). Kejenuhan akan kondisi politik juga pernah dirasakan dalam kehidupan bangsa Yahudi pada masa penjajahan kerajaan Romawi 63 SM – 70 M.



Photo by Allen Taylor on Unsplash


Berbagai respons akan penjajahan yang bertubi-tubi dan kondisi politik yang carut marut muncul di tengah masyarakat Yahudi. Pada awal era Hellenis, ketika kerajaan Yunani menjajah Yehuda, muncul gerakan Makkabe yang sempat membuat bangsa Yehuda merdeka untuk beberapa tahun. Setelah itu muncul pula gerakan Zelotis yang menentang kekaisaran Romawi dengan tindakan kekerasan.

Nubuatan yang tercetus sejak zaman nabi Yesaya akan “mesias politik”, sosok yang dikenal akan mengembalikan kekuasaan Israel seperti (atau bahkan lebih) dari era Daud, juga menjadi respons dan harapan terkuat dari bangsa Yahudi (bahkan hingga saat ini). Ketika muncul tokoh-tokoh berkarisma, tak sedikit orang-orang mengharapkan sosok tersebut merupakan mesias yang dijanjikan. Salah satu tokoh yang sempat dianggap sebagai Mesias ialah Yohanes Pembaptis (Lukas 3:15).

Sosok Yesus pun dinilai berkarisma, dapat membuat banyak mujizat, dan tepat untuk dinilai sebagai mesias politik. Maka sungguh layak jika Petrus mengakui Yesus sebagai mesias (Lukas 9:20); begitu pula kerumunan orang dekat Yerusalem di jalanan menurun dari Bukit Zaitun yang menyambut-Nya sebagai Raja dalam nama Tuhan (Lukas 19:35-38)—yang kini dihayati umat Kristiani sebagai Minggu Palma.


Photo by Allen Taylor on Unsplash

Mendapatkan dukungan dari banyak orang Yahudi maupun non-Yahudi, terlebih dilekatkan dengan label jagoan, dan mesias politik, tidak membuat Yesus tergoda lalu menggunakan kesempatan tersebut untuk memberontak. Dalam Matius 22:15-22, Yesus sebenarnya memiliki peluang untuk melakukan kudeta kepada Herodes dan pemerintah Romawi. Seandainya Ia menyatakan bahwa, “Tidak diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar”, tentu golongan Zelotis maupun pengikut Yesus akan terpacu untuk melawan penjajah bangsa Yahudi. Namun Yesus justru menyatakan dirinya sebagai Mesias pembawa damai, yang melakukan perjuangan lewat kasih pengampunan.

Ajaran kasih pengampunan Yesus, terlebih melalui kematian dan kebangkitan-Nya, dihidupi dengan baik oleh para murid dan pengikut Kristus mula-mula. Mereka tetap hidup saling mengasihi dalam komunitas dan tidak ikut andil dalam peristiwa perang antara Yahudi dengan prajurit Romawi di tahun 70 M. Walaupun pengikut Kristus tersebar di wilayah kekuasaan Romawi dan hidup tertindas secara sosial, ekonomi, politik dan kehidupan religius, keyakinan untuk mengasihi terus menerus diajarkan.

Paulus pun dalam surat pastoralnya kepada Timotius yang hidup bersama jemaat di Efesus, menasehatkan agar umat Kristen: menaikkan permohonan, doa syafaat, dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan (1 Timotius 2: 1-2).


Photo by Allen Taylor on Unsplash

“Dildo”, Mesias Politik yang menghibur. Aksi Nyata Perlu Dinyatakan.

Mesias politik masa kini sangat mungkin dibutuhkan karena kekesalan terhadap situasi politik yang ricuh. Pasangan fiktif Nurhadi-Aldo memang seolah diciptakan untuk memberi angin segar dalam kondisi pemilu yang makin memanas. Walaupun fiktif, semangat mendatangkan kedamaian tersebut dapat terwujud. Sangat mungkin pula umat Kristen menghadirkan kedamaian itu secara nyata di tengah ketegangan, perseturuan, dan fanatisme politik tertentu—sama seperti Yesus yang tidak menciptakan kegaduhan politik. Atmosfer damai pun bisa kita hadirkan tanpa harus melabelkan orang sebagai ‘cebong’ atau ‘kampret’, melainkan melihat semua kubu sebagai ciptaan Allah yang perlu hidup dalam kasih.

Kita memang dibatasi untuk memilih para politikus yang tak sempurna. Dengan ketidaksempurnaan tersebut, justru doa dan ucapan syukurlah yang perlu kita naikkan kepada siapa pun yang sedang atau akan menjabat, agar mereka diberi hikmat oleh Allah untuk membawa Indonesia lebih damai. Mari bersama Indonesia dalam kasih yang damai dan mempersatukan, karena kasih Allah adalah kasih yang #mahaasyik.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE