Hikmat Pemilu dalam Ketritunggalan Allah

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 17 Maret 2019
Kebenaran yang sesungguhnya hanya bersumber dan hanya bisa didapatkan di dalam Allah saja, bukan?

Saya tertarik dengan keunikan dari tema Natal tahun lalu yang diangkat oleh Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yaitu “Yesus Kristus Hikmat Bagi Dunia”. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya—yang mengangkat tema tentang keselamatan, kedamaian, keluarga dan aneka tema mainstream lainnya—tahun ini mereka mengajak umat untuk memiliki hikmat dalam menjalani berbagai pergumulan hidup, khususnya dalam menghadapi tahun politik. Selain itu, PGI dan KWI juga mengeluarkan surat resi bertemakan hikmat, yang dikorelasikan dengan berbagai persoalan sosial-politik yang terjadi di negeri ini; khususnya kasus-kasus dalam bidang ekonomi, politik, agama, ekologi, dan kasus-kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu.

Dugaan saya, tahun 2019 ini akan menjadi tahun ketika semua pihak akan berlomba-lomba mengklaim dirinyalah yang paling benar—dengan berbagai argumentasi pendukung yang ada di belakangnya. Kebenaran yang objektif akan dikaburkan dengan kebenaran subjektif—tergantung siapa yang berbicara, lembaga apa yang mendukung argumentasinya, serta kelompok mana yang akan diuntungkan. Pada akhirnya, kebenaran hanya akan menjadi sebuah barang dagangan yang dipertontonkan ke publik demi keuntungan kelompok tertentu.



Photo by Ashton Bingham on Unsplash


Kita tentu tahu bahwa kebenaran yang sesungguhnya hanya bersumber dan hanya bisa didapatkan di dalam Allah saja, bukan? Maka sekarang pertanyaannya adalah:
1. bagaimana caranya kita dapat menemukan kebenaran-Nya di tengah dunia?;
2. bagaimana caranya kita mengeliminasi kebenaran-kebenaran dunia sehingga kita dapat menemukan kebenaran Allah?;
3. atau mungkin, haruskah kita terlebih dahulu pergi dari dunia, sehingga kita dapat menemukan kebenaran Allah setelah berada di surga nanti?

Jawaban untuk tiga pertanyaan di atas adalah “TIDAK”, setidaknya itu yang diyakini oleh St. Thomas Aquinas, seorang bapa gereja di abad ke-13. Melalui kalimat pendek-dan-terkenalnya, “An error about the world redounds in error about God”, Aquinas menyiratkan bahwa cara memahami Allah dan kebenaran-Nya bukan dengan cara pergi meninggalkan realita yang dunia miliki, tetapi justru turut hadir dan terlibat di dalamnya, bersama dengan segala pergumulan yang ada.

Pada kenyataannya, Allah dapat dirasakan melalui kerusakan struktur sosial-politik yang melatarbelakangi bebagai pergumulan hidup manusia. Allah pulalah yang menuntun umat-Nya untuk melakukan intervensi terhadap kebenaran duniawi agar menjadi kebenaran Allah yang terpatri di dunia.

Pertanyaan selanjutnya adalah:

Bagaimana cara kita menerjemahkan kebenaran Allah yang bersifat spiritual ke dalam dunia yang bersifat materil?

Bagi saya, cara terbaik untuk menjawab pertanyaan di atas adalah dengan terlebih dahulu mengenali pribadi Allah kita, yaitu Allah Tritunggal.



Photo by Felix Koutchinski on Unsplash


Leonardo Boff memaknai hubungan pribadi Bapa, Putra, dan Roh Kudus sebagai suatu perikhoresis abadi (perikhoresis: tarian yang serasi, sinergi, dan berkesinambungan). Perikhoresis hendak menggambarkan Allah Tritunggal yang saling mengisi dan adanya aktivitas saling resap antar-Pribadi.

Secara etimologis, Perikhoresis memiliki beberapa arti; yaitu “berdiam bersama”, dan “berada bersama dan pada pribadi-pribadi ilahi tersebut tidak ada yang mendahului, lebih tinggi, lebih besar, ataupun lebih kemudian”. Makna Perikhoresis dalam ke-tritunggal-an Allah ini menunjukkan bahwa Ketiganya sama kekal, kaya, mahakuasa, bersekutu dari kekal sampai kekal, serta membentuk siklus kehidupan dan kesetaraan bersama.

Menariknya, di dalam pemahaman Allah Tritunggal, ciptaan tidak dikategorikan sebagai objek buatan yang berada di luar Allah, seperti pemahaman agama monoteisme biasa. Sebaliknya, ciptaan merupakan hasil persekutuan cinta kasih Allah yang meluap keluar dan membentuk ”Perikhoresis” serupa dengan asal muasalnya. Oleh karena itu, model persekutuan Allah Tritunggal merupakan sebuah kabar baik bagi seluruh ciptaan-Nya, khususnya manusia.

Jika kita sebagai manusia memahami hal ini dan memperlakukan sesama kita maupun ciptaan lainnya dalam bingkai persekutuan kesetaraan, maka tidak akan ada lagi penindasan antarmanusia maupun eksploitasi alam yang berlebihan. Pemahaman kita yang mengimani bahwa seluruh ciptaan tinggal di dalam Allah, Allah tinggal di dalam seluruh ciptaan, serta Allah jugalah yang menjadi penghubung seluruh ciptaan; akan menghindarkan kita dari keinginan untuk mengeksploitasi.



Photo by Hanbyul Jeong on Unsplash


Konsep Allah Tritunggal juga bisa menginspirasi kita dalam menentukan pilihan di Pemilihan Umum (Pemilu) nanti. Setidaknya, konsep persekutuan tiga Pribadi di dalam diri Allah dapat menjadi refleksi kita tentang mengenai sistem pemerintahan seperti apa yang diinginkan-Nya untuk dijalankan di muka bumi. Atau tentang serta pemimpin seperti apa yang dapat mewakili semangat trinitaris—yang dapat membawa pembebasan bagi kaum miskin dan tertindas.

Sayangnya, saat ini kita diperhadapkan dengan realita kehidupan sosial yang jauh dari semangat dan visi trinitaris. Kita berada di dalam sebuah bentuk tatanan masyarakat yang tidak melibatkan sebagian besar manusia—lucu, bukan? Hampir semua bidang seperti politik, ekonomi, maupun sumber daya alam, dikuasai dan dimonopoli hanya oleh segelintir orang saja. Padahal di sudut lain di negeri ini, masih banyak orang miskin dan tertindas sedang menuntut keadilan. Buruh yang diupah tidak layak, petani yang dirampas tanahnya, orang-orang yang dipersekusi hanya karena orientasi seksual yang berbeda, dan korban pelanggaran HAM berat pada tahun 1965 maupun 1998 yang sampai hari ini tidak jelas penyelesaian kasusnya.

Dari manakah kaum marginal itu harus menimba iman, menyauk ilham, dan menaruh pengharapan akan datangnya keadilan dan kebenaran? Di sinilah gema istimewa dari iman akan Trituggal Mahakudus dan misteri Perikhoresis-Nya disuarakan. Karena Allah Tritunggal sendiri merangkul manusia dan semesta untuk bersekutu di dalam diri-Nya.

Masyarakat yang terinspirasi dari visi trinitaris akan membentuk suatu struktur masyarakat yang lebih mengutamakan persekutuan daripada hierarki, pelayanan daripada kekuasaan, bersifat sirkular daripada piramidal, dan semuanya akan menghasilkan sosok pemimpin yang merangkul ketimbang otoriter.



Photo by Nick Agus Arya on Unsplash


Trinitas merupakan model bagi kehidupan bermasyarakat yang adil, yang mengindahkan persamaan, dan menghargai perbedaan. Melalui pengenalan akan Allah Tritunggal, kita dapat memahami kebenaran yang berasal dari-Nya, dan atas dasar iman inilah kita dapat mengharapkan, mengimani, serta mengusahakan sebuah bentuk masyarakat yang dapat menjadi gambaran trinitas— salah satu caranya dapat kita mulai dengan menentukan kriteria calon pemimpin bangsa ini.

Sudahkah kamu menentukan pilihan untuk Pilpres 2019 nanti? Bila sudah, apakah pilihanmu itu telah mewakili visi dan semangat Allah Tritunggal?

Rekomendasi Buku untuk Bacaan Lanjutan:
Boff, Leonardo. 2004. Allah Persekutuan. Terjemahan Aleksius Armanjaya dan Georg Kirchberger. Maumere: Ladalero.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE