Inilah Ciri-Ciri Garam yang ‘Salah’ – Apakah Kita Salah Satunya?

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 6 April 2019
Kamu adalah apa yang kamu tabur.

Ini adalah pernyataan yang timbul dalam benak saya ketika memikirkan apa artinya diri saya sebagai seorang peniru Kristus. Saya teringat apa yang Tuhan Yesus katakan, “Kamu adalah Garam Dunia.” Ia mengatakan hal ini karena Ia ingin para pengikut-Nya sadar bahwa mereka adalah garam dan oleh karena itu, harus mampu menjadi orang-orang yang berguna buat dunia ini. Kristus sendiri telah memberi banyak contoh bukan hanya agar kita sekedar paham apa maksudnya menjadi Garam Dunia tetapi juga agar kita tidak menjadi garam yang salah.

Garam menjadi ‘salah’ jika satu dari dua kondisi ini terjadi: kehilangan fungsinya dari asin menjadi tawar, atau fungsinya tidak lagi pas. Misalnya, garam itu membuat sesuatu menjadi terlalu asin, sehingga bukan cuma membuat rasa tidak enak, tetapi bahkan bisa membuat kehidupan enggan untuk singgah seperti di Laut Mati yang saking berat kadar garamnya, tidak ada ikan yang bisa hidup di sana. Garam yang salah tidak akan pernah berguna bagi siapapun selain menjadi sampah, diinjak dan dibuang oleh siapapun. Lalu bagaimana para peniru Kristus bisa menjadi garam yang salah?

Garam Sebagai Kutuk
Di beberapa bagian Alkitab, garam seringkali dihubungkan dengan masalah ketidaksuburan. Dalam Ul. 29:23, ketidaksuburan tanah disebabkan karena garam dihubungkan dengan peristiwa Sodom dan Gomora. Hal yang paling penting adalah bahwa ketidaksuburan ini merupakan kutukan karena ketidaktaatan orang-orang yang melanggar perjanjian Allah (ay. 25). Ketidaksuburan yang dihubungkan dengan garam ini juga muncul dalam Ayub 39:6; Yer. 17:6 dan Zef. 2:9. Garam seringkali diidentikkan dengan ketidaksuburan karena garam itu tidak memiliki benih (Reformed Exodus Community dalam artikel terbitan Agustus 2015).

Ketidaksuburan adalah keadaan yang tidak mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan sehingga tidak menghasilkan sesuatu yang berguna. Seperti tanah yang kehilangan humusnya, yang tersisa adalah kegersangan. Apa jadinya bila mereka yang percaya Kristus justru menjadi penyebab kegersangan dunia itu sendiri? Dunia menjadi tidak subur buat semua hal yang baik, indah, dan manis justru karena keberadaan orang-orang yang mengaku percaya Kristus.



Photo by Oscar Keys on Unsplash


Garam Sebagai Berkat
Alkitab memberikan beberapa gambaran tentang bagaimana umumnya garam dipakai, khususnya dalam konteks bangsa-bangsa Timur Tengah kuno, dimana sebagian kebiasaan ini masih dipraktikan di zaman modern.

Umumnya, garam memiliki keistimewaan dalam mengawetkan makanan atau bahan makanan agar bisa tahan lama untuk dikonsumsi. Ini bisa membuat manusia terhindar dari pemborosan. Garam sanggup menahan laju perkembangan bakteri pembusuk makanan. Ide pokok yang didapat dari fungsi garam ini ialah permanensi yaitu kemampuan atau kesanggupan untuk membuat sesuatu tidak berubah. Jika dikaitkan dengan keinginan Kristus, para pengikut-Nya perlu punya kompetensi untuk melawan atau setidaknya menahan laju pembusukan dunia ini oleh dosa dan kejahatan agar banyak manusia bisa tetap memperoleh berkat-berkat dari Tuhan melalui para pengikut Kristus.

Di Timur Tengah masa lampau, garam juga dipakai sebagai simbol persahabatan melalui perjanjian. Pihak-pihak yang saling berjanji akan menelan garam sebagai tanda perjanjian persahabatan. Alkitab mencatat istilah ‘perjanjian garam’ untuk perjanjian yang diadakan antara Tuhan Allah dengan umat Israel (Bil. 18:19; Ima. 2:13) dan antara Tuhan Allah dengan dengan keturunan Daud (2 Taw. 13:5). Ketika orang-orang percaya dipanggil menjadi garam, itu berarti kita diminta untuk menjadi berbeda dari dunia ini dengan menjadi sahabat bagi dunia ini. Ini bukan berarti bersahabat dengan dunia: kita menjalani jalan dunia ini (satu tujuan), berdiri dengan dunia ini (di pihak yang sama), dan duduk bersama dunia ini (menjadi serupa dengan dunia). Menjadi sahabat bagi dunia berarti menjadi berbeda bukan supaya eksklusif, arogan, dan serba konfrontatif terhadap dunia, tetapi agar kita sanggup berbela rasa dengan dunia ini.

Artikel di Reformed Exodus Community (Agustus 2015) juga mencatat garam sebagai lambang penyucian. Ketika penduduk Yerikho mendatangi Nabi Elisa dan melaporkan bahwa air di kota itu tidak baik serta mengakibatkan keguguran bayi, Elisa menaburkan garam sehingga dikatakan, “Demikianlah air itu menjadi sehat sampai hari ini sesuai dengan firman yang telah disampaikan Elisa” (2 Raja 2:18-22). Penyucian yang dimaksud sepertinya lebih terkait dengan urusan medis. Fungsi garam secara medis sampai hari ini masih dipraktikkan para ibu di Timur Tengah ketika seorang bayi baru lahir (Yeh. 16:4). Tindakan ini dipahami sebagai metode untuk membersihkan dan menguatkan kulit bayi. Namun, tindakan menggosok bayi dengan garam juga ditafsirkan sebagai simbol mengusir roh-roh jahat dan setan dari diri bayi itu.

Dari ilustrasi dan contoh di atas tentang fungsi garam, bisa disimpulkan bahwa Yesus ingin supaya kita meniru apa yang telah Ia kerjakan, yaitu menentang dan melawan dosa dan kejahatan tetapi dengan tetap mengasihi orang-orang berdosa itu sendiri. Kita tetap ada di dalam dunia ini tetapi tidak mengasingkan diri dari dunia ini atau menjadi larut bersama dunia ini.



Photo by Priscilla du Preez on Unsplash


Pelajaran dari yang Lalu
Barangkali ada satu atau lebih peristiwa yang bisa menjadi perenungan kita tentang apa dan bagaimana seharusnya kita berfungsi sebagai garam dunia. Tahun 1453 merupakan era berakhirnya pengaruh dan dominasi Kekristenan di Dunia Timur, setelah orang-orang Turki berhasil menguasai Konstantinopel, sebuah kota dagang makmur dan pusat Kekristenan di Timur di masa silam. Kini kota tersebut beralih nama menjadi Istanbul. Apa yang terjadi sebenarnya sehingga terjadi malapetaka itu?

Konstantinopel selama ratusan tahun adalah seperti sarang semut atau lebah. Sebuah tempat dimana banyak para cendekiawan dan hartawan Kristen menumpuk di kota itu berabad-abad. Bahkan Universitas Konstantinopel telah berdiri jauh sebelum beberapa universitas terkenal di dunia bermunculan. Masalahnya, penduduk kota itu tidak belajar dari apa yang Tuhan ijinkan terjadi di Yerusalem tahun 70 Masehi ketika Jenderal Titus menghancurkan kota dan mendorong banyak eksodus baik kaum Yahudi maupun orang-orang percaya. Memang Allah ingin berita sukacita, yang adalah berkat bagi manusia, tidak hanya disimpan di satu tempat saja tetapi disebarkan ke seluruh dunia.

Apa yang terjadi di Konstantinopel sebenarnya adalah blessing in disguise. Tampak hancur, berantakan, dan berserakan, tetapi peristiwa memilukan itu justru mendorong banyak para scholar Bizantin (Romawi Timur dan berbahasa Yunani) yang selama itu ngetem di Konstantinopel. Mereka terpaksa dan dipaksa menyebar ke seluruh penjuru Eropa Barat dan Utara yang pada gilirannya nanti memunculkan dua gerakan besar dalam sejarah dunia yaitu Renaisans dan Reformasi. Melalui dua gerakan ini akhirnya Eropa mengenal peradaban yang maju, dan bahkan banyak orang dari seluruh dunia menuntut ilmu di sana. Tuhan mengijinkan kekristenan untuk hancur di satu tempat justru untuk menjadi garam di tempat lain.



Photo by Jed Villejo on UNsplash


Bijaksana dari Laut Mati
Kita bisa melihat apa yang seharusnya dilakukan para penerima berkat: menjadi saluran berkat. Itu dilakukan dengan penyebaran berkat-berkat kemanapun, sampai ke ujung dunia. Laut Mati di wilayah Yudea adalah laut yang cukup luas. Namun, mengapa disebut ‘mati’? Air yang berasal dari es di Gunung Hermon di Libanon dan mengalir ke Danau Galilea sebelum diteruskan oleh Sungai Yordan akhirnya mampat di Laut Mati, karena dari sana air tidak bisa mengalir lagi. Tempatnya lebih rendah dari daratan sekitarnya. Ini berlangsung selama ribuan tahun dan membuat Laut Mati hanya menjadi tempat endapan dengan kandungan garam yang begitu berat. Akibatnya jelas: laut ini menjadi lingkungan yang tak ramah untuk kehidupan.

Ingin tetap hidup? Janganlah seperti Laut Mati. Kalau yang kita inginkan adalah kehidupan dan kalau kita percaya kehidupan itu indah, pikirkan Laut Mati.

Menjadi Sadar dan Bertindak
Kita seharusnya paham kalau kita memang garam. Persoalan kita bukanlah bagaimana caranya menjadi garam dunia, melainkan garam seperti apakah atau yang manakah kita ini? Garam berkat atau garam kutuk? Lalu, kita mestinya sadar bahwa walaupun Tuhan Allah panjang sabar, Dia bisa mengijinkan malapetaka terjadi pada kita agar kita sebagai garam benar-benar bisa tersebar secara merata di dunia. Blessing in disguise bukan hanya demi kebaikan kita, tetapi juga demi kebaikan bersama agar Allah yang sejati boleh dikenal oleh dunia.

Layaknya seorang petani yang menabur, demikian juga dengan komunitas orang percaya. Ilustrasi lain seringkali menggambarkan peran dan fungsi orang-orang percaya sebagai penabur benih-benih kebenaran dan kebaikan. Kali ini, mengapa tidak kita menggambarkannya sebagai penabur garam yang menabur garam berkat?

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE