Kala Yesus Nongkrong Bareng Presiden

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 26 Maret 2019
Yesus sedang ingin menunjukkan, bahwa pengharapan yang Ia bawa tidak sama seperti yang dunia tawarkan. Ia tidak menawarkan jalan perdamaian dengan kuasa tirani yang menindas dan membelenggu seperti yang kaisar lakukan.

Dua pengalaman pertama saya memilih wakil rakyat rasanya masih begitu segar di ingatan. Ingatan pertama membawa saya kembali pada tahun 2012, tepat ketika saya berusia 17 tahun. Saya ingat ketika saya mendapatkan KTP sekaligus sepucuk surat yang menandakan saya masuk ke dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta. Pada hari pencoblosan, perasaan saya campur aduk. Jantung saya berdegup kencang seiring saya melangkahkan kaki ini ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) tempat saya akan mencoblos.

Ingatan kedua terjadi di tempat berbeda tahun 2014 silam. Saya mengikuti Pemilu di Malang karena kuliah yang sedang saya ampu. Memilih di luar domisili mengharuskan saya berjuang mengurus surat keterangan A5 di daerah asal demi pesta demokrasi lima tahunan ini. Kali ini saya lebih percaya diri karena saya mencoblos bersama dengan teman-teman kampus. Kami begitu menggebu-gebu mengikuti Pemilu dengan semangat dan idealisme ala kaum muda. Akhir dari pengalaman itu ialah sebuah foto bersama yang kami abadikan sebagai tanda kebanggaan kami yang telah berjuang dan berpartisipasi di dalam Pemilu.

Dari dua pengalaman ini, satu pertanyaan selalu terngiang di benak saya, “Apa yang sebetulnya sedang saya perjuangkan?” Rasanya pertanyaan ini menjadi sulit dijawab ketika direnungkan sambil melihat atmosfer perpolitikan di Indonesia saat ini: menguatnya politik identitas dan primordialisme; pasangan calon (Paslon) dan koalisinya yang kerjaannya cuma saling sindir ketimbang bersaing visi misi; sampai kepada media sosial yang menjadi tempat tebar isu hoax sana-sini. Aroma persaingan semakin mengaburkan tujuan perjuangan ketika masih ditambah perasaan inferior sebagai anak muda atau pemilih pemula, yang sering dilabeli kurang berpengalaman; serta—untuk saya—pemeluk agama Kristen, yang berstatus minoritas.



Photo by Devin Justesen on Unsplash


Sebagai orang yang beriman kepada Kristus, apa betul ada yang bisa saya perjuangkan lewat Pemilu? Kalau pertanyaan ini kita tujukan kepada orang-orang Kristen mula-mula, maka rasanya ini bukan pertanyaan yang asing bagi mereka. Alasannya? Karena mereka berkaca langsung dari Teladan Agung iman mereka, Yesus Kristus.

Saat membaca kehidupan Yesus dalam kitab Injil, maka Rabi yang satu ini bisa dikatakan punya dampak yang besar dalam dunia politik masa itu. Bayangkan saja, sejak baru keluar dari rahim Maria, Ia sudah bersinggungan dengan penguasa setempat, sampai-sampai Herodes merasa terancam dan mengeluarkan titah untuk melakukan pembunuhan masal (Mat.5:16-18). Kelahiran Yesus pun dinyatakan sebagai sebuah Injil kabar baik (euangelion), sebuah proklamasi yang hanya bisa digaungkan oleh kaisar, sang penguasa kerajaan Romawi (Mrk.1:1).

Pelayanan-Nya pun tidak lepas dari pergunjingan seputar membayar pajak kepada Kaisar, melayani pemungut cukai, dan lain sebagainya. Kiprah Yesus yang terus menggelitik perpolitikan zaman itu pun sampai kepada titik klimaksnya ketika berada pada detik-detik akhir menjelang penyaliban-Nya. Kali ini, Ia berhadapan muka dengan muka dengan Pontius Pilatus, seorang pejabat Romawi setempat kala itu.



Photo by Johny McClung on Unsplash


Injil Yohanes menggambarkan narasi proses pengadilan Yesus oleh Pilatus dengan sudut pandang yang berbeda (Yoh.18:28-19:15). Di sepanjang Injilnya, sang penulis lebih sering mengutarakan maksud tulisannya dengan menaruh fokus kepada dialog antara Yesus dengan figur lain yang Ia temui, mulai dari Nikodemus (Yoh.3: 1-21), perempuan Samaria (Yoh.4:1-42), sampai kepada Petrus (Yoh.21:15-23).

Sebagai Firman yang menjadi daging, dialog Yesus dengan banyak orang ingin menunjukkan bagaimana kerajaan Allah yang Ia bawa itu dinyatakan di tiap lapisan masyarakat, mulai dari pemimpin religius Yahudi, sampai kepada perempuan Samaria yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Secara khusus, ketika Yesus berdialog dengan Pilatus, Injil Yohanes sedang mempertontonkan sebuah dialog antara dua kerajaan: kerajaan Allah yang diwakili oleh Yesus, dan kerajaan Romawi yang diwakili oleh Pilatus.



Photo by Johny McClung on Unsplash


Namun, rupanya, perkataan Pilatus justru menjadi celah bagi Yesus untuk menyatakan visi kerajaan Allah. “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini,” tegas Yesus (Yoh.18:36). Yesus sedang ingin menunjukkan, bahwa pengharapan yang Ia bawa tidak sama seperti yang dunia tawarkan. Ia tidak menawarkan jalan perdamaian dengan kuasa tirani yang menindas dan membelenggu seperti yang kaisar lakukan.

Yesus, yang sedang dipasung dan ditawan, sanggup menantang Pilatus dan bahkan kaisar sendiri, “Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas” (Yoh.19:11). Yesus yang berdialog dengan Pilatus sedang menunjukkan bahwa nilai kebaikan bersama tidak dicapai dengan tangan besi, tetapi dengan pengorbanan dan penyerahan diri yang membawa-Nya ke kalvari.

Kemenangan dan kuasa-Nya tidak diukur dari berapa luas wilayah yang Ia kuasai atau berapa banyak orang yang bisa Ia atur dan kontrol, tetapi dari bagaimana pengharapan itu dinyatakan. Pengharapan ini adalah berita tentang Kerajaan Allah yang sudah datang! Sejak saat itu, dunia tidak pernah sama lagi. Bahkan, jika boleh dikatakan, dunia politik tidak pernah sama lagi.



Photo by Toa Heftiba on Unsplash


Jadi, apa yang sedang kita perjuangkan di dalam Pemilu? Kalau saya, saya ingin memperjuangkan agar kelingking saya berubah warna menjadi ungu. Kenapa? Karena pada waktu itulah dengan bangganya saya sedang memperjuangkan sebuah dialog sederhana antara Yesus dan presiden kita kelak. Sebuah dialog yang mempertontonkan nilai Kerajaan Allah di ruang publik Indonesia.

Ketika dunia melihat bahwa pengikut-pengikut Kristus ingin terlibat aktif di dalam kebaikan bersama bangsa ini, maka dunia dapat melihat Yesus yang sedang nongkrong bareng presiden kita. Ketika kita memilih pemimpin yang memperjuangkan visi kebaikan bersama, menyuarakan keadilan dan kebenaran, maka di situ kita akan melihat Yesus sedang menegur orang-orang yang haus kekuasaan, sekaligus merangkul mereka yang memang ingin mewujudkan perdamaian dan pengharapan di bumi pertiwi ini. Jadi, mau ikut ngopi-ngopi bareng Yesus dan presiden?

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE