Ketika Impian Tidak Segera Terwujud.

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 30 November 2018
Keindahan mencintai Allah hadir dalam ketidakpastian yang Dia izinkan.

Pernahkah kita membayangkan bagaimana jika mimpi, harapan, dan cita-cita kita tidak tercapai? Ketika itu semua terjadi, apa kita masih bisa percaya pada Allah? Apa kita yakin tidak akan menahan diri kita untuk datang kepada-Nya? Padahal dari kecil, kita selalu diajarkan bahwa Allah akan mengabulkan semua doa dan permintaan kita, karena kita adalah anak-anak-Nya. Sayangnya, ternyata Allah tidak sesimpel itu, kawan! Dia engga main asal ngabulin permintaan macam pesulap. Jangan kira juga, Allah seperti seorang Bapak yang takut dan menghindari anak-Nya ngambek lalu langsung mengabulkan apapun permintaan anak. Kisah Yeremia adalah contoh dari hal ini.

Yeremia adalah salah satu nabi dalam Perjanjian Lama. Ia bernubuat dan berkarya selama pemerintahan lima raja Yehuda, yaitu pada masa raja Yosia, Yoahas, Yoyakim, Yoyakhin, dan Zedekia. Yeremia adalah nabi yang melihat kebangkitan Israel di tangan pemerintahan raja Yosia, sekaligus nabi yang melihat pembuangan bangsa Israel oleh Babel pada tahun 589 SM. Dia juga memiliki rentang waktu pelayanan yang sangat panjang, di mana dalam perjalanannya dia melihat “jatuh-bangun” Israel di tangan penjajah, juga kejatuhan Israel dalam dosa. Namun, Yeremia selalu setia menjalankan tugasnya sebagai pembawa pesan Allah. Ia tidak pernah lari atau meninggalkan tugasnya dan selalu memiliki pengharapan akan penyataan kuasa Allah untuk membebaskan Israel.

Hingga akhir hayatnya, Yeremia tidak melihat Janji Allah digenapi seperti yang tertulis di dalam Yeremia 33 yang memiliki judul “Janji pemulihan keadilan Yerusalem dan Yehuda”. Janji Allah tidak pernah dirasakan olehnya hingga ia mati. Namun, harapan dan keyakinan yang selalu dinyatakan oleh Yeremia bahwa Allah akan bertindak dan membebaskan bangsa Israel dari para penjajah tetap hidup bagi orang Israel. Mengecewakan bagi Yeremia? Tentu. Yeremia yang sepanjang hidupnya selalu berbicara tentang harapan, tentang Allah yang akan bertindak atas bangsa Israel agar mendapatkan keadilan, justru tidak pernah melihat janji Allah itu digenapi. Menyakitkan memang, bahwa apa yang diharapkan oleh Yeremia tentang pembebasan Israel tidak terjadi dalam masa hidupnya.



Photo by Hoach Le Dinh on Unsplash


Teman-teman, bukankah hidup kita kadang seperti Yeremia? Banyak hal yang kita harapkan terjadi dalam kehidupan ini, namun sampai saat ini belum ada yang terwujud. Banyak hal yang dimimpikan sejak lama, namun hal tersebut belum juga menjadi kenyataan. Berharap namun tak terwujud, bermimpi tetapi sering tidak terjadi. Justru di situ letak keindahan dalam mencintai Allah.

Keindahan mencintai Allah hadir dalam ketidakpastian yang Dia izinkan. Misalnya, ketika Dia berkata “tunggu” atau “tidak”. Perlu disadari bahwa sebagian orang Kristen menganggap kehidupan yang sudah ditebus akan berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti. Sabar dulu kawan, hidup tidak sesimpel itu bagi Allah kita.

Jika semua pergumulan yang ada dalam kehidupan dapat dilalui dengan mudah, lalu bagaimana dapat melihat kualitas iman yang dimiliki orang Kristen? Belajar dari iman Yeremia kepada Allah, meskipun pada akhirnya ia tidak pernah melihat janji Allah digenapi, namun janji Allah tetap terlaksana di kemudian hari. Pada tahun 538 SM Koresh Agung mengeluarkan perintah yang mengizinkan orang Yahudi kembali ke Yerusalem.

Peristiwa ini mengingatkan, bahwa mungkin Allah memang tidak mengizinkan saya untuk menjadi saksi impian saya terkabul, untuk meraih mimpi saya sendiri. Mungkin Allah memang belum mengizinkan saya untuk mewujudkan apa yang saya harapkan. Tetapi, Allah menepati janjinya pada generasi setelah saya. Impian saya tidak mati, namun ia tumbuh perlahan. Ada kalanya, perwujudan harapan itu dinikmati oleh orang lain, di masa yang berbeda, setelah kita tiada. Sama halnya dengan Daud yang tidak diizinkan mendirikan Bait Allah, namun justru anaknya, Salomo, yang mendapat kepercayaan untuk tugas mulia itu.



Photo by Miguel Bruna on Unsplash


Kesadaran akan Allah yang tetap menggenapi janji-Nya, membuat seorang Kristen menjadi gigih berjuang, sebab ia menyadari bahwa setiap impiannya tidak mudah diraih, namun Allah yang ia sembah menaruh perhatian kepada doa dan harapannya.

Bersamaan dengan itu, kesadaran bahwa berkat dan janji Tuhan tidak selalu melulu tentang diri sendiri dan “saat ini”, dapat membuat seorang Kristen menjadi pribadi yang legowo dalam menjalani kehidupannya.

Berkat, penggenapan janji-Nya, dan pencapaian cita-cita kita tidak harus selalu tentang diri kita sendiri dan tidak harus terjadi saat ini juga.

Di dalam penantian sering terselip ketidakpastian. Tapi jangan berkecil hati, sebab iman yang mantap justru adalah iman yang tumbuh di dalam ketidakpastian. Nilai dari iman itu sendiri adalah mempercayai meskipun belum terjadi. Pertanyaannya untuk sebagian orang Kristen yang mengaku sebagai orang beriman dan mencintai Allah adalah: “Maukah kita tetap percaya kepada Allah meskipun impian dan harapan pribadi tidak terwujud? Masih mampukah kita tetap menyembah dan mengasihi Allah meskipun kita sedang hidup di tengah penantian yang tidak pasti akan harapan untuk kehidupan ini?”



Photo by Giovanni Ribeiro on Unsplash


Sudjiwo Tedjo, seorang seniman terkenal mengatakan, “Kadang Tuhan itu seperti orang yang memberikan uang kepada pengamen. Jika orang itu suka dengan suara pengamen tersebut, maka ia akan membiarkan pengamen itu bernyanyi lebih lama. Namun jika orang tersebut tidak suka dengan pengamen karena suaranya jelek, ia ingin pengamen tersebut cepat-cepat pergi dengan memberi uang”. Tidak perlu berkecil hati jika Allah seolah-olah membiarkanmu berada di tengah penantian.

Mungkin bagi-Nya kamu adalah seorang pengamen yang mengasyikkan yang bersuara merdu bagi Allah, sehingga Ia sungguh menikmati setiap tarikan suaramu dan sangat menyukai dirimu. Nikmati saja ketidakpastian yang sedang ada, itu juga termasuk dalam cara asyik Allah mengasihi kita.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE