Makna Penting Kelahiran Yesus

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 22 Desember 2018
Kelahiran (natalitas) adalah dasar dari berputarnya dunia sampai hari ini. Kelahiran Bayi Yesus sendiri bukan hanya sebuah Awal sejarah yang baru, tapi juga Awal dari bumi yang baru, Yerusalem baru yang dijanjikan bagi umat pilihan Allah.

Saya punya teori mengenai tahapan perkembangan seorang Kristen dalam merayakan Natal. Begini teorinya.

Sewaktu dia masih balita, fokusnya adalah pada bayi Yesus dan kedua orang tuanya.

Di usia 5-7 tahun , fokusnya adalah pada binatang-binatang yang ada di kandang di sekitar bayi Yesus; di usia 8-10 tahun, fokusnya pada gembala, malaikat, dan orang Majus; di usia 11 tahun hingga dewasa fokusnya ada pada gemerlap dan hura-hura perayaannya.

Waktu dewasa, bergeser lagi, fokusnya pada situasi politis dan aktor-aktor lain dalam cerita Natal, mulai dari Imam Zakharia, herodes dan keputusannya membunuh para batita, sensus Romawi dan lain-lain.

Ini hanya teori saya, tak perlu terlalu serius. Yang pasti, pada Natal kali ini, saya mengajak para pembaca untuk kembali fokus pada kelahiran bayi Yesus, kembali pada arti harafiah kata Latin “Natalis” yang artinya “Lahir.”

Sementara dunia mencatat kelahiran seorang bayi sebagai kejadian alamiah yang tak istimewa sama sekali, atau bahkan diartikan peristiwa bertambahnya satu kepala yang membebani dunia secara statistik dan fisik, percayalah sebenarnys kelahiran seorang bayi selalu menandai mulainya sebuah babak baru dalam cerita sebuah keluarga. Kadang cerita bisa berganti arah dalam babak baru itu. Komedi bisa menjadi tragedi atau sebaliknya. Kebahagiaan bisa menjadi kesengsaraan atau sebaliknya. Cerita drama bisa menjadi cerita horor atau sebaliknya. Air mata ibu yang bersusah selama sembilan bulan lalu sakit bersalin selama berjam-jam berubah menjadi tawa bahagia bersama lahirnya sang bayi. Angan-angan penuh harapan dari seorang ayah selama berbulan-bulan mungkin akan berganti menjadi sakit kepala dan wajah meringis setiap kali bayinya minta susu jam dua dini hari.



unsplash.com


Filsuf wanita terbesar abad 20, Hannah Arendt (seorang Yahudi), dengan serius menunjukkan dalam risalah filsafatnya bahwa kelahiran (natalitas) adalah dasar dari berputarnya dunia sampai hari ini. Dia yakin, sejarah berlanjut dan dunia bertransformasi karena adanya kebaruan (novelty) yang dibawa setiap bayi yang baru lahir dengan keunikan dan kebebasannya masing-masing. Bayi-bayi ini (yang kemudian tumbuh menjadi anak dan dewasa) memiliki kapasitas dan kapabilitas bertindak yang tidak terprediksi atau tidak terantisipasi hasilnya.

Dengan sengaja Arendt melawan gurunya sendiri, filsuf eksistensial terbesar Heidegger, yang mendasarkan filsafat manusianya berdasarkan disposisi, antisipasi, dan eksistensi manusia menuju kematian. Belakangan, Arendt juga memakai filsafatnya ini untuk melawan totalitarianisme yang hendak mengontrol manusia secara total dengan mengeliminasi segala kemungkinan seseorang untuk bertindak di luar kalkulasi suatu sistem organisasi/politik yang mekanistis dan deterministis. Kelahiran adalah awal segala sesuatu yang baru yang tak pernah terprediksi atau terantisipasi oleh siapapun sebelumnya.

Bayi Yesus yang lahir bukan hanya sebuah Awal sejarah yang baru, tapi juga Awal dari bumi yang baru, Yerusalem baru yang dijanjikan bagi umat pilihan Allah. Dalam makna ini, Natal bukanlah sebuah perayaan tutup tahun sebagaimana kita sudah dikondisikan secara psikologis dan liturgis selama ini. Bukankah itu sebabnya banyak gereja mengadakan kebaktian Tahun Baru setelah seminggu sebelumnya Kebaktian Natal? Kebaktian untuk mengawali tahun yang baru yah seharusnya Kebaktian Natal.



unsplash.com


Dalam banyak kebudayaan, nama seorang bayi yang baru lahir lazim dicatat dalam diagram “pohon keluarga”. Injil Matius memulai kisah tentang Yesus dengan sebuah catatan silsilah atau catatan riwayat, geneseos dalam bahasa Yunaninya. Geneseos atau genesis adalah padanan kata Ibrani toledot. Kata “toledot” muncul sebanyak 11 kali di dalam kitab Kejadian (The Book of Genesis). Biasanya diikuti oleh daftar nama-nama keturunan seseorang. Misalnya, toledot dari Adam (5:1) atau toledot dari Nuh (6:9) yang diterjemahkan oleh LAI dengan kata “riwayat” Sementara toledot dari anak-anak Nuh (10:1) diterjemahkan oleh LAI “keturunan” atau toledot dari Ishak (25:19) diterjemahkan LAI “riwayat keturunan.”

Kata “riwayat” bisa juga digunakan untuk mengawali sebuah cerita (contoh: toledot dari Yusuf (37:2) yang mengawali kisah hidup Yusuf) atau mengakhiri sebuah cerita yang mendahuluinya (contoh: “Demikianlah riwayat (toledot) dari langit dan bumi” (2:4) yang mungkin adalah penutup dari catatan tentang asal muasal langit dan bumi dalam ayat-ayat sebelumnya)

Jadi “toledot” bisa berarti kisah asal muasal atau sebuah catatan keturunan seseorang (genealogi). Silsilah (bayi) Yesus dalam Matius 1 dapat memperlihatkan silsilah atau asal muasal bayi Yesus sekaligus sebagai pengantar kisah hidup Yesus. Memperingati Natal berarti juga mengingat bagaimana Yesus yang sudah datang ke dalam dunia telah menambahkan nama setiap orang percaya dalam “toledot dari Yesus Kristus”, bukan hanya Yesus Kristus lahir di hati kita pada hari Natal, tapi juga kita telah dilahirkan menjadi anak-anak Allah karena Kristus, maka hari ini kita juga boleh mengklaim telah masuk ke dalam daftar silsilah Yesus Kristus dan juga kisah hidup-Nya.



unsplash.com


Akhir kata, Inkarnasi Allah, kenosis (pengosongan diri dan mengambil rupa seorang hamba) Allah Anak dan konsepsi Roh Kudus dalam sosok bayi Yesus dirayakan oleh seluruh alam semesta karena kejadiannya yang sangat ajaib.

Selamat! Seorang bayi telah lahir bagi kita; nama-Nya disebut Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa Yang Kekal, Raja Damai dan nama Anda yang sudah dilahirkan kembali karena-Nya kini tercantum dalam silsilah Yesus Kristus.

Selamat Natal, Felicem Natalem Christi, Buon Natale.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE