Memaknai Hidup yang Hanya Sekali (Bagian 2)

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 28 Januari 2019

Hidup manusia seringkali diibaratkan dengan sebuah pertandingan. Pada sambutan-sambutan yang dikumandangkan di upacara kematian, misalnya. Beberapa orang mengutip 2 Timotius 4:7 yang berbunyi, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

Ada juga yang memainkan simbol pertandingan dengan mengaitkan proses pembuahan—di saat sperma berkejar-kejaran berusaha menjadi yang tercepat untuk menemui ovum. Beberapa pembicara motivasi yang saya pernah temui pernah berkata, “Katakan pada teman di kiri-kananmu, kamu adalah juara. Juara pertandingan membuahi sel telur sebelum kamu lahir!” Ya, pernyataan ini ada benarnya juga, ya.

Tetapi tidak hanya itu; Rasul Paulus juga menyebutkan hal serupa pada jemaat di Korintus (1 Korintus 9); mengatakan bahwa jemaat Tesalonika adalah mahkota kemegahannya (1 Tesalonika 2); dengan mudahnya menyebutkan bahwa dahulu jemaat Galatia telah berlomba dengan baik (Galatia 5:7); dan menasihati jemaat Filipi untuk tetap mengerjakan keselamatannya agar Paulus tidak percuma berlomba (Filipi 2:16).

Nah, rupa-rupanya perlombaan ini tidak jauh dari konteks perlombaan di masa itu, yakni sebuah perlombaan lari. Di malam kedua SAAT Youth Camp (SYC) 2018 kemarin, saya bersyukur boleh merenungkan makna perlombaan ini dalam kehidupan pribadi. Ada tiga hal yang disampaikan oleh Pak Samuel Sugiarto yang layak untuk direnungkan:



Photo by Adi Goldstein on Unsplash


1.Berlari dalam panggilan hidup

Banyak orang berkata bahwa yang paling baik adalah melakukan banyak hal. Namun sebaliknya, yang Tuhan mau adalah kita melakukan hal yang tepat.

Kesempatan manusia untuk hidup tidak muncul dua kali; kita tidak percaya reinkarnasi. Jadi kalau hidup kita dipenuhi dengan banyak hal yang tidak mengarahkan kita pada garis finish “pertandingan kehidupan” yang sedang kita tempuh, artinya kita menyia-nyiakan kesempatan untuk menang dan tidak ada lagi artinya untuk menyesal ketika pertandingan sudah selesai nanti.

Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Efesus bahwa kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik. Tidak sembarangan, pekerjaan baik ini ternyata sudah dipersiapkan Allah sebelumnya. Jika boleh diibaratkan dengan pertandingan tadi, sebenarnya Allah sudah membuatkan lintasan lari yang khusus untuk masing-masing hidup kita. Tetapi harus diakui, kita sering menjadi pelari yang lebih memilih memakai jalan pintas atau jalan yang terlihat lebih menyenangkan daripada jalan yang sudah dipersiapkan itu. Lebih parah lagi, bisa jadi kita tidak tahu mengenai eksistensi lintasan Allah tersebut!



Photo by Gabriel Benois on Unsplash


2. Berlari dalam kesucian hidup.*

Bagian lain dari Alkitab yang membahas mengenai perlombaan lari adalah Ibrani pasal 12. Di ayat pertama, dituliskan sebuah ajakan: marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita.

For your information, pada zaman dahulu perlombaan lari dilakukan dengan kondisi telanjang bulat, dengan pertimbangan bahwa jubah akan menambah area gesekan yang secara fisika dapat memperlambat kecepatan atlet.

Ajakan dari penulis Ibrani ini sinkron dengan apa yang disampaikan Paulus di suratnya kepada jemaat di Roma: bahwa dahulu mereka adalah hamba dosa, menyerahkan anggota-anggota tubuh mereka menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan. Bukankah kita juga begitu? Menyerahkan anggota-anggota tubuh kita menjadi hamba kecemaran?

Harus diakui, iya.

Maka dari itu, Alkitab secara keseluruhan menyampaikan isi hati Tuhan, bahwa Ia rindu kita dapat kembali berelasi dengan Dia seperti dulu di Taman Eden. Relasi ini indah, sebab tidak ada dosa di sana.



Photo by Greg Weaver on Unsplash


3. Berlari dalam anugerah Tuhan.

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus….

Bagian selanjutnya dari Ibrani pasal 12 menjelaskan bagaimana kita dapat menyelesaikan pertandingan ini dengan amat jelas. Harus diakui bahwa manusia dalam keberdosaannya tidak dapat menyelesaikan pertandingan hidupnya dengan baik. Buktinya, banyak orang yang gagal memenuhi resolusi tahunan di bulan Januari. Untuk bertahan sejenak dalam satu bulan saja susah, apalagi sepanjang hidup.

Ibrani 12:2 membantu kita untuk dapat mengetahui kunci keberhasilan dalam perlombaan ini, yaitu melihat Yesus, Sang Perfektor. Yesus adalah satu-satunya manusia yang merasakan pencobaan, tetapi tidak berbuat dosa. Buktikan sendiri dalam Alkitab.

Salah satu kejatuhan kekristenan adalah melakukan hal baik tanpa anugerah Tuhan. Kita sering menjadi orang Kristen yang model kehidupan bergerejanya adalah, “duduklah dan tontonlah pertunjukan ini!” Bukankah itu yang kita persiapkan selama berbulan-bulan dengan rangkaian rapat, latihan, dekorasi? Bukankah itu yang sering kita doakan, agar acara kita berjalan dengan baik, lalu supaya lebih terlihat baik, kita menambahkan kata “demi kemuliaan-Mu”?

Saya tidak mengecam acara-acara Kristen yang diadakan di gereja maupun di luar gereja. Saya sendiri begitu; seringkali hanya fokus pada penampilan dan “pelayanan” tanpa melakukannya dengan mata yang tertuju pada Yesus. Pandangan saya kepada-Nya sempat kabur terpapar sorot lampu dan riuh “penonton”.

Seharusnya, saya datang kepada Yesus sambil berkata, aku lemah.

Begitu pula saat saya mengikuti perlombaan hidup ini. Aku lemah.



Photo by Jeremy Yap on Unsplash


Tidak berhenti di sana, mengakui kelemahan tidaklah cukup. Dengan penuh kesadaran, kita serahkan diri yang dulunya adalah hamba dosa menjadi hamba kebenaran yang membawa kepada pengudusan. Hamba adalah properti dari tuannya, tidak memiliki hak apa-apa. Ketika menyerahkan diri menjadi hamba kebenaran, artinya hidup kita bukanlah milik kita lagi. Hidup yang hanya sekali ini dijalani untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk kita yang percaya.

Let God’s grace embrace.

Jika ada waktu ketika membaca tulisan ini, mari sempatkan waktu untuk berdoa sembari merenungkan lirik lagu sekolah minggu ini:

Hidupku bukannya aku lagi
Tapi Yesus dalamku
Hidupku bukannya aku lagi
Tapi Yesus dalamku
Yesus! Hidup!
Yesus dalamku
Hidupku bukannya aku lagi
Tapi Yesus dalamku

*Ada satu video yang menjelaskan topik kesucian hidup dengan amat indah, kamu dapat lihat di tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=VYQvjLave3g

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE