Mematikan Kehidupan, Menghidupi Kematian

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 09 Oktober 2018
Kematian tidak akan lepas dari kehidupan manusia, sebagai konsekuensi pelanggaran sang manusia dan istrinya dari perintah Allah. Namun, Allah tak serta merta meninggalkan mereka!

Membicarakan kata “mati” bagi sebagian orang adalah hal yang tabu. Sangat jarang suami berbicara kepada istrinya, agar ketika salah satu dari mereka “mati” maka yang lain harus dikubur di sebelahnya. Atau ketika seorang jemaat sakit, sangat jarang pihak gereja mendoakan agar orang tersebut bisa “mati” dengan tenang, lebih banyak yang memilih berdoa agar bisa diberikan kesembuhan. Nyatanya setiap kita pasti akan “mati”, bahkan sejak mulanya manusia memilih “mati” daripada hidup kekal, namun manusia berpura-pura menghiraukan sang “kematian” sebagai pilihan hidupnya.



Photo by Rhodi Alers de Lopez on Unsplash


Ignite people mungkin berpikir, memang siapakah yang memilih “mati” dan alasan apa yang mendasari manusia lebih memilih “mati” ? Dengan keterbatasan tulisan ini, semoga bukan hanya menjawab pertanyaan tersebut, namun juga mampu memotivasi kita untuk bertanggungjawab atas pilihan tersebut dan menyiapkan kematian yang semoga hanya datang sekali.


Semua Kesalahannya

Membaca perikop “Manusia Jatuh ke Dalam Dosa” dalam Kejadian pasal 3 buat sebagian besar orang Kristen adalah hal yang biasa. Banyak kelas Pendalaman Alkitab memahami bahwa peristiwa Adam dan Hawa yang memakan buah pengetahuan yang baik dan benar membuat manusia mati, dalam pemahaman hubungan yang terpisah dengan Allah. Konsep tersebut bukan hal yang salah, namun diriku mendapatkan pemahaman yang baru dan agak berbeda dari diskusi dengan rekan sejawat dalam rangka melepaskan diri dari doktrin gereja. -semoga diriku tidak ditanggalkan sebagai kader-

Jika kita membaca kembali mulai pasal kedua dan ketiga dengan perlahan dan seksama, maka dapat ditemukan bahwa Tuhan (mungkin sengaja) menciptakan dua pohon yang unik, yaitu pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat serta pohon kehidupan (Kej 2:9). Secara lugas, penulis kitab Kejadian menyatakan bahwa Allah berfirman jika engkau memakan buah (dari pohon pengetahuan yang baik dan yang benar) maka engkau akan “mati”, dimana sebagian besar doktrin menyatakan bahwa “kematian” tersebut ialah terputusnya relasi Allah dengan manusia.

Dalam kisah selanjutnya, setelah dialog antara ular dan sang perempuan terjadi, ia dan suaminya memakan buah tersebut. Namun nyatanya mereka tidak langsung seketika “mati”, justru mereka mendapatkan pengetahuan, walaupun pengetahuan pertama yang mereka dapatkan ialah mereka telanjang. Allah pun memberitahukan konsekuensi bagi sang manusia dan istrinya mengenai realitas susah payah dalam kehidupan dan mengusir mereka dari taman Eden sehingga mereka tidak bisa memakan buah dari pohon kehidupan yang mampu membuat mereka hidup selama-lamanya (ay 22).

Pembacaan tersebut membuka pemahaman bahwa sesungguhnya manusia sejak semula bisa hidup selama-lamanya, tapi manusia lebih memilih mendapatkan pengetahuan dan memuaskan diri dengan hal yang sebelumnya tidak mereka miliki. Kita pun bisa membuat kesimpulan, karena kesalahannya, mereka dan semua manusia saat ini merasakan susah payah, sudah dan akan menikmati kata “mati”.


Manusia yang Mematikan Dirinya dan Orang Lain

Walaupun tak bisa hidup abadi, menghayati hidup dengan bahagia seharusnya lebih menyenangkan daripada “mati” dengan percuma. Namun dalam sejarah kehidupan manusia, yang sudah keluar dari taman Eden dan kini hidup dalam aturan yang mereka ciptakan sendiri, sebagian lebih memilih “mati” demi mendapatkan kepuasan pribadi, memperoleh hal-hal yang sebelumnya mereka tidak miliki. Aturan dan norma, yang dibuat agar terjadi keteraturan dan memiliki tujuan untuk membentuk hidup yang lebih bermakna justru kerap manusia langgar kendati terdapat hukuman mulai dari dikucilkan oleh lingkungan, dipenjara bahkan dihukum “mati”.

Pemberitaan mengenai bencana alam yang berada di bumi pertiwi tentu membuat hati Ignite people berduka. Namun diriku jauh lebih hancur ketika mendengar pemberitaan tentang oknum-oknum menggunakan kesempatan tersebut untuk memperoleh keuntungan bagi diri sendiri. Dalam gempa di Lombok lalu, ketika banyak masyarakat memberikan bantuan sumbangan ternyata terdapat oknum yang menggelapkan dana bantuan tersebut untuk kepentingan diri sendiri.

Begitu pula dengan bencana tsunami. Oknum tertentu telah menjarah barang-barang mahal untuk kepuasan diri mereka. Banyak tindakan pelanggaran aturan dan norma lainnya dilakukan manusia, yang dengan jelas memiliki konsekuensi hukuman bagi diri sendiri, merugikan dan bahkan “mematikan” orang lain juga.



pexels.com


Tuhan yang Membebaskan

Kematian tidak akan lepas dari kehidupan manusia, sebagai konsekuensi pelanggaran sang manusia dan istrinya dari perintah Allah. Perikop “Manusia Jatuh ke Dalam Dosa” (Kej 3) menerangkan bahwa Allah tak serta merta meninggalkan mereka! Ia tetap membantu manusia memberikan pakaian, menyertai sang perempuan dalam proses bersalin, bahkan memberikan penyertaan kepada manusia serta keturunannya. Dalam kebaikannya tersebut, Ia tak pernah mengekang manusia layaknya hewan dengan rantai pengikat. Ia justru memberi kebebasan dalam kehidupan kita untuk menyambut “kematian”.



pexels.com


Segala aturan dan norma yang ada dalam kehidupan manusia bukanlah paksaan. Kita punya pilihan: melanggar untuk mendapatkan kepuasaan diri sendiri atau turut menjalankan pemahaman yang tepat berdasarkan tujuan dibuatnya aturan tersebut.

Sadarkah kita bahwa segala peraturan yang diilhamkan, Allah bermaksud menciptakan kehidupan, baik kehidupan yang kekal saat manusia mula-mula di taman Eden, maupun kehidupan yang harmonis dalam menunggu kematian tiba? Kini, kehidupan seperti apakah yang akan Ignite people untuk merayakan keberadaan sang kematian?


- Memento Mori -

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE