Menderita Bareng-Bareng, Bareng-Bareng Menderita

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 31 Maret 2019
Jongko Joyoboyo seorang pujangga Jawa pernah mengatakan, Jamane jaman edan; sing ora edan ora bakal keduman.

Manusia merupakan ciptaan yang diperlengkapi dengan akal budi yang digunakan dirinya untuk bertahan hidup. Hal ini merupakan bentuk alamiah kita sebagai makhluk hidup. Untuk memperlengkapi diri sebagai manusia yang dapat bertahan, tak pelik kesuksesan selalu menjadi target utama dalam kehidupan manusia, baik itu kesuksesan dalam karir, akademik, dan percintaan. Seperti saya sebutkan tadi, Joyoboyo mengatakan zaman sekarang adalah zaman yang edan. Gila. Yang tidak ikut jadi gila tidak akan kebagian. Sekarang, kita sering melihat bagaimana seseorang sangat tergila-gila dalam mendapatkan kesuksesan, bahkan menghalalkan segala cara untuk memperolehnya.



Photo by on Unsplash


Beberapa tahun lalu, publik Indonesia pernah digemparkan dengan fenomena pembelian ijazah-ijazah yang dapat memberikan gelar S1-S3 secara instan. Beberapa bulan ini, kita sering diperdebatkan dengan berbagai praktik isu-isu agama yang dimasukan dalam ranah diskusi politik, dan sehari-hari, kita sedikit merogoh kocek untuk nyangoni polisi yang menilang. Hal ini dianggap hal wajar; hitung-hitung biar tidak malu karena ikut sidang. Beberapa hari yang lalu kita digemparkan dengan aksi terorisme oleh salah seorang Kristen kepada umat Muslim di Selandia Baru yang dibela oleh tokoh politiknya karena ‘umat Muslim juga melakukan hal yang sama di belahan dunia lain.’ Kegilaan macam inilah yang membawa kita secara tidak sadar sudah ikut ke dalam suatu sistem yang juga gila. Padahal kawan, pepatah Jawa yang dikatakan oleh Joyoboyo tidak hanya berhenti di kalimat itu,

Jamane, jaman edan, sing ora edan ora bakal keduman. Nanging sak bejo-bejone wong edan, isih luwih bejo wong kang eling lan waspodo.

Namun, seuntung-untungnya orang yang gila, masih lebih untung orang yang ingat (akan hati nurani, kebaikan) dan waspada (selalu berjaga-jaga). Menjadi ikut gila dapat membawa kita untuk mendapatkan kenyamanan atau kesuksesan dalam menjalani hidup, tetapi berjaga-jaga untuk tidak ikut gila dapat membawa kita lebih bejo dari orang yang gila. Dalam hal ini, kita seringkali pesimis dan berkata, “Bagaimana mungkin, Pak? Bukannya hidup malah bakal susah nanti?”



Photo by on Unsplash


Dalam Filipi 3:2, Paulus mengajak jemaat di Kota Filipi untuk waspada. Perlu kita ketahui bahwa Filipi pada masa penulisan surat itu adalah sebuah kota metropolis, pusat koloni Romawi. Dengan konteks yang demikian, jemaat di Filipi merupakan sebuah jemaat Kristen yang minoritas. Dia juga mengajak jemaat Filipi untuk eling (ay. 3). Ketika kita menjadi murid-murid Kristus yang turut serta hidup dalam dunia, kedua modal ini—waspada dan eling—menjadi sesuatu yang penting untuk siap menghadapi kegilaan dunia ini. Seperti yang kita tahu pada masa itu, Paulus juga telah menjadi korban ‘kegilaaan’ sehingga ia harus menulis surat kepada jemaat di Filipi ini dari dalam bilik penjara.

Lah? Berarti benar dong? Mengikut Kristus malah bikin jadi tambah susah? Jawabannya, IYA.

Mengikut Kristus berarti menjadi orang yang berani untuk eling dan waspada. Mengikut Kristus berarti menjadi orang yang berani menentang kegilaan dunia dengan memperjuangkan kejujuran dan kebenaran. Mengikut Kristus berarti menjadi orang yang tidak lagi takut untuk larut kedalam kenikmatan dunia yang sengaja dibangun oleh sistem yang gila. Lukas 13:21 menceritakan Yesus yang sedang berbuat baik dengan menyembuhkan orang-orang yang sakit, tetapi Yesus sendiri mati dan ditolak di Yerusalem bahkan diancam untuk dibunuh (ay. 31). Seperti kita tahu, pada masa Prapaskah ini, Yesus akhirnya ditangkap dan diadili untuk disalibkan. Bukan hanya Yesus, dalam kisah-kisah yang diceritakan kemudian, Paulus dan kesepuluh murid Yesus pun dijatuhi hukuman mati.

Lalu siapa pengikut Kristus jaman sekarang? Orang-orang yang masih dalam perjuangan menentang sistem yang gila, karena mereka adalah orang yang selalu eling dan waspada: Ahok, Munir, Wiji Thukul, para pejuang HAM, juga Pendeta Sugianto—yang dipenjara karena memperjuangkan tanah warga yang dicaplok secara sepihak oleh perusahaan yang berkonsili dengan pemerintah setempat. Mereka adalah orang yang ingat akan esensi mereka sebagai manusia dan tidak takut memperjuangkan kebenaran.



Photo by on Unsplash


Melihat kisah-kisah di atas, kita, bahkan saya sendiri, pasti akan menghela nafas panjang sambil berpikir, ”Waduh, ternyata berat, yo.” Orang Jawa Timur mungkin mengatakan, “Oooouuuuuabott, la nggih, bapak ibu.” Oleh karena itu, Paulus mengingatkan kita dalam Filipi 3: 18-21. Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis.

Mengikut Kristus itu berat, Kawan. Mengikut Kristus itu susah. Sampai saat ini pun saya sendiri masih sering jatuh bangun dalam mengikut Kristus. Dalam pergumulan yang cukup berat untuk tetap menjadi pengikut Kristus, ada sebuah lagu yang dapat terus mengingatkan kita. Liriknya cukup unik karena menggambarkan sebuah perjuangan yang luar biasa dari seseorang untuk memperjuangkan cintanya.

Mama Papa Larang Kamu segalanya tak terpisah oleh waktu Biarkan bumi menolak ku tetap cinta Kamu Biar mamamu tak suka, papamu juga melarang Walau dunia menolak ku tak takut Tetap kukatan, kucinta dirimu

Kendati lagu ini dinyanyikan Judika untuk pacarnya ketika backstreet, tetapi lagu ini menginspirasi saya untuk menjadi seorang pengikut Kristus yang pantang menyerah, seperti Judika yang memperjuangkan pacarnya yang saat ini telah menjadi istrinya. Lagu itu mengatakan, ‘biar mama [dan] papamu melarang’; mama selalu digambarkan sebagai orang terdekat dan yang melahirkan sementara papa juga adalah orang terdekat yang menafkahi. Selain itu, yang menarik, Judika membedakan antara Dunia dan Bumi. Dalam Bahasa Inggris, bumi dituliskan earth, merujuk kepada bumi dalam artian alam yang berarti pohon dan hewan. Sedangkan dunia diartikan world, merujuk kepada manusia-manusia yang ada di dalamnya. Jadi, melalui lagu itu, Judika ingin menunjukan meskipun mama, papa, dan juga seluruh manusia dan alam menentang, dia akan terus memperjuangkan cintanya.



Photo by on Unsplash


Berjuang untuk ingat; berjuang untuk waspada. Mengikut Kristus itu tidaklah mudah. Filipi 4:1 berkata, “Berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan.” Kita tetap berjuang untuk tidak mengejar kesuksesan duniawi dan larut dalam kegilaan, tetapi untuk siap dalam penderitaan dan kerendahan bersama Kristus yang juga menderita dalam masa penyaliban.

Dalam Masa Raya Pra-paskah ini, kita sedang berpuasa, sembari di sisi lain, kita juga sedang berlatih. Kendati puasa itu berat, karena kita tidak difasilitasi dengan warung-warung yang diberi tirai atau ormas yang melakukan sweeping warung yang masih buka; kita juga dapat belajar untuk bersabar dan tetap setia dalam kerendahan hati. Bagi yang sudah berpenghasilan, biarlah masa puasa ini menjadi kesempatan untuk menabung dan membagikan pengeluaran yang biasanya untuk makan tiga kali sehari kepada orang yang membutuhkan. Bagi anak kos, seperti saya di Jogja, itung-itung kita bisa menghemat pengeluaran bulanan dan kiriman orang tua. Tuhan memberkati kita dalam penderitaan bersama akan Dia.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE