Menemukan Dia di Tengah Perjalanan Hidup Sehari-hari yang Terasa Biasa

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 16 Desember 2018
Keseluruhan kisah yang apabila diceritakan merupakan aktivitas yang terlihat rutin dan biasa, tetapi sejatinya penuh dengan campur tangan supernatural Allah.

Saya teringat ketika memanjatkan sebuah doa untuk mengawali tahun 2018 ini. Saat itu saya dipenuhi dengan pergumulan yang terasa intens berkenaan dengan kekeringan dalam iman, pergumulan emosional, dan kejelasan arah hidup terhadap apa yang Tuhan mau saya kerjakan di masa depan.

“Apakah keputusan saya untuk berada di dalam dunia pendidikan adalah sebuah keputusan yang memang Tuhan kehendaki?”

“Apakah benar saya harus tetap melayani di institusi di mana saya bekerja saat ini dengan tekanan konflik personal dan profesional di dalamnya?”

“Apakah saya telah menjadi seorang suami yang sudah menjalankan peran dengan benar di hadapan Tuhan?”

“Bagaimana caranya menjadi seorang ayah yang bisa menjadi sebuah teladan yang benar bagi dua orang anak yang Tuhan percayakan, ketika saya sendiri bergumul dengan sosok ayah yang tidak pernah memberikan sebuah teladan?”



Photo by Hello I'm Nik on Unsplash


Pertanyaan-pertanyaan bernada demikian berdesak-desakan meminta saya menemukan jawabannya. Singkatnya, dalam pergulatan pikiran, saya berkesimpulan bahwa saya tidak sanggup menjawab pertanyaan tersebut dengan kekuatan saya sendiri. Malam itu, dalam puncak kelelahan dan keputusasaan, saya hanya minta satu hal: agar Tuhan memberitahukan kepada saya siapa diri-Nya dan apa yang Dia mau dari saya.

Untuk pertama kalinya, selama hampir 20 tahun menjadi seorang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, saya benar-benar serius meminta secara harfiah kepada Tuhan untuk menampakkan wajah-Nya dan menunjukkan diri-Nya untuk saya kenali. Ketika saya menggoreskan tulisan ini, dan melintas kembali bulan-bulan, minggu-minggu, dan hari-hari yang telah lalu, apa yang bisa saya bagikan tentang jawaban Tuhan atas doa saya?

Pertama, Allah tidak menyatakan diri-Nya melalui sebuah perubahan mendadak yang supernatural dan dramatis, tetapi sebuah perjalanan yang tenang dan natural, namun penuh dengan intervensi supernatural dari Tuhan.



Photo by Chris Chan on Unsplash


Contohnya, dalam perjalanan berkendara pulang di sebuah hari kerja yang biasa dan rutin, sepotong kalimat seruan dari sebuah audio khotbah Ligon Duncan yang berbunyi, “Apabila harus, Tuhan akan mengobrak-abrik hidupmu hanya untuk membuat engkau menjadi milik Dia satu-satunya karena Dia mengasihimu!” membuat saya harus menyelesaikan perjalanan itu dengan doa dan air mata. Atau sebuah perjumpaan dengan sebuah buku tulisan James L. Nicodem yang mengajarkan berdoa tentang Allah secara spesifik.

Saya bahkan merasakan campur tangan Tuhan melalui proses yang umum di mana kedua anak saya harus pindah sekolah dan memulai di tempat yang baru. Seluruh rangkaian hari-hari yang begitu rutin dari Juli hingga Desember di mana kedua bocah itu memulai hari pertama sekolah dengan takut dan tangis, dan mengakhiri semester pertama pembelajaran dengan tawa dan kegembiraan untuk berangkat ke sekolah. Keseluruhan kisah yang apabila diceritakan merupakan aktivitas yang terlihat rutin dan biasa, tetapi sejatinya penuh dengan campur tangan supernatural Allah. Dia memakai semua itu untuk menjadi sebuah perjalanan pribadi saya untuk mendengarkan suara Tuhan menjawab perlahan tapi pasti terhadap doa permohonan saya di awal tahun.

Hal yang kedua yang saya insafi adalah, bahwa dalam mengenal Allah diperlukan ketaatan. Sebuah mazmur yang ditulis Asaf dalam Mazmur 73:21-28 menyatakan bahwa di tengah ketidakpahaman dirinya, dia menetapkan dalam jiwanya untuk tetap tinggal dekat Allah. Bukan sebuah ketaatan yang buta, tetapi sebuah kerelaan untuk taat kepada Dia yang melakukan segala pekerjaan yang terbaik di dalam kebijaksanaan-Nya yang sempurna.



Photo by Reymark Franke on Unsplash


Sebagai manusia yang arogan dan bernatur memberontak, kerelaan untuk mau tunduk dan dipimpin oleh pribadi lain yang berotoritas tentu bukan merupakan hal yang mudah, karena membuat keputusan dan keinginan saya menjadi tidak tercapai. Namun Alkitab mengajarkan bahwa hanya melalui jalan ketaatan, pengenalan Allah dapat terjadi. Dan hanya di dalam pengenalan akan Allah yang benar maka ketaatan itu akan semakin bertumbuh.

Ada masanya Tuhan menutup seluruh pintu solusi supaya saya hanya bisa bersandar dengan taat kepada Dia dan pertolongan tangan-Nya. Ada kalanya kegagalan dan kejatuhan terhadap dosa membuat saya hanya bersandar pada janji-Nya dalam 1 Yohanes 1:5-10 untuk bangkit dan kembali membangun ketaatan kepada Tuhan. Saya mencoba melakukan segala disiplin yang diajarkan Tuhan hanya untuk memupuk satu hal: kerelaan untuk taat kepada Allah.

Hal yang ketiga dan terakhir adalah ketaatan merupakan sebuah kuasa yang dianugerahkan. Untuk bisa taat kepada Allah, saya sadar kita memerlukan anugerah dan belas kasihan Allah untuk mengerjakan di dalam hati kita sebuah kerelaan yang dipimpin oleh Roh Kudus untuk percaya kepada-Nya di tengah keadaan yang begitu mendesak. Saya belajar meminta dengan berani, melalui janji-Nya di dalam Yakobus 1:5, akan anugerah dan kuasa untuk memiliki kerelaan taat kepada Allah. Kerelaan untuk melepaskan segala perkara ke dalam tangan Tuhan dan menanti dengan sabar pertolongan tangan Tuhan.



Photo by Nikko Macaspac on Unsplash


Tahun ini saya meminta pengenalan akan Tuhan, dan Allah tidak hanya sekadar menjawab saya dengan memperkenalkan dirinya secara harfiah dan akademis, namun Dia juga meminta saya ikut dan taat berjalan bersama-Nya di sepanjang tahun ini dan seumur hidup saya sampai kepada garis akhir kehidupan. Saya menyadari betapa lambatnya saya setelah 20 tahun baru meminta hal ini, tetapi Allah, yang menyatakan dirinya kepada Musa sebagai pribadi yang pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya (Kel. 34:5-7), adalah Allah yang tetap dan tidak berubah.

Masing-masing kita sangat mungkin memiliki kisah yang berbeda dalam perjalanan kehidupan kita, namun di dalam Kristus, terkhusus di tahun 2018 ini. Namun, sudah semestinya kita hayati benar, bahwa kisah kehidupan kita sudah bukan lagi kisah kita sebagai aktor tunggal, melainkan sebuah kisah tentang Allah dan kemuliaan-Nya. Sudahkah kita mengenali Allah kita yang empunya kisah kehidupan? Mari meminta pengenalan tentang dan kepada Allah yang memberikan kepada kita yang sungguh-sungguh datang dan memohonkannya (Yoh. 14:12-14).

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE