Mengapa Kita Merayakan Rabu Abu?

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 5 Maret 2019
Penyesalan itu selalu datang di akhir dan terlambat, kalau di awal namanya pendaftaran.

Lebih dari sekadar humor, kalimat itu setidaknya membawa kita pada sebuah perenungan batin yang mendalam, yakni tentang penyesalan. Mari kita mulai dari pertanyaan sederhana: Apa itu menyesal?

Banyak peristiwa keseharian yang kita alami dapat menjawab pertanyaan sederhana itu. Misalnya saja ketika seorang mahasiswa yang sering bolos dan lebih memilih titip absen pada masa perkuliahan hingga berdampak pada nilai ujiannya yang tidak maksimal. Ataupun seorang pemimpin yang salah dalam mengambil keputusan sehingga berdampak pada seluruh elemen yang dipimpinnya.

Dari kedua peristiwa tersebut, kita bisa sepakat bahwa keduanya memunculkan sebuah penyesalan. Akan ada sebuah masa ketika mahasiswa tersebut menyesal karena ia sering bolos dan lebih memilih titip absen dibandingkan belajar. Ataupun penyesalan seorang pemimpin karena telah mengambil sebuah keputusan yang salah.

Hal tersebut membawa sebuah pengertian bahwa penyesalan muncul setelah kita memilih dan menjalankan suatu keputusan. Kata ‘telah’ digunakan untuk menyatakan perbuatan atau keadaan yang lampau. Sehingga, secara tak langsung, kata ‘setelah’ sebenarnya sudah memperkuat tesis bahwa tidak mungkin penyesalan datang pada pada awal peristiwa. Ia selalu datang terlambat, mengandung hal yang negatif (perasaan tidak senang dan kecewa) serta tidak kita harapkan untuk terjadi.


Penyesalan dan Pertobatan



pexels.com


Lantas, apa yang membedakan penyesalan dan pertobatan?

Hal esensial yang membedakan penyesalan dan pertobatan yakni adanya perbaikan. Pertobatan selalu mengandaikan perbaikan diri, namun tidak dengan penyesalan. Penyesalan bisa diikuti dengan pertobatan, tetapi penyesalan itu sendiri bukanlah pertobatan. Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan jelas menerangkan bahwa bertobat merupakan tindak menyesal dan berniat hendak memperbaiki (perbuatan yang salah dan sebagainya).

Perbedaan itu tergambar pada peristiwa pengkhianatan Yudas (Mat 27:1-10) dan penyangkalan Petrus (Mat 26:69-75). Lihatlah bagaimana kecongkakan Petrus disajikan dalam bacaan Injil tersebut. Petrus berkata, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau” (Mat 26:35). Nyatanya, tidak butuh waktu yang lama untuk mematahkan perkataan itu. Ayam yang berkokok telah membuktikan kemunafikannya. Petrus telah menyangkal-Nya sebanyak tiga kali.

Namun, kokok ayam itu juga yang telah menyadarkan Petrus. Karena itu pula, Injil mencatat bahwa Petrus mengalami penyesalan yang amat mendalam. Ia menangis dengan sedihnya (Mat 26:75). Dia sadar akan sikapnya yang tidak tahu berterima kasih kepada Kristus, dan akan kecerobohannya dengan tidak mengindahkan peringatan tulus yang telah Kristus berikan kepadanya.

Tak cukup dengan penyesalan dan dukacita yang mendalam, ia memutuskan untuk bertobat. Petrus, yang menangis sedih karena telah menyangkal Kristus, berniat untuk tidak pernah menyangkal-Nya lagi. Dia tidak lagi berkata "Aku tidak kenal orang itu." (Mat 26:74), tetapi ia justru bersaksi tentang Kristus. Ia berniat membuat seluruh kaum Israel tahu dengan pasti, bahwa Yesus itu adalah Kristus dan Tuhan.

Hal berbeda justru ditampilkan oleh Yudas. Ia bergumul akan penyesalannya karena ia telah menyerahkan Yesus untuk dihukum mati (Mat 27:3). Karenanya, ia melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri (Mat 27:5). Berbeda dengan sikap hidup Petrus, perikop ini justru tidak mencatat adanya pertobatan dalam diri Yudas. Ia telah mati dalam penyesalan, tanpa pertobatan.


Rabu Abu, Penyesalan, dan Pertobatan



pixabay.com


Ketika mengaku bahwa manusia sejatinya berbatas dan berdosa, maka seharusnya kita juga hidup dalam sikap penyesalan dan pertobatan. Secara khusus, gereja memperingati hal tersebut dalam masa yang disebut ‘Prapaskah’ - sebuah masa 40 hari ketika umat mempersiapkan diri dalam sikap penyesalan dan pertobatan melalui doa, latihan rohani, mengingkari diri, berpuasa, berpantang, dan lain hal.

Pada puncaknya, kita menghayati bersama peristiwa detik-detik terakhir kehidupan Yesus, hingga kematian dan kebangkitan-Nya. Itu terjadi dalam rangkaian Pekan Suci (Holy Week) dari Minggu Palem, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi dan Minggu Paskah. Hal tersebut terus berlanjut sampai kenaikan-Nya ke surga dan peristiwa Pentakosta.

Rabu Abu menjadi penanda dimulainya masa Prapaskah. Ia selalu jatuh tepat 40 hari (dengan syarat setiap Minggu Prapaskah dan Minggu Paskah tidak masuk perhitungan) sebelum kita merayakan Minggu Paskah. Karena pada tahun ini Paskah pun jatuh pada hari Minggu (21/04), maka perayaan Rabu Abu dan masa Prapaskah dimulai pada Rabu (6/03).


Mengapa Abu?



pixabay.com


Pertanyaan ini kerap kita lontarkan. Sebelum masuk ke dalam penjelasan mengenai abu, ada baiknya kita mengerti pula pemaknaan simbol dalam ibadah yang sebenarnya sudah dihayati sejak lama.

Ketika merambah pada area Allah, menurut Barry dan Doherty, SJ dalam artikel yang bertajuk Studies in Spirituality of Jesuits, maka kita tidak lepas dari dua kata yang sangat lekat dengan upaya manusia untuk mengenal Allah. Hal itu terdiri dari: Kataphatik, yakni sebuah upaya pengenalan tentang Allah dengan menggunakan gambaran, sarana dan doktrin. Dan yang kedua yakni apophatik, yakni sebuah upaya yang menekankan pada kesunyian, ketidaktahuan, dan keabsenan. Keduanya merupakan jalan yang telah ditempuh berabad-abad dalam rangka mengembangkan (formation) spiritualitas orang percaya.

Simbol dalam ibadah, salah satunya, menjadi praktik dari spiritualitas kataphatik. Simbol (Yun: simbolon) dimaknai sebagai sarana untuk menghayati sesuatu melebihi apa yang dapat diungkap secara deskriptif, sehingga simbol memiliki dimensi yang mendalam dan kaya akan makna. Gereja mengadopsi simbol-simbol iman untuk membantu manusia yang terbatas dalam menghayati ketidakterbatasan Allah, salah satunya dengan abu.

Dalam Perjanjian Lama, abu digunakan untuk melambangkan perkabungan, ketidakabadian, dan sesal/tobat. Misalnya saja Mordhekai yang mengoyakkan pakaiannya dan memakai kain kabung dan abu (Ester 4:1) sebagai simbol kesedihan yang mendalam. Abu bahkan terus digunakan oleh Ayub dalam Ayub 2:12 dan dan tercatat pula dalam Daniel 9:3. Begitu juga yang dilakukan Raja dari Kota Niniwe, ia menyelubungi diri dengan kain kabung lalu duduk di atas abu (Yun 3:5-6).

Yesus juga tercatat pernah menyinggung tentang penggunaan abu. Dalam Matius 11:21, Ia mengecam beberapa kota dan menekankan pentingnya perkabungan dan pertobatan. Dalam bahasa aslinya, Injil Matius menggunakan kata ‘spodos’ untuk kata ‘berkabung’. ‘Spodos’ bisa diterjemahkan juga sebagai ‘abu’ (ashes). Jika diterjemahkan secara literal, maka Matius 11:21b menjadi ‘berkabung dengan abu pertobatan’ (sakkoo kai spodooi metenoesan).



pixabay.com


Sebagaimana yang dihayati dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, abu yang akan ditorehkan pada setiap dahi jemaat di Rabu Abu juga bermakna demikian. Karena dosa, kita menjadi manusia yang berbatas. Karena dosa-dosa itulah, abu yang tertera di dahi kita menyimbolkan suatu ratapan keterbatasan dan keberdosaaan kita. Namun simbol tetaplah simbol jika tidak ada gerak konkrit untuk memperbaiki diri. Karenanya usaha penyesalan dan pertobatan tidak berhenti ketika Rabu Abu selesai, ataupun hanya dalam Masa Prapaskah saja, namun kita terus menghayati itu sebagai bagian dalam praktik kehidupan spiritualitas kita, hari demi hari dan terwujud juga dalam relasi kita dengan yang lain.

Menutup tulisan ini, izinkan saya untuk memuat kidung Hanya Debulah Aku yang menjadi refleksi kita bersama dalam memasuki Rabu Abu dan Minggu-Minggu Prapaskah.


“Hanya debulah aku di alas kakiMu Tuhan

Haus ‘kan titik embun

sabda penuh ampun

 

Tak layak aku tengadah menatap wajahMu

Namun tetap ‘ku percaya

Maha Rahim Engkau”

 

Selamat merayakan Rabu Abu dan memasuki Masa Prapaskah.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE