Menghadapi Kesempatan yang Terlewatkan

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 20 Januari 2019
Apapun rupa peluang itu dan bagaimanapun ia menghadirkan dirinya, yang terpenting adalah bagaimana kita bersikap terhadapnya dan memanfaatkannya demi kehidupan yang lebih baik.

Selamat buat kita semua karena masih diizinkan oleh Tuhan Allah untuk merengkuh perjalanan waktu yang sementara ini. Tiap-tiap kita bisa memaknainya berbeda-beda sesuai apa yang kita hayati masing-masing tentang waktu dan kehidupan. Saya berpikir, mungkin banyak orang yang setuju dengan saya bila saya katakan bahwa tiap tahun sebenarnya adalah kesempatan-kesempatan. Tahun yang berlalu berarti kesempatan-kesempatan yang berlalu dan tak akan kembali. Tahun yang datang berarti datangnya kesempatan-kesempatan baru.

Kalau anda setuju dengan hal ini, maka sekarang yang saya pikir patut kita semua renungkan adalah pertanyaan berikut: bagaimana kita memandang kesempatan? Apa sebenarnya kesempatan itu? Kesempatan itu ditunggu, diraih, atau dibuat? Atau mungkin ketiga-tiganya? Mengapa kita gagal memanfaatkan kesempatan?



Photo by Javier Allegue Barros on Unsplash


Janus, Januari, dan Mitologi Kesempatan

Konon, orang-orang Romawi menciptakan bulan Januari sebagai bulan pertama pada penanggalan Solar, atau yang sekarang kita kenal sebagai kalender Masehi. Mereka terinspirasi oleh Dewa Janus, yaitu sosok dewa berwajah dua; satu wajah menghadap ke depan, satu wajah lainnya menghadap ke belakang. Janus selalu menatap ke masa depan, dan walaupun meninggalkan masa lalu di belakang, tetap menatapnya, dan kedua wajah ini adalah bagian dari satu kepala. Ini bermakna bahwa bagi masyarakat Romawi, hidup manusia harus tertuju ke depan, bukan menghidupi masa lalu, tapi bukan berarti tidak mengingat sama sekali apa yang telah lewat.

Apakah yang dilihat dan ditatap oleh kedua wajah Janus itu? Janus menatap kesempatan. Dalam mitologi tradisi Greco-Roman, kesempatan itu seperti seekor burung yang berkali-kali terbang melintasi kepala seorang manusia dan si manusia dengan tekun terus mewanti-wanti saat burung itu melintas di atas kepalanya. Ketika sang burung melintas tepat di atas kepalanya, maka si manusia melompat untuk meraih burung tersebut. Sayangnya, dalam berkali-kali penantian dan usahanya, lebih banyak kegagalan (missed) daripada keberhasilan yang diperolehnya. Burung tersebut adalah burung kesempatan (opportunity), yang jika berhasil ditangkap maka akan membawa keberuntungan (fortune).



Photo by Vincent van Zalinge on Unsplash


Janus dengan wajah depannya berusaha mewaspadai datangnya burung tersebut untuk bisa diraih, namun ketika burung tersebut tak kunjung diraih dan melintas di belakang Janus, maka giliran wajah belakang si dewa yang menatapnya hanya untuk menyaksikan kepergian si burung. Ketika Janus si dewa gagal mendapatkan si burung kesempatan, yang terjadi adalah kesempatan yang terlewatkan dengan tragis (tragic missed opportunity). Karena bagaimana mungkin sang dewa bisa gagal menangkap sang burung yang melintas tepat di depan dan di atas sang dewa?

Seandainya ia berhasil, bisa saja ceritanya akan berbeda. Janus akan merangkai kisah baru yang penuh keberuntungan, dan keberuntungan itu mungkin akan membuat hidupnya lebih baik lagi dari sebelumnya. Tragis memang.

Tsar Rusia dan Para Tuan Tanah

Terkadang sebagian dari kita mengalami seperti apa yang dialami Janus. Namun mungkin sebagian dari kita memiliki pengalaman mirip kisah Tsar Rusia dan Para Tuan Tanah. Kisah tentang kegagalan Tsar Rusia mengatasi para pemilik tanah di Rusia yang menginginkan kekuasaan politis dan ekonomis lebih besar. Akibatnya, kekuasaan para tuan tanah ini semakin menjadi-jadi dan membuat banyak rakyat Rusia melarat. Hal ini pada akhirnya membuka jalan bagi terjadinya Revolusi Bolshevik di tahun 1917, sebuah revolusi yang melahirkan Uni Soviet, negara komunis terbesar di abad ke-20.



Photo by Sheldon Nunes on Unsplash


Hal yang tragis memang, karena seorang Tsar Rusia ternyata gagal memanfaatkan kesempatan yang ada pada dirinya yang berkuasa besar untuk mengendalikan para tuan tanah. Tragis karena seandainya ia mampu memanfaatkan kesempatan yang ada pada dirinya, bisa jadi sejarah Rusia akan lain ceritanya. Demikian pula, sejarah dunia mungkin akan berbeda. Rusia dan dunia barangkali akan menjadi lebih baik bukan hanya dari kondisi sebelumnya, tapi juga lebih baik dari kenyataan sekarang.

Inilah sebuah bentuk tragic missed opportunity pula. Tragis bukan karena gagal meraih kesempatan, melainkan karena gagal memanfaatkan peluang yang sudah dimiliki agar bisa berkesempatan lebih baik lagi. Ini serupa tragisnya dengan pemain sepak bola yang gagal mengeksekusi hadiah penalti, yang akhirnya berakibat gagalnya satu tim meraih kemenangan yang sudah di depan mata.



Photo by Ian Kim on Unsplash


Bagaimana dengan kita?

Tahun demi tahun adalah wadah bagi kehidupan kita. Wadah itu berisi banyak peluang dan kesempatan. Ada yang datangnya mendadak seperti durian runtuh, ada yang harus kita raih dengan waspada dan ulet; ada yang harus kita usahakan, ada yang harus kita jaga. Ada juga yang sebenarnya mungkin tanpa sadar sudah kita miliki. Nafas hidup dan kesehatan itu sendiri sebenarnya adalah kesempatan juga.

Apapun rupa peluang itu dan bagaimanapun ia menghadirkan dirinya, yang terpenting adalah bagaimana kita bersikap terhadapnya dan memanfaatkannya demi kehidupan yang lebih baik. Dampaknya mungkin bukan hanya untuk kita, namun juga bisa menjadi kebaikan bagi sekitar kita, jika kita peka dan bijaksana berurusan dengan yang namanya peluang dan kesempatan.

Selamat meraih mimpi dan selamat mengubah mimpi menjadi kenyataan. Happy New Year guys!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE