Menjumpai Tuhan dalam Kancah Pergumulan

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 1 Februari 2019
Ketika permasalahan itu datang seperti penyakit yang tidak bisa diusir, tidak bisa diobati, tidak bisa ditangani, baiknya dirangkul saja sebagai sahabat dan kita akan berdamai dengannya.

Di penghujung tahun, sebelum membuka tirai 2019 dan meninggalkan 2018, ayat ini kerap dikumandangkan:

Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita;
Lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan Namanya disebutkan orang:
Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. (Yes 9:6)

Aku selalu bertanya pada diriku sendiri, apakah aku siap untuk bertemu dengan keempat peran Tuhan ini dalam hidupku. Tiap Natal, merayakan kelahiran Kristus, aku juga mencoba bertanya, “sudahkah aku siap menyongsong tahun baru dengan mengimani bahwa Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, dan Raja Damai benar-benar nyata dan bertahta dalam hidupku?” Untuk menjawab pertanyaan ini, aku belajar dari gembala yang menjadi raja, nenek moyang Tuhan Yesus sendiri, Raja Daud.

Daud berkali-kali menangis atas pelik pergumulan yang dihadapinya, namun ia juga menari bagi Tuhan untuk setiap kebaikan Tuhan yang dialaminya. Tuhan sanggup mengubah tangisan menjadi tari-tarian ketika kita menyerahkan segala kekhawatiran kepada-Nya. Keempat aspek dalam hidup Daud ini menjadi perenunganku untuk mengalami apa yang Nabi Yesaya maksudkan di Yesaya 9:6.



Photo by Lechon Kirb on Unsplash


1. Emosi

Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.

Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: "Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?" Dan Ia berfirman kepadanya: "Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan.“

1 Sam. 30:6-8

Ketika berhadapan dengan berbagai permasalahan keuangan, hubungan, ataupun karir, kita cenderung memilih mengikuti emosi kita. Daud pun tak berbeda, punya kecenderungan untuk marah dan mengikuti emosinya dalam kondisi terjepit, saat keluarganya tertawan dan orang banyak menyalahkan dirinya. Namun Daud memutuskan untuk tidak gegabah, memilih mencari Tuhan dan berdoa. Dan saat itu, Tuhan menjawab bahwa Daud akan menang jika ia mengejar musuhnya dan Daud menang! Daud mengalami Penasihat Ajaib itu sendiri.

Sering kali untuk berkata “Tuhan jadilah kehendak-Mu” adalah sesuatu yang amat sulit. Aku lebih suka menjadikan emosi dan ego sebagai penasihatku dengan berkata “Tuhan, aku mau Tuhan lakukan hal ini untukku!” dan bukannya “Tuhan, apa yang Tuhan mau aku lakukan bagi-Mu?” Memang, mengambil keputusan saat sedang senang lebih mudah dibanding ketika dalam tekanan. Namun, pada saat seperti itulah kita makin butuh Penasihat Ajaib.



Photo by Louise Hansel on Unsplash


2. Pecundang

Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: "Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?“ 1 Sam 17:26

Aku dibesarkan dalam sebuah lingkungan yang memandang Kekristenan harus “mengalah”. Ternyata aku salah mengartikannya sebagai “Tuhan tidak senang kalau aku merasa senang!”

“Baiklah, aku mengalah untuk argumen ini.”

“Baiklah, aku tidak akan berhasil pada ujian itu.”

“Sepertinya kali ini akan sulit, kalau tidak berhasil ya sudah, toh sudah biasa.”

Aku merasa seperti pecundang yang tidak bisa melihat diri sebagai pribadi yang memiliki Tuhan.

Sebelum Daud mengalahkan Goliat, ia tahu betul siapa Tuhannya. Bagi Daud, Tuhan terlalu besar untuk dianggap remeh seorang raksasa bernama Goliat. Bagi sebagian besar orang, masalah kadang tampak seperti Goliat yang amat besar, namun tidak bagi Daud yang mengenal Allah yang hidup.

Allah yang Perkasa, itu yang dikenal Daud. Allah itu tidak akan kalah oleh pergumulan-pergumulan besar di depan kita. Allah yang Perkasa bukanlah Allah yang suka ketika kita menyerah dari peperangan demi peperangan. Justru lewat proses itu kita dibentuk menjadi tangguh dan dewasa.



Photo by Sharon McCutcheon on Unsplash


3. Materialistis

Jawabnya: "Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku.“ (2 Sam 12:22-23)

Sebagian orang percaya bahwa hidup mereka disandarkan pada segala sesuatu yang kelihatan. Uang, pengakuan teman-teman dan atasan, citra pintar dan sukses, bahkan kekasih, bisa berarti “segalanya” bagi seseorang. Padahal itu semua selalu bisa mengecewakan dan kita harus siap kehilangan.

Daud pernah bersalah dalam hal ini. Tuhan menegur keras perbuatan Daud merebut Batsyeba dari Uria, membunuh Uria dalam sebuah kolusi mengerikan. Daud selamat, tetapi tidak dengan anak yang lahir dari Rahim Batsyeba. Daud sedih bukan main ketika anak ini sakit.

Namun ketika anak ini dipanggil pulang oleh Tuhan, Daud justru makan kembali dan melakukan aktivitas seperti biasa. Bagi sebagian orang tindakan Daud sangatlah aneh, namun maksud Daud dijelaskan di ayat 22-23. Menurut Daud, ketika anak itu mati, untuk apa bersusah hati lagi. Tuhan adil bagi hidup Daud, bertahun-tahun kemudian Salomo lahir bagi Daud.

Betapa kita seringkali juga bersusah hati untuk sesuatu yang sudah pergi. Kita lebih suka mengagungkan diri di balik status dan jabatan ketimbang kita membanggakan Bapa yang Kekal. Ketika kita menyandarkan segala sesuatu pada-Nya, Ia setia dengan segala yang Ia janjikan dalam hidup kita. Segala sesuatu boleh datang dan pergi, tapi Dia tinggal tetap.



Photo by Mohammed Nohassi on Unsplash


4. Perseteruan

Lalu berkatalah Abisai, anak Zeruya, kepada raja: "Mengapa anjing mati ini mengutuki tuanku raja? Izinkanlah aku menyeberang dan memenggal kepalanya.” Tetapi kata raja: "Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya? Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila TUHAN berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian?" (2 Sam 16:9-10)

Seumur hidup Daud, begitu banyak orang menjadi seterunya. Suatu kali sanak saudara Saul mengutuki Daud. Orang-orang kepercayaannya sangat tersinggung, namun Daud tetap tenang. Daud berpendapat bahwa terkadang hal buruk terjadi seizin Tuhan dan tak bisa dihindari.

Hal buruk juga kerap terjadi dalam hidup kita. Sangat mudah untuk marah pada diri sendiri karena sebuah kesalahan yang dibuat. Bahkan, kita sangat mudah bergesekan dengan orang lain sekalipun itu melalui media sosial yang tulisan di dalamnya tidak memiliki perasaan. Segala hal menjadi musuh dan kita tidak pernah merasa aman, bahkan marah dan iri pada orang lain.

Aku belajar dari Daud untuk melihat bahwa Tuhan adalah Raja Damai. Kita memiliki banyak permasalahan, namun semakin kita dekat dengan, kita akan menanggapinya dengan cara dewasa. Tuhan yang akan memberikan damai sejahtera yang melampaui akal kita.



Photo by Ian Schneider on Unsplash


Suatu kali alm. Pdt. Eka Darmaputra berkata di tengah penyakitnya,

“Ketika permasalahan itu datang seperti penyakit yang tidak bisa diusir, tidak bisa diobati, tidak bisa ditangani, baiknya dirangkul saja sebagai sahabat dan kita akan berdamai dengannya.”

Semoga kita belajar lebih dewasa melalui perjumpaan dengan Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, dan Raja Damai. Dia-lah yang mengubah kita menjadi pribadi yang berkenan kepada-Nya.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE