Menyikapi Rencana Hidup

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 1 Februari 2019
Pola hidup tanpa ekspektasi atau harapan bukan sebuah sikap seorang yang hidup di dalam Tuhan.

Data dari Journal of Clinical Psychology menunjukkan bahwa hanya delapan dari seratus orang yang membuat resolusi di awal tahun berhasil melakukannya sampai akhir tahun. Business Insider juga menunjukkan hal serupa, bahwa 80 persen dari resolusi yang dibuat awal tahun berhenti dilakukan saat seseorang memasuki bulan Februari. Dengan kata lain, kebanyakan resolusi yang disusun pada awal tahun gagal direalisasikan. Ada jarak membentang amat lebar antara harapan di awal tahun dengan realitas di akhir tahun.

Sebut saja resolusi menyelesaikan Alkitab dalam satu tahun terhenti sampai kitab Imamat atau Bilangan; janji untuk membaca sejumlah buku rohani dipatahkan oleh tugas-tugas yang mulai menyerbu bagaikan ombak tsunami setelah memasuki minggu kedua di tahun yang baru; gairah yang menyala untuk rutin bersaat teduh dan memiliki waktu pribadi dengan Tuhan lambat laun mulai kehilangan tempatnya dalam hari-hari kita seiring dengan masalah dan pergumulan hidup yang tidak kunjung selesai dan menyita tenaga pikiran kita.



Photo by Abbie Bernet on Unsplash


Kebanyakan kita memasuki awal tahun baru dengan sebuah mentalitas menutup rapat lembaran lama yang dianggap gagal dan membuka lembaran baru kosong yang masih memiliki ruang bersih untuk digoreskan dengan berbagai hal yang berpotensi terjadi dalam 365 hari ke depan. Masalahnya, dengan semakin banyaknya tahun-tahun berlalu dengan pola kegagalan yang sama dan berulang, kita mungkin mulai pesimistis tentang hadirnya perubahan di tahun yang baru. Jangan-jangan kita sudah mulai tidak berharap terlalu banyak. Atau bahkan kita sudah tidak lagi berharap. Que sera-sera, hadapi saja apapun yang datang, tidak perlu terlalu pusing berencana dan berharap.

Melalui proses tanpa lelah yang Tuhan kerjakan untuk mengatasi periode apatisme dalam hidup saya selama empat kali berganti tahun, saya menyimpulkan bahwa pola hidup tanpa ekspektasi atau harapan bukan sebuah sikap seorang yang hidup di dalam Tuhan. Mengapa? Karena saya menemukan dalam sepanjang Alkitab bahwa Allah sendiri adalah pribadi yang merencanakan dan bekerja menggenapkan rencana-Nya. Kita, yang diciptakan dalam gambar dan rupa Allah, ditebus oleh darah Kristus, dan diangkat menjadi milik kepunyaan-Nya, dipanggil untuk membangun hidup yang memuliakan Allah. Hal ini memang diawali dengan anugerah, tetapi bukan berarti tanpa perlu disertai dengan pemikiran dan perencanaan yang baik.

Maka pertanyaannya adalah: bagaimana kita sebagai seorang anak Tuhan dapat menjadi pribadi yang bertanggungjawab menata dan merencanakan setiap waktu dan napas yang Tuhan percayakan kepada kita dalam memasuki tahun yang baru?



Photo by Alvaro Reyes on Unsplash


1. Tentukan dan pahami benar tujuan yang baik dari rencana yang ingin diupayakan.

Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu, sehingga nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam kamu dan kamu di dalam Dia, menurut kasih karunia Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus.” - 2 Tes. 1:11-12

Dengan menyadari bahwa di balik rencana kita ada sebuah tujuan yang mulia, kita akan terpacu untuk mengusahakannya. Contoh tujuan yang dapat kita gumulkan, misalnya tentang mengejar kelayakan di hadapan Tuhan sebagai ucapan syukur, bertumbuh dalam iman, dan semakin efektif menjalankan segala aktivitas hidup yang memuliakan Tuhan dalam setiap peran yang dipercayakan dengan mengandalkan kekuatan dan pertolongan Tuhan. Setiap rencana yang dipikirkan dan dibangun perlu bertujuan untuk membangun hidup demikian.

2. Lakukan refleksi dan evaluasi.

Rencana yang belum terlaksana di tahun sebelumnya belum tentu adalah sebuah rencana yang gagal. Apabila kita menyadari bahwa Allah mengintervensi setiap rencana yang kita susun demi penggenapan rencana-Nya, maka kita harus siap apabila Allah memang belum berkehendak untuk merealisasikan hal itu. Tidak perlu menjadi stres dan tertekan apabila kita sudah berusaha maksimal namun belum dapat melihat buah atau hasil dari usaha kita. Lakukan evaluasi dan refleksi terhadap rencana itu dan bawalah kembali dalam doa, kemudian mintalah hikmat untuk memutuskan apakah Allah menghendaki kita untuk mempertahankan atau merombaknya.

Biarlah Roma 8:28 menjadi kekuatan bagi kita untuk melepaskan rencana tersebut apabila di satu titik kita sadar bahwa memang rencana tersebut tidak sejalan dengan kehendak Allah bagi hidup kita, dan kita diarahkan untuk merombaknya.

Bukan hanya untuk yang gagal, refleksi dan evaluasi juga perlu dilakukan untuk rencana yang berhasil dicapai. Kita dapat menilik kembali apakah terealisasinya hal itu dapat membawa nama Tuhan semakin ditinggikan dan dimuliakan, serta semakin menggenapkan rencana Tuhan melalui kehidupan kita.



Photo by Gabrielle Henderson on Unsplash


3. Tekun dengan kebiasaan

Untuk mencapai sebuah rencana tertentu, bukan hanya dibutuhkan lompatan yang besar yang tentu membutuhkan banyak strategi, tapi juga banyak ditopang oleh pembentukan kebiasaan kecil (micro habit). Contohnya, apabila kita hendak memiliki sasaran untuk hidup sehat, maka kita perlu menetapkan apakah hal terukur dari sebuah hidup yang sehat. Kita bisa menetapkan bahwa berat badan menjadi salah satu indikatornya. Lalu kita membentuk disiplin untuk menyisihkan 30 menit setiap hari untuk jogging atau berjalan mengelilingi jalan di daerah kompleks perumahan.

Contoh lainnya adalah apabila kita ingin memiliki pertumbuhan iman yang sehat dalam Tuhan, kita dapat menggunakan indikator terukur, seperti menyelesaikan pembacaan Alkitab dalam setahun. Jadi kita harus membangun komitmen untuk memberikan 30 menit setiap hari untuk membaca Alkitab. Untuk menopang disiplin tersebut, kita dapat membuat grup membaca Alkitab dengan beberapa rekan untuk saling mengingatkan. Kita juga dapat mengatur alarm pada telepon genggam untuk dapat mengingatkan kita secara pribadi. Kita juga bisa menggunakan beberapa aplikasi yang cukup baik dari beberapa pengembang untuk menolong kita berdisiplin setiap hari.

Pada prinsipnya, kita perlu membangun sebuah kebiasaan-kebiasaan yang sederhana dan mudah untuk dilakukan secara konsisten untuk memastikan kita bergerak semakin dekat dengan rencana yang hendak direalisasikan.



Photo by Dev on Unsplash


Satu hal mendasar yang perlu kita ingat adalah mempersembahkan setiap rencana dan sasaran yang telah disusun ke tangan Tuhan. Dan biarlah kita selalu mengakhiri resolusi yang tercapai dan menyambut tujuan atau rencana baru dengan sebuah proklamasi, Soli Deo Gloria, segala kemuliaan hanya bagi Tuhan!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE