Menyoal Apa yang Dikatakan Yohanes 15:13 Tentang Persahabatan (Bagian 1)

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 17 Oktober 2018
Yesus yang berkata “Tak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” menunjukkan kasih pada sahabatnya, bukan hanya pada saat kejayaannya, tapi juga dalam keterpurukan.

Saya iri pada para politisi yang masih dapat bersahabat. Ungkapan “tak ada lawan atau kawan abadi dalam politik” masih sulit dibantah kebenarannya sampai saat ini. Kita masih bingung kalau pada hari ini melihat ada yang berkoalisi setelah kemarin saling mencaci.

Bagi saya, Ahok adalah anomali. Politisi yang satu ini memiliki para sahabat yang terkenal loyal padanya bahkan setelah kejatuhannya. Tak kurang dari tokoh PDIP Djarot Saiful Hidayat, Ketua DPRD DKI Prasetyo Edi Marsudi dan mantan corong Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, masih menyebut-nyebut namanya, bahkan sesekali menjenguknya sampai hari ini (hampir dua tahun setelah dipenjara).

Saya juga iri pada Raja Daud dalam Alkitab. Kita sudah sering mendengar kisah persahabatannya dengan Yonatan, putra Saul, musuh besarnya. Yonatan bahkan melawan ayahnya demi menyelamatkan Daud (lih. I Sam 20:32-34). Jangan lupa kisah sahabatnya yang lain, Husai, yang siap masuk ke sarang musuh dan merendahkan dirinya demi mengacaukan strategi musuh Daud (lih. 2 Samuel 15:32,37).

Mereka menunjukkan kasih pada sahabatnya, bukan hanya pada saat kejayaannya, tapi juga dalam keterpurukan. Hal tersebut memenuhi kriteria ‘sahabat’ seperti yang Kitab Suci katakan: “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu” (Ams 17:17). Kita bahkan lebih terharu lagi ketika mengingat kata-kata Yesus, “Tak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15:13).



pexels.com


Persahabatan yang menuntut pengorbanan nyawa bukanlah barang aneh di dunia per-’geng’-an kaum remaja atau kehidupan jalanan. Banyak pemuda meregang nyawa dalam tawuran antar geng demi membela kawannya. Namun begitu, pengorbanan nyawa demi persahabatan dipandang konyol ketika mereka tumbuh dewasa atau menjadi lebih mapan.

Hari-hari ini kita belum pernah mendengar ada tokoh politik yang kehilangan nyawanya demi sahabat politisnya atau tokoh bisnis yang rela mengorbankan segalanya demi sahabatnya dalam berbisnis. Apalagi kalau di rumah sudah ada istri dan anak-anak menunggu.

Di dalam situasi genting yang menyangkut kemanusiaan, bela rasa seringkali ditunjukkan oleh mereka yang mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan seseorang yang asing.

Kita mungkin pernah membaca kisah-kisah orang Jerman yang menyembunyikan satu atau dua orang Yahudi di rumah mereka selama NAZI-Hitler berkuasa di masa Perang Dunia II. Hal tersebut tetap dilakukan walaupun nyawa dari seisi rumahnya menjadi taruhan. Bagi orang-orang Yahudi yang diselamatkan, orang-orang Jerman ini adalah sahabat yang sejati. Pemerintah Israel bahkan memiliki daftar nama para penolong ini dan menjadikan mereka sahabat bangsa Israel selama-lamanya.



Photo by Timon Studler on Unsplash


Tetapi apakah esensi sebuah persahabatan itu adalah “memberikan nyawa”? Apakah kata-kata Yesus dalam Yoh 15:13, “Tak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya bagi sahabatnya” berarti kasih persahabatan lebih mulia daripada kasih suami-istri atau kasih orang tua-anak atau kasih persaudaraan?

Saya mau mengingatkan bahwa ada banyak kisah peliharaan (terutama anjing dan kuda) yang menyelamatkan nyawa tuannya bahkan dengan harga nyawanya sendiri. Binatang, yang katanya memiliki tujuan hidup hanya untuk mempertahankan diri dan mencari makan berdasarkan naluri bertahan hidup, sanggup melawan nalurinya sendiri untuk menghadapi kematian demi ‘tuannya’, sesuatu yang melampaui dirinya.

Jika demikian, maka tentulah sebutan ‘sahabat’ dari Tuhan Yesus bagi para murid-Nya atau sebutan sahabat Allah bagi Abraham (Yak 2:23) tidak lebih istimewa dari ungkapan “dog is man’s best friend” yang mengagungkan hubungan antara anjing yang setia dan tuannya.



Photo by John Fornander on Unsplash


Satu pertanyaan lagi untuk para remaja: pernahkah seorang pembina rohani atau pendeta mendorong kamu untuk mewujudkan perkataan Yesus dalam Yoh 15:13 dalam persahabatanmu? Saya, sebagai seorang guru dan ayah, akan sedih sekali kalau anak atau murid saya diperintahkan untuk melakukan apa yang dikatakan Yoh 15:13. Sekarang kita menemukan masalah dalam Yoh 15:13, bukan? Mari kita coba melihat beberapa kemungkinan pemaknaan ayat ini.

Baca bagian selanjutnya :

Menyoal Apa yang Dikatakan Yohanes 15:13 Tentang Persahabatan (Bagian 2)

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE