Menyoal Apa yang Dikatakan Yohanes 15:13 Tentang Persahabatan (Bagian 2)

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 17 Oktober 2018

Pertama, bisa saja Yesus cuma sedang mengutip sebuah peribahasa populer di zaman itu mengenai sahabat. Kalau ini yang terjadi, maka tak ada gunanya kita berkutat pada ayat ini karena tak ada seorang pun yang dapat memastikan apakah benar ada peribahasa demikian pada zaman itu.

Kalau benar demikian, mari abaikan saja ayat ini dan berfokus pada Yoh 15:14-15 yang menunjukkan bagaimana Yesus mentransformasi hubungan persahabatan populer secara jenius dan kreatif menjadi metafora hubungan manusia dengan Tuhan dalam ayat-ayat lainnya di Yoh 15.

Kedua, mungkinkah dalam ayat ini Yesus memasukkan persahabatan ke dalam kategori jenis kasih? Kalau memang demikian, maka Yoh 15:13 berbicara tentang kasih, bukan tentang sahabat. Intinya, kita harus membacanya: ada sejenis kasih yang terbesar yaitu kasih seseorang yang memberikan nyawanya bagi sahabatnya.



Photo by Tyler Nix on Unsplash


Dalam buku Four Loves, C.S.Lewis mengatakan bahwa persahabatan adalah sebentuk cinta (phileo), satu di antara bentuk cinta yang lain seperti agape, afeksi, dan eros. Bagi Lewis, keempat macam cinta tersebut bisa hadir dalam semua jenis relasi. Di buku itu, eros, tidak sama dengan cinta seksual, diperluas dan diperdalam maknanya oleh Lewis. Jadi cinta kepada Tuhan bisa mengandung keempatnya, demikian juga cinta kepada pasangan hidup atau kepada sahabat.

Kata Yunani untuk ‘kasih’ di Yoh 15:13 ini adalah ‘agape’ bukan ‘phileo’. Agape yang adalah kasih ilahi boleh ditafsirkan bahwa “memberikan nyawa bagi sahabat” adalah sesuatu yang agape. Tafsiran ini menyelesaikan satu persoalan, yaitu bahwa ”memberikan nyawa bagi sahabat” itu (membutuhkan) agape. Bukan berarti kita HARUS. Juga bukan berarti esensi persahabatan adalah “memberikan nyawa bagi sahabat.”

Ketiga, mungkin Dia sedang bicara mengenai salah satu bagian dari sebuah sistem etika persahabatan, artinya sistem etika ini tidak berlaku untuk relasi jenis lain. Berarti begini, di dalam persahabatan, hal yang termulia adalah jikalau kamu memberikan nyawamu untuk sahabatmu. Hal ini tidak berlaku di dalam sistem etika relasi lain, misalnya, hal termulia di dalam sebuah relasi bisnis adalah…? Hal termulia di dalam relasi orang tua dan anak adalah…? Hal termulia di dalam relasi adik kakak adalah…? Hal termulia di dalam relasi guru dan murid adalah…? Dan seterusnya.



Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash


Kalau kita mengisi semua titik-titik di atas dengan frasa “memberikan nyawa”, maka itu adalah kecerobohan. Tapi, bukankah ada berbagai macam etika lain dalam persahabatan (misalnya: etika balas budi, etika bela rasa, etika kesetiakawanan, etika menjaga kerahasiaan, dll.)? Tentu sulit untuk membicarakan secara tuntas atau mengambil kesimpulan mengenai sebuah sistem etika tanpa petunjuk apapun mengenai etika-etika persahabatan yang lainnya.

Keempat, mungkin kita harus menafsirkan kata ‘seorang’ dalam Yoh 15:13 dimana mengacu pada diri Yesus secara partikular atau bahkan singular (satu-satunya dalam sejarah). Makna ayat ini adalah Yesus sedang berbicara tentang bagaimana Dia akan mati untuk murid-murid-Nya (dan kita) yang berdosa.

Murid-muridnya dan kita bisa disebut sebagai ‘philos’ (kata Yunani yang diterjemahkan ‘sahabat’ di ayat itu) diartikan juga sebagai ‘yang terkasih’. Berarti ‘philos’ lebih tepat diterjemahkan sebagai ‘orang-orang yang dikasihi Yesus’ daripada sebagai ‘sahabat’. Kalau demikian halnya, kewajiban kita adalah untuk mempercayai dan menerima ayat ini sebagai pernyataan kasih yang begitu besar dari Yesus Kristus kepada kita. Kita tidak perlu menerapkannya dalam hubungan persahabatan kita.

Kelima, setelah membaca ulang Yoh 15:1-12 yang mendahului Yoh 15:13 serta membaca ayat-ayat selanjutnya (Yoh 15:14-15), saya cenderung menduga kita (atau Lembaga Alkitab Indoensia) kurang tepat membaca kata Yunani ‘psyche’ sebagai ‘nyawa’. Dalam Alkitab bahasa Inggris, kata ini bisa diterjemahkan menjadi ‘soul’ atau ‘life’ atau ‘self’. Maklum, pada zaman itu belum ada ilmu psikologi yang memecah diri (self) menjadi jiwa dan nyawa. Jiwa, nyawa, hati, itu semua dapat menyatakan (sebuah) diri yang utuh.



Photo by David Calderón on Unsplash


Sejak ayat pertama sampai ayat kedelapan, Yoh 15 terus menerus mengundang kita untuk tinggal atau berdiam di dalam Yesus, lalu ayat kesembilan sampai ayat keduabelas berbicara tentang dalamnya hubungan Yesus dan Bapa di atas dasar kasih. Bagi saya, lebih tepat kalau ‘psyche’ dibaca sebagai ‘diri’, terlebih lagi Yoh 14 juga menyingkapkan tentang siapa diri Allah Tritunggal di dalam sebuah hubungan yang perikoretik. Jadi saya memilih untuk secara sederhana membaca Yoh 15:13 seperti ini: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan dirinya untuk sahabat-sahabatnya.”

Membaca ulang kisah persahabatan Daud dan Yonatan dalam 1 Sam 18 dan I Sam 20 akan memberi gambaran apa arti memberi diri bagi seorang sahabat. Di dalam kisah mereka, kita tidak menemukan bagian di mana Yonatan berniat mengorbankan nyawa untuk Daud, begitupun sebaliknya atau janji untuk mati bersama. Bahkan Yonatan berusaha sebisa mungkin tidak melawan ayahnya dalam upaya menyelamatkan Daud dari tangan ayahnya, Saul. Memberi diri yang autentik juga berarti seseorang harus jujur pada dirinya dan sahabatnya, termasuk menegur sahabatnya jika melakukan kesalahan dan saling mengaku dosa di hadapan Tuhan; inilah yang membedakan persahabatan dari perkoncoan dan kronisme.

Bagi mereka yang bersikeras untuk membaca ‘psyche’ dalam Yoh 15:13 sebagai ‘nyawa’, harus memeriksa dirinya sendiri apakah dia membaca demikian bukan karena pengaruh kuat dari budaya populer (terutama film-film atau novel). Melalui itu, terjadi pengagungan tindakan heroik para pahlawan dalam memberikan nyawanya atau budaya maskulin yang mementingkan etika kesetiakawanan dalam segala keadaan (right or wrong is my friend) atau romantisme BFF (Best Friends Forever). Hanya Anggini dan Bujang Tapak Sakti yang siap mati demi sahabatnya, si Wiro Sableng.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE