Moving to Level Up with Jesus

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 17 Februari 2019
Bisa jadi, pengalaman kita mengalami patah hati atau kekosongan hati merupakan masa yang diizinkan Tuhan agar kita bertumbuh dan bertekun di dalam-Nya

Mantan, seseorang di masa lalu tetapi membekas dalam hidup kita. Tanpa mantan, mungkin kita tidak menjadi seseorang yang seperti sekarang. Mereka masih memiliki jasa dalam hidup kita walau mereka ‘pergi untuk selama-lamanya’ dari hidup kita – baik lewat cara yang menyakitkan atau pun baik-baik.

Berbicara soal mantan, kita sempat dihebohkan berita BTP yang konon ‘menghina’ mantan istrinya. Beragam asumsi dan opini dari netizen pun sempat cukup mewarnai kolom komentar. Bahkan ada komentar yang cukup nyentrik, “Pak, belum bisa move on dari si mantan?”

Kalimat ‘Belum bisa move on dari si mantan’ cukup menggelitik hati saya, karena saya sendiri memiliki pengalaman dengan seseorang di masa lalu – alias mantan.

Move On Versus Move Up

Kata ‘move on’ biasanya kita pakai untuk merujuk pada teman yang baru putus cinta, dalam konteks untuk mengacu pada relasinya di masa lalu. Misalnya seperti ini,

"Ayolah move on saja dari si A,"

"Ngapain juga masih mikirn si Mantan? Move on-lah!"



Photo by Kyaw Tun on Unsplash


Move on sering disederhanakan sebagai fase pindah ke lain hati. Padahal secara harafiah, ‘move’ berarti pindah dan ‘move on’ berarti proses berpindah. Dipandang dari perspektif yang lebih luas, ‘move on’ sebenarnya bisa juga mengacu pada proses beralih fokus dari orang atau peristiwa di masa lalu yang menyakiti hati – tidak melulu percintaan.

Memang berat untuk melepaskan rasa luka masa lalu yang terlanjur membekas pada diri kita. Oleh karenanya, terkadang kita jadi merasa perlu untuk mencari suatu pelampiasan. Wajar, sifat naluriah manusia memang cenderung gemar mencari yang ‘lebih baik’ atau ‘lebih nyaman’ setelah disakiti – dalam bentuk apa pun.

Di waktu mengalami masa-masa sukar move on, kerap kali kita menjadi lupa bahwa ada Tuhan yang senantiasa menolong dan menyertai kita. Tuhan menemani kita melalui saat-saat tersebut.

Mazmur 124:8 berbunyi, "Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi," dan 1 Korintus 1:3 bertuliskan, "Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu."

Kedua ayat di atas begitu rutin diucapkan dan kita dengar setiap Ibadah Minggu, saat votum (deklarasi pembukaan ibadah) diucapkan. Keduanya dengan gamblang mengingatkan kita bahwa pertolongan kita hanya ada dalam-Nya dan kasih karunia dan damai sejahtera-Nya juga senantiasa menyertai kita.



Photo by Jordan Whitfield on Unsplash


Waktu move on, terkadang kita merasa mampu melaluinya dengan kekuatan kita sendiri. Alhasil, tak jarang move on sebatas menjadi dalih pelarian dan ajang pelampiasan semata, yang membuat kita kembali terjatuh, bahkan lebih dalam dari sebelumnya. Akibatnya, bukan yang lebih baik kita dapat, tetapi keinginan untuk memuaskan ego semata. Oleh sebab itu, alih-alih sebatas move on, kita juga perlu move up.

‘Move up’ dapat diartikan berpindah ke atas, atau lebih dalam lagi bisa dimaknai sebagai moving to level up with Jesus. Patah hati, kejadian menyakitkan, juga masa lalu kelam yang Tuhan izinkan untuk kita lalui, boleh kita maknai semata-mata agar kita senantiasa mengingat akan kasih Allah yang begitu besar pada kita (Yohanes 3:16).

Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:16), kasih yang sempurna hanya ada di dalam Allah sendiri (1 Yohanes 4:17), bukan yang lain. Bisa jadi, pengalaman kita mengalami patah hati atau kekosongan hati merupakan masa yang diizinkan Tuhan agar kita bertumbuh dan bertekun di dalam-Nya. Mungkin Tuhan menarik si mantan dari kita agar kita kembali berfokus pada-Nya, sang Sumber Kasih, bukannya teralihkan pada yang lain.

Mengutip buku Tuhan Masih Menulis Cerita Cinta karya Grace Suryani, di sana ia menulis, Tuhan menghancurkan apa yang kita inginkan, tetapi Ia memberikan gantinya lebih dari yang kita inginkan. Persoalan mantan termasuk diantaranya. Kala menjalaninya, hati kita memang serasa ‘dihancurkan’, tetapi bukan untuk menjadi hancur, melainkan agar kita dipulihkan, berproses, serta semakin dekat pada-Nya.



Photo by Kiwihug on Unsplash


Level-Up

Hidup kita ini seperti bejana tanah liat yang harus siap hancur. Pada proses pembuatannya, perajin tak akan segan-segan menghancurkan bejana yang cacat dan membentuk kembali hingga bejana tersebut sempurna. Sama halnya dengan pribadi kita dalam kehidupan percintaan.

Saat mengalami kegagalan atau kehancuran dalam percintaan, Tuhan tidak pernah tinggal diam dan meninggalkan kita. Yakinlah bahwa momen kegagalan atau kehancuran percintaan bukan sebuah akhir, melainkan sebuah titik balik. Titik balik menjadi pribadi yang lebih baik dan kian disempurnakan, sekaligus pengingat agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Kita bisa saja memilih menjelekkan atau membenci mantan oleh karena hancurnya hati kita. Namun keberadaan Tuhan yang mengisi hati kita juga memberi pilihan, apakah kita akan terus berada dalam kesedihan dan penyesalan itu, ataukah kita memilih untuk naik level bersama Dia?

Percayalah bahwa Tuhan memegang hari esok. Kesedihan dan kesukaran yang kita alami sekarang, tak lebih dan tak kurang merupakan sebuah ajang bagi Tuhan untuk mempersiapkan diri kita melangkah di kemudian hari, bersama kasih-Nya yang tak pernah berkesudahan. Oleh karena kasih-Nya yang telah tercurah atas kita, kiranya kita pun menyadari serta memperoleh kekuatan untuk dapat mengampuni masa lalu kita.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE