Musa: Melepas Takhta Demi Persaudaraan

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 15 Oktober 2018
Dari perjuangan yang cenderung individualis kepada perjuangan yang lebih luas, yaitu perjuangan untuk kebaikan bersama.

Rasa persaudaraan yang lekat dan kesediaan standing for each other merupakan hal yang semakin mahal dan sangat jarang dijumpai belakangan ini. Dinamika kehidupan terus memacu setiap pribadi untuk terus berpacu dan berkompetisi, baik dalam dunia politik, pekerjaan, bahkan dalam dunia pelayanan. Ironisnya, semangat kompetitif tersebut sering kali merenggut rasa persaudaraan demi kemenangan dan pencapaian. Tidak heran, dalam pemilihan calon presiden misalnya, banyak persaudaraan atau persahabatan yang telah terjalin menjadi hancur dan renggang hanya karena perbedaan pilihan.

Mari kita sepakati bahwa seharusnya persaudaraan menjahit celah perbedaan dan bukan justru perbedaan yang menjadi alasan persaudaraan terpecah dan berakhir.



Photo by rawpixel on Unsplash


Sebuah kisah menarik yang dicatat dalam Alkitab mengenai pribadi yang begitu luar biasa, yaitu Musa. Hidup dalam kemewahan di tengah kemakmuran Kerajaan Mesir bukanlah hal yang asing baginya. Hal itu dimulai dari tindakan aktif penyelamatan yang dilakukan oleh orang tuanya untuk mempertemukan Musa, sang bayi tanpa masa depan, dengan kehidupan baru dimana masa depan terasa begitu cerah. Bayi dari perbudakan berubah status menjadi bayi kerajaan dan diperhitungkan sebagai salah satu keturunan raja, mengingat Putri Firaun yang mengadopsinya, dan mungkin saja menjadi salah satu kandidat pewaris takhta raja.

Kemewahan, mahkota, takhta, dan rasa nyaman nampaknya tak dapat membendung rasa persaudaraan Musa dengan kaum Ibrani yang adalah kaumnya sendiri.

Tak tahan melihat penindasan, kekerasan, dan berbagai perlakuan kejam yang diderita oleh bangsanya di bawah imperial Mesir membuat kandidat pewaris takhta ini lekas bertindak, bahkan nekat menghabisi nyawa orang Mesir yang jelas-jelas harusnya menjadi sekutunya atas nama kerajaan Mesir. Kita tidak perlu mencontoh pembunuhan yang dilakukan Musa, tapi lihatlah semangat persaudaraan Musa yang begitu besar. Resiko adalah hal yang pasti, bahkan ia harus meninggalkan istana Mesir dan melepaskan kesempatan untuk menduduki takhta kerajaan.



Photo by William Krause on Unsplash


Di titik ini kita dapat paham bahwa spirit kompetitif untuk sebuah pencapaian yang fana tidak terbesit dalam pikirannya. Dari Istana Mesir menuju padang gurun Midian, dari pangeran menjadi gembala tentu bukanlah hal yang mudah bagi Musa. Tetapi, apapun itu tak jadi soal. Pada akhirnya pribadi yang dibakar semangat persaudaraan ini dipilih Allah dan diberikan kesempatan untuk menjadi alat pembebas umat Tuhan termasuk saudara-saudaranya dari kenestapaan menuju janji yang penuh dengan harapan. Musa pun menjadi sang reformator Israel pertama, yang mereformasi kehidupan yang identik dengan kultur Mesir dalam diri umat Allah kepada suatu kehidupan di bawah pemerintah dan aturan Allah dan dianggap sebagai nabi terbesar dalam sejarah Israel.


Realitas Zaman ini

Bagaimana dengan realitas kehidupan sekarang? Tentu jiwa seperti Musa menjadi semakin sulit ditemukan. Karenanya, daripada hanya mencari dan menanti, mengapa tidak hal itu mulai untuk dibentuk. Tidak terlambat bagi kita untuk mulai mereformasi diri kita sendiri dari segala semangat kompetitif kepada semangat kolektif. Dari perjuangan yang cenderung individualis kepada perjuangan yang lebih luas, yaitu perjuangan untuk kebaikan bersama.

Persaudaraan jauh lebih mahal dari pencapaian pribadi. Harga sebuah persaudaraan ataupun persahabatan terlalu mahal untuk ditukar dengan persaingan bahkan pencapaian.

Berkaca dari sejarah kemerdekaan bangsa ini, penderitaan bukanlah tantangan untuk semangat persaudaraan, karena melalui itu setiap suku, bangsa dan bahasa bersatu. Justru pasca kemerdekaanlah semangat persaudaraan semakin merosot dan semangat individualis semakin menunjukan progresifitasnya. Kita patut terus mengingatkan diri kita dan komunitas kita agar jangan sampai terpecah belah hanya untuk sebuah kenikmatan dalam pandangan. Misalnya dalam konteks politik untuk calon Presiden pilihan kita, dalam kontes karir hanya untuk pencapaian pribadi, dalam konteks pelayanan hanya untuk pengakuan eksistensi kita atau apapun motivasi lainnya.



Photo by Larm Rmah on Unsplash


Kita perlu belajar dari Musa, istana dan takhta tidak menenggelamkan semangat persaudaraan yang mengalir dalam darahnya dan berdetak seiring irama jantungnya. Tentu Musa punya pilihan, takhta atau persaudaraan? Kenikmatan atau kesengsaraan? Musa memberikan teladan untuk tidak memilih kepentingan pribadi dan memilih persaudaraan. Tanyakan kepada diri kita sendiri, bersediakah kita mengorbankan ambisi pribadi untuk semangat persaudaraan, untuk kepentingan bersama dan lebih besar?

Chiwetel Ejiofor yang berperan sebagai Adrian Helmsley, penasihat ilmiah Presiden dalam film 2012 melantunkan sebuah kalimat yang rasanya pantas untuk menutup tulisan ini, “The moment we stop fighting for each other, that's the moment we lose our humanity”.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE