Pencarian Tentang Alkitab Kita

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 11 Desember 2018
Kini saatnya kita bertanya: Untuk apakah semua jerih payah ini?.

(Tulisan ini disarikan dari artikel berjudul “The Bible Hunters”, National Geographic Magazine December 2018)


Majalah National Geographic Desember 2018 menurunkan liputan menarik mengenai perburuan alkitab-alkitab, manuskrip-manuskrip Yahudi, dan perkamen-perkamen tua yang menjadi sumber penyalinan kitab-kitab dalam Alkitab. Motifnya beragam; mulai dari perdagangan relik sampai tujuan akademis untuk studi literatur kuno. Para kritikus menyalahkan kaum Kristen Injili untuk nafsu mereka atas artefak-artefak ini yang memicu penjarahan atas banyak situs arkeologis. Lenny Wolfe, pedagang barang antik di Yerusalem, mengatakan bahwa kaum Kristen Injili membuat harga semua barang antik, bukan cuma dokumen, yang berkaitan dengan masa Kristus hidup, menjadi tinggi sekali di pasaran. Steve Green, Direktur Museum of the Bible di Washington, D.C., mengatakan bahwa mereka siap untuk “membalik setiap batu” untuk menemukan gulungan kitab kuno.

Para sarjana sekaligus perintis jalur pencarian di Mesir, di abad 19, telah menemukan Codex Sinaiticus, salinan lengkap Perjanjian Baru yang tertua di sebuah biara tua di Gunung Sinai. Entah dengan persetujuan para biarawan atau tidak, Konstantin von Tischendorf waktu itu mempersembahkan temuannya pada gereja St. Petersburg, Rusia.

Di tahun 1933, Stalin kemudian menjualnya ke British Museum seharga kira-kira setara dengan setengah juta dollar AS sekarang. Temuan Tischendorf mendorong dua wanita Presbiterian, Agnes Smith Lewis dan Margaret Dunlop Gibson, yang waktu itu sudah berumur paruh baya dan menguasai selusin bahasa asing, untuk menyeberangi gurun Mesir (yang penuh dengan bandit dan bahaya alam), naik unta kembali ke biara itu. Mereka menemukan salinan keempat Injil (berumur sekitar 17 abad; salah satu salinan tertua yang kita miliki hari ini) di bawah tulisan tentang seorang santa di abad ke-7 yang terungkap dengan sejenis cairan kimia yang mereka bawa.



unsplash.com


Mereka mengambil foto-foto dokumen itu dengan berbekal kamera yang tak terbayang seperti apa bentuk dan ukurannya pada masa itu. Walaupun kebanyakan teks-teks Kristen di abad awal ditulis di atas papirus, manuskrip-manuskrip Codex Sinaiticus ditulis di atas perkamen yang mahal atau vellum. Setengah juta dokumen lain (kebanyakan berisi catatan remeh seperti bon belanjaan) yang berasal dari Mesir di abad 19, ditemukan oleh dua arkeolog Oxford pemula, Bernard Grenfel dan Arthur Hunt.

Membicarakan topik ini tidak lengkap kalau kita tidak membicarakan tentang Gulungan Laut Mati (Dead Sea Scrolls). Alkisah seorang sarjana menerima tiga dari tujuh gulungan Laut Mati. Kemudian, Khalil Iskander Shahin alias Kando menjual empat gulungan (seharga setara US$250 sekarang) kepada Uskup Syria di Yerusalem yang kemudian diselundupkan ke Amerika pada tahun 1949. Lama tak ada pihak yang tertarik padanya, akhirnya Uskup Syria ini memasang iklan di Wall Street Journal tanggal 1 Juni 1954. Seorang arkeolog Israel membelinya seharga US$250.000.



pexels.com


Belakangan, satu tim dipimpin biarawan Dominican, Roland de Vaux, mencari tempat penemuan gulungan itu di gua-gua Qumran. Setelah berpuluh-puluh tahun menerjemahkan perkamen-perkamen yang ditemukan di gua-gua itu, pertengahan tahun 2000-an terjemahan temuan itu dipublikasikan mencakup 230 manuskrip biblika, teks hukum, apokaliptik dan mengenai ritual-ritual. Orang-orang Bedouin juga ikut menggali dan menjual dokumen-dokumen lainnya ke Kando. Tahun 2009, Steve Green mulai berburu alkitab-alkitab kuno dan artefak lainnya (hingga mencapai 40.000 objek) yang nilainya berjuta-juta dollar. Dia juga berusaha membeli koleksi Kando seharga 40 juta dollar, namun kemudian ditolak oleh William Kando.

Daniel Wallace, Kepala Pusat Studi Perjanjian Baru di Plano, Texas, bersama dengan Biarawan Benedictine, Columba Stewart dari St.John’s University, Minnesota, telah berkeliling dunia untuk sebuah misi: digitasi manuskrip biblika kuno di seluruh dunia. Sebuah tugas yang masih akan membutuhkan puluhan tahun untuk diselesaikan dengan teknologi OCR (Optical Character Recognition) yang tersedia saat ini.



unsplash.com


Kini saatnya kita bertanya: Untuk apakah semua jerih payah ini? Apakah hanya untuk membuktikan pada dunia bahwa iman kita didasarkan pada fakta sejarah dan bukan bualan semata? Seberapa dalamkah pengenalan umat Kristen atas diri Tuhan yang sudah ditambahkan berdasarkan semua publikasi kajian teks-teks kuno ini? Pertanyaan yang sulit dijawab oleh kita semua yang lebih banyak menghabiskan waktu di laman medsos ketimbang di dalam studi manuskrip-manuskrip biblika.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE