Saya Tidak Pantas

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 3 April 2019
Seburuk apapun masa lalu kita dan sekotor apapun dosa yang kita lakukan, Tuhan Yesus selalu ada bagi mereka yang mencari Dia.

Setiap orang pasti memiliki masa lalu dengan kisah yang berbeda-beda. Ada banyak waktu yang kita habiskan dengan tidak menaati, bahkan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah. Namun, Allah sendiri tidak pernah meninggalkan atau membiarkan anak-anak-Nya berjalan sendirian (Ibrani 13:5b). Bahkan saat kita berbalik kepada-Nya, Dia selalu menanti setiap kita.

Film Freedom Writers menceritakan seorang bernama Erin Gruwell yang baru bekerja sebagai salah satu guru dengan murid-murid yang mayoritas berlatar belakang buruk, seperti terlibat dalam geng, perkelahian, pembunuhan, kriminalitas, rasisme, dan sebagainya. Pengalaman mengajar Erin yang pertama tidak berjalan baik, bahkan sempat terjadi perkelahian masal di sekolah tersebut dikarenakan permasalahan kelompok/geng. Sebagai guru baru, Erin syok dan sempat merasa gentar secara emosional. Namun, akhirnya dia melakukan segala sesuatu dengan sangat baik dan tidak menyerah terhadap anak-anak tersebut.

Dia bahkan melakukan beberapa pekerjaan serta merancang aktivitas lain tidak hanya untuk mengajar, tetapi memberikan pengalaman baru bagi murid–muridnya. Akhirnya, hasil dari proses yang telah dia lakukan dan pengorbanan yang telah dia berikan, menjadikan segala sesuatunya indah. Murid- muridnya tidak hanya menjadi teman satu kelas, tetapi menjadi satu keluarga yang erat baik terhadap sesama teman maupun terhadap Erin sendiri. Erin tidak menyerah dan selalu mengasihi setiap murid-muridnya, meskipun dirinya sempat tidak dianggap, direndahkan, tidak dihormati, dan tidak direspon baik oleh murid-muridnya. Erin tidak hanya memiliki tekad yang kuat, tapi juga kasih yang tidak sementara.



Photo by Marco Bianchetti on Unsplash


Layaknya kisah pada film tersebut, kita pun mendapat perlakuan kasih yang serupa bahkan jauh lebih besar dan mulia. Tidak ada satu hal pun yang dapat menyandingi kasih Allah. Seburuk apapun masa lalu kita dan sekotor apapun dosa yang kita lakukan, Tuhan Yesus selalu ada bagi mereka yang mencari Dia. Perumpamaan tentang anak yang hilang menceritakan anak bungsu yang memilih untuk mengambil harta bagian yang menjadi haknya, tetapi kemudian menghabiskannya dengan foya-foya. Setelah itu, timbul bencana kelaparan dan dia pun melarat karena hartanya habis. Dia menjalani hidup dengan sengsara dan menyadari bahwa keadaan bersama bapaknya lebih baik. Akhirnya dia memutuskan untuk bangkit dan kembali kepada bapaknya. Hal yang menarik dapat kita lihat di ayat 20: “... Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.” Di sini, kita dapat melihat kasih seorang ayah kepada anaknya yang telah mengambil harta dan pergi dari ayahnya demi berfoya-foya. Akan tetapi ketika anaknya telah kembali, kasih ayahnya tidak berubah, bahkan sang ayah sendiri yang berlari menjemput anaknya.

Bayangkan kita adalah anak bungsu pada cerita tersebut dan Tuhan Yesus adalah bapak kita. Ketika kita sadar dan berbalik pada jalan Tuhan, Dia menunggu di sana dan menyambut kita karena Dia sangat mengasihi kita. Seharusnya kita merasa malu dengan kondisi kita yang hancur dan bercela, tetapi masih diterima sebagai anak-Nya - ini adalah kehormatan dan anugerah yang tidak bisa digambarkan. Dia tidak hanya sekadar mengasihi kita, tetapi Dia memberikan nyawa-Nya untuk kita. Kasih yang tidak berdasar pada kondisi, tetapi selalu menunggu kita untuk mencari Dia.

Seringkali kita tidak mengutamakan Tuhan tetapi menempatkan pekerjaan atau hal lain di tempat pertama dalam kehidupan kita. Ketika kita berada dalam kondisi sulit, baru lah kita mencari Dia. Berapa kali kita bersembunyi dari Dia, melupakan, atau bahkan melakukan hal-hal yang Dia tidak inginkan?



Photo by Shoaib SR on Unsplash


Paskah adalah salah satu momen yang dapat kita gunakan untuk kembali mengingat siapa kita yang oleh-Nya dapat diselamatkan. Kita telah melakukan hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Allah, tetapi dengan kasih-Nya, Allah memberikan pengorbanan yang sejati. Kita masih berputar dalam siklus berdosa-kemudian-minta-ampun-dan-kembali-berdosa, tetapi Allah sendiri tidak berhenti untuk mengasihi kita. Tidak ada sumber lain yang memiliki kasih yang tak berkesudahan.

Pertanyaan bagi kita pribadi adalah, pantaskah kita menyia-nyiakan pengorbanan dan kasih Tuhan? Pantaskah kita menomor duakan Tuhan di hidup kita? Pantaskah kita kembali berkompromi dengan dosa yang bertolak belakang dengan Tuhan sendiri? Mari telaah kembali kehidupan kita yang telah lalu dan renungkan sejenak apa yang sebenarnya harus kita lakukan atau ubah secara pribadi agar kita kembali kepada kasih Tuhan Yesus. Jangan kembali bersembunyi, menjauh, dan melakukan hal-hal yang jauh dari perkenanan Tuhan, tetapi putar arah hidup kita 180 derajat agar kita fokus dan menghadap hanya ke jalan Tuhan. Kiranya Tuhan Yesus berada di tempat utama dalam kehidupan kita.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE