Sebuah Manifestasi Rasa Cinta dalam Diri

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 20 Februari 2019
Pertanyaannya, apakah kita sudah melabuhkan cinta kita kepada Tuhan seperti kita mencintai gebetan atau pacar kita?

Apa yang ada di pikiran rekan-rekan muda ketika berbicara tentang cinta? Mungkin kebanyakan dari kita akan langsung berpikir mengenai pasangan, keluarga kita masing-masing, mengenai cinta kepada sahabat. Namun, pernahkah kita berpikir apa esensi dari suatu konsep yang bernama cinta tersebut? Di tulisan ini, saya akan mengajak teman-teman mengeksplorasinya dari perspektif ilmu hubungan interpersonal.

Sebelumnya, kita akan berbicara dulu mengenai pengertian cinta dan jatuh cinta. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, cinta dapat diartikan sebagai hubungan antara pria dan wanita berdasarkan kemesraan, tanpa ikatan berdasarkan adat atau hukum yang berlaku. Lalu, bagaimana dengan jatuh cinta? Menurut definisi dari beberapa penelitian tentang hubungan interpersonal, jatuh cinta adalah keadaan ketika timbul keinginan kuat untuk membentuk hubungan yang dekat dan romantis dengan orang-orang tertentu.

Ada beberapa tokoh psikologi yang mencoba untuk memberikan pandangannya tentang konsep cinta. Salah satunya adalah seorang tokoh bernama Robert Stenberg. Dalam bukunya tentang The Triangular Theory of Love atau Teori Segitiga Cinta, Stenberg menunjukkan bahwa ternyata cinta memiliki tiga dimensi, yakni: intimacy, passion, dan commitment.




Intimacy. Dimensi ini menekankan pada kedekatan perasaan antara dua orang dan kekuatan yang mengikat mereka untuk bersama. Sebuah hubungan akan mencapai keintiman emosional saat kedua pihak saling mengerti, terbuka, saling mendukung, dan dapat berbicara apa pun tanpa merasa takut ditolak.

Passion. Dimensi passion menekankan pada intensnya perasaan dan dorongan yang muncul akibat daya tarik fisik dan daya tarik seksual. Pada jenis cinta ini, seseorang yang mengalami ketertarikan fisik secara nyata, akan selalu memikirkan orang yang dicintainya sepanjang waktu. Ia akan begitu terpesona dengan pasangan, ingin selalu bersama, memiliki energi yang besar untuk melakukan sesuatu demi pasangan mereka, dan merasa sangat berbahagia.

Commitment. Dimensi ini menekankan pada keputusan seseorang untuk tetap bersama dengan seorang pasangan dalam hidupnya. Komitmen dapat bermakna mencurahkan perhatian, melakukan sesuatu untuk menjaga hubungan tetap langgeng, dan memperbaiki bila hubungan dalam keadaan kritis. Pada dimensi ini, seseorang sudah mulai memikirkan mengenai pernikahan.



Pavel Badrtdinov on Unsplash


Perpaduan antara ketiga jenis dimensi ini membentuk beberapa jenis cinta, tergantung pada komponen dimensi apa yang membentuknya:

1. Romantic love, adalah cinta antarindividu yang terbentuk dari adanya intimacy dan passion, tetapi dengan tidak adanya komitmen. Hubungan ini sifatnya jangka pendek. Kita sering mendengarnya sebagai dengan istilah FWB alias ‘friends with benefit’.

2. Companionate love, adalah cinta tanpa passion yang sifatnya lebih kuat dari persahabatan karena adanya elemen intimacy dan komitmen jangka panjang. Jenis cinta ini sering ditemui pada pernikahan yang sudah berumur lama, ketika mungkin passion sudah berkurang, akan tetapi ikatan perasaan dan komitmen sudah sangat kuat

3. Fatuous Love, adalah cinta yang termotivasi karena adanya komitmen dan passion antara satu sama lain, tetapi tanpa intimacy . Pasangan dengan jenis cinta ini memandang hubungan sebagai sebuah kondisi hidup bersama tanpa harus memikirkan perasaan satu sama lain

4. Consummate Love, adalah representasi dari sebuah hubungan yang ideal dengan adanya passion, intimacy, dan commitment. Pasangan yang memiliki cinta jenis ini menikmati hubungannya dan secara bersama dapat mengelola perbedaan serta tantangan yang ada



Kyle Frederick on Unsplash


Nah, itu dia teori yang bisa menjelaskan tentang konsep cinta yang mungkin sedang kamu rasakan saat ini juga. Cinta tidak hanya terbatas untuk sesama kita, tetapi juga kepada Tuhan. Pertanyaannya, apakah kita sudah melabuhkan cinta kita kepada Tuhan seperti kita mencintai gebetan atau pacar kita?

Tuhan sudah lebih dulu mencintai kita, bahkan sejak sebelum kita lahir. Cinta-Nya kepada kita Ia buktikan dengan mengorbankan diri-Nya di atas salib demi menebus dosa umat manusia. Terlihat jelas bahwa cinta dari Tuhan merupakan suatu perbuatan nyata, bukan hanya sebatas teori saja. Cinta-Nya yang begitu besar tertulis dalam Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Jadi, apakah sekarang kita sudah merasakan intimacy bersama Tuhan? Merasakan passion dalam kehidupan rohani kita? Membuat suatu commitment untuk terus mendekatkan diri pada-Nya? Sudahkah ada semuanya ini dalam hubungan kita dengan Tuhan? Sudahkah suatu consummate love tercipta antara kita dengan Tuhan? Tentunya pertanyaan-pertanyaan hanya dapat dijawab oleh masing-masing rekan muda sekalian.

Kalau begitu, apa yang bisa kita lakukan untuk merespons cinta dari Tuhan? Kata orang, cinta ada karena terbiasa, sedangkan menurut Robert Stenberg, “Love is a verb”. Nah, berikut ini ada beberapa hal yang bisa rekan-rekan muda sekalian lakukan sebagai bentuk nyata usaha kita membangun relasi dengan Tuhan lebih dalam lagi:



Emily Rudolph on Unsplash


Bangun dan Jaga HPDT-mu

Hubungan pribadi dengan Tuhan (HPDT) dapat kita bangun dengan baik dan intens melalui saat teduh yang rutin. Rekan-rekan muda pasti sibuk berkarya, baik di kampus maupun di tempat bekerja. Terkadang, kesibukan tersebut membuat kita tidak sempat saat teduh. Mulai sekarang, mari kita menyisihkan waktu untuk bersaat teduh, bukan menyisakan waktu. Rekan-rekan muda bisa memilih waktu yang tepat versi kalian, bisa di pagi hari, siang hari, ataupun di malam hari sebelum tidur.

Aktif Dalam Persekutuan dengan Rekan Seiman

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat” - Ibrani 10: 25.

Dengan kita mengikuti persekutuan, kita bisa mendapat dua keuntungan. Pertama, kita bisa menjalin hubungan dengan Tuhan dalam suatu ibadah. Kedua, kita juga bisa menjalin hubungan yang saling menguatkan dengan teman-teman persekutuan kita. Rekan-rekan dalam persekutuan mampu menguatkan kita, sehingga kita juga akan dapat merasakan cinta dan kasih Tuhan melalui mereka.

Membagikan Cinta Tuhan Lewat Kesaksian Pribadi

Kita sudah merasakan cinta Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sayang sekali apabila kita tidak membagikannya ke rekan-rekan kita yang lain. Mulai sekarang, ayo beritakan kabar baik kepada sesama kita agar mereka juga merasakan cinta Tuhan dan perubahan yang baik dalam kehidupan mereka.

Ketiga dimensi dan jenis cinta menurut teori Robert Stenberg ini akan dapat membantu kita untuk melihat dimensi mana yang perlu untuk kita tingkatkan dalam membina relasi, baik dengan pasangan, sahabat, kolega, keluarga, dan yang terutama dengan Tuhan kita. Kasih-Nya sempurna untuk kita sejak dahulu kala dan kekal selama-lamanya. Kasih-Nya dapat kita rasakan setiap hari, dalam relasi yang intim dan penuh gairah dengan-Nya, serta komitmen untuk selalu berjalan bersama-Nya.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE