Sebuah Teladan Persahabatan yang Inklusif

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 22 Oktober 2018
Sang Sahabat sudah mengambil inisiatif untuk menjadi sahabat kita sehingga kita mendapatkan kesempatan untuk berelasi dengan-Nya dan ciptaan lainnya.

Yesus sang Sahabat Rasanya semua orang Kristen akan dengan senang hati mengakui Yesus sebagai sosok sahabat. Terlebih, karena Yesus sendiri berkata dalam Injil Yohanes, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Ia telah menjadi sahabat dan memberikan nyawa-Nya untuk mendamaikan ciptaan dengan Pencipta. Joas Adiprasetya mencatat bahwa persahabatan Allah dan manusia dimungkinkan dan bahkan sudah dinyatakan di dalam diri Kristus.

Adiprasetya menambahkan, “memang “sahabat” tidak pernah menjadi jabatan Kristus yang diterima di dalam tradisi gereja-gereja. Oleh karena itu, Moltmann mengusulkan “sahabat” sebagai jabatan keempat yang ditambahkan dalam tiga jabatan klasik Kristus (munus triplex): nabi, imam dan raja.”

Berbeda dengan Moltmann, Adiprasetya mengusulkan untuk mempertahankan tiga jabatan klasik Kristus yaitu sahabat (philos), pelayan (diakonos), dan orang asing (xenos).

Menjadi sahabat bagi Sang Sahabat, merupakan undangan terbuka. Bahkan dalam Yohanes 15:5a Yesus berkata “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat.”

Pertanyaannya, sudahkah kita menjadi sahabat bagi Kristus?

Kita adalah sahabat Kristus jika kita berbuat apa yang Ia perintahkan (Yoh. 15:14). Dua perintah yang paling populer bagi orang Kristen adalah perintah untuk saling mengasihi (Allah dan sesama manusia), seperti Ia telah mengasihi kita (Mat. 22:37-40; Mrk. 12:29-31; Luk. 10:27; dan Yoh. 15:12) dan Amanat Agung (Mat. 28:19-20).

Dalam Amanat Agung, Yesus memerintahkan untuk mengajar segala sesuatu yang telah Ia perintahkan kepada murid-murid-Nya. Apa yang harus diajarkan? Injil mencatat cara hidup radikal Sang Sahabat. Ia menjadi sahabat bagi orang-orang tertindas, miskin, berpenyakit, sundal, pemungut cukai, dan berdosa. Persahabatannya dengan orang-orang ini berlawanan dengan standar yang ada pada masa itu dan masa kini. Persahabatan ini membongkar lingkaran-lingkaran eksklusif. Ia menjadi sahabat dan suara bagi orang-orang yang terbuang. Inklusif, adalah hal yang dapat dengan jelas kita lihat dalam persahabatan Yesus di dunia ini.



Photo by Tom Parsons on Unsplash


Namun disayangkan, secara sadar atau tidak, kita yang mengaku sebagai sahabat dari Sang Sahabat belum menjadi sahabat yang baik. Dua kali saya berinteraksi dengan Gereja yang benar-benar eksklusif, baik dengan hadir dalam persekutuan mereka ataupun bercakap-cakap dengan anggota jemaat Gereja tersebut. Mereka percaya bahwa keselamatan hanya ada dalam Gereja mereka (bahkan gereja lain tidak memiliki keselamatan) dan sedikit atau bahkan tidak ada kerjasama atau interaksi dengan masyarakat dan Gereja lain.

Holocaust dan Hiroshima, Ketidakbersahabatan Kristen?

Holocaust dan Hiroshima adalah bukti nyata ketidakbersahabatan orang Kristen. Tentu politik, ekonomi, dan berbagai faktor lainnya berperan menciptakan tragedi ini. Hal yang ingin saya tekankan adalah: apa peran orang Kristen pada saat itu? Apa yang mereka lakukan ketika tragedi ini sudah terjadi? Apakah mereka juga turut berperan menghasilkan tragedi ini?



pexels.com


Donald Messer dalam bukunya yang bertajuk “A Conspiracy of Goodness: Contemporary Images of Christian Mission” menjelaskan bahwa pada saat itu antisemitisme tumbuh dalam pemikiran dan komunitas Kristen, yang menciptakan budaya yang memungkinkan Hitler untuk memegang kekuasaan dan pada akhirnya melakukan pembunuhan terhadap jutaan orang Yahudi.

Messer juga mencatat bahwa Henri J. M Nouwen hanya berusia tiga belas tahun saat Perang Dunia kedua berakhir. Ketika ia beranjak dewasa, ia mempertanyakan mengapa orang Kristen tidak menolak persekusi dan pembantaian orang Yahudi. Mengapa tidak ada gerakan Kristen yang memprotes pembantaian tersebut? Mengapa orang-orang religius tidak mencoba membebaskan orang Yahudi dari kamp konsentrasi? Mengapa orang yang beribadah di Gereja dekat sana, tidak pergi keluar tembok Gereja dan melawan kejahatan yang jelas-jelas terjadi di tanah mereka?

Ketika bangsa-bangsa Kristen membanggakan superioritas agama dan etika, mereka juga bertanggung jawab meledakan bom atom pertama di negara non-Kristen yang membunuh puluhan ribu warga yang tidak bersalah.

Kisah Sasaki dan Tanimoto
Lebih lanjut, Messer dalam bukunya juga mengangkat kisah Sasaki dan Tanimoto yang bisa menjadi refleksi kita bersama. Terufumi Sasaki adalah seorang ahli bedah, ia adalah satu-satunya dokter yang tidak terluka dalam rumah sakit dengan 600 kasur. Dengan penglihatan yang terbatas karena menggunakan kacamata pinjaman dari seorang suster yang terluka (kacamata miliknya mungkin rusak pada saat ledakan), ia melayani ribuan pasien terluka parah. Mereka memenuhi kamar, lorong, bahkan sampai ke jalan-jalan di luar rumah sakit. Pergerakannya terbatas, ia mengobati yang luka, melewati yang mati dan sekarat, dan berusaha mengobati pasien yang memiliki kesempatan untuk hidup.



Photo by rawpixel on Unsplash


Beberapa dokter dan sepuluh suster pun bergabung dan berusaha mengobati puluhan ribu pasien. Darah, muntahan, dan teriakan rasa sakit memenuhi rumah sakit itu; ratusan pasien meninggal tetapi tidak ada yang bisa memindahkan jenazah mereka pada saat itu. Dalam tiga hari pertama ia hanya tidur selama satu jam, bahkan pasien meneriaki dia “dokter! Tolong kami! Bagaimana dirimu bisa tidur?”

Yang kedua, yakni Kiyoshi Tanimoto. Ia adalah seorang pastur dari Gereja Metodis yang tanpa lelah berusaha menyelamatkan orang-orang dari kebakaran yang melanda seluruh penjuru kota. Belas kasih terpancar ketika ia berjalan di antara orang sekarat, menawarkan air minum kepada mereka yang sakit dan mengampuni orang yang menuduh ia adalah mata-mata Amerika. Bahkan, ia membacakan Mazmur 90 yang tertulis “Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun” saat orang tersebut berada dalam rengkuhan tangannya dan meninggal.

Ledakan bom ini, menghilangkan segala tembok dogmatis yang memisahkan. Tanimoto melayani semua orang kelaparan, tunawisma, dan terluka tanpa memandang agama mereka. Ia bekerja bersama orang Katolik, bahkan ketika ia sakit, Biksu Buddha mengobati dia.



Photo by Jordy Meow on Unsplash


Holocaust dan Hiroshima seharusnya menjadi pelajaran penting bagi orang Kristen bahwa eksklusifitas dan superioritas adalah hal asing dalam pemikiran Kristus. Saya tidak bermaksud menghilangkan atau mengurangi karya dari orang-orang Kristen pada saat ini. Masih ada orang-orang Kristen yang menjadi sahabat dan bersifat inklusif seperti Dietrich Bonhoeffer, Jürgen Moltmann, Kagawa Toyohiko, Murai Jun dan banyak orang lainnya yang tidak saya ketahui. Saya ingin menunjukan bahwa ketidakbersahabatan dapat membawa dampak buruk yang mungkin tidak kita kira sebelumnya. Apakah diam adalah reaksi dari seorang sahabat ketika mengetahui sahabatnya menderita? Rasanya, tidak!

Persahabatan yang Kontekstual: Walk the Talk
Mungkin terpikir oleh kita, “bagaimana mungkin Holocaust dan Hiroshima dapat terjadi di zaman ini?” Faktanya pengeluaran militer secara global adalah 2,7 miliar dolar perhari. Setiap hari empat puluh ribu anak meninggal. Sebagian besar dari mereka dapat selamat jika mendapatkan vaksinasi dan obat-obatan yang membutuhkan 2,7 miliar dolar. Perusahaan rokok di Amerika menghabiskan 2,5 miliar dolar untuk iklan pertahun dan dulu Uni Soviet menghabiskan jumlah yang sama perbulan untuk iklan vodka (Messer 1992, 47-49).

Kisah inklusivitas yang dilakukan Sasaki dan Tanimoto dalam pelayanannya bisa kita jadikan refleksi bersama. Terkhusus bagi mereka yang lemah dan tersingkir karena menjadi korban berbagai penindasan, dalam kehidupan keseharian: mereka yang mengalami bullying, orang yang memiliki perbedaan agama dan kepercayaan serta mereka yang berbeda pandangan politik dan teologi dari kita. Apakah mereka tidak bisa menjadi sahabat kita?



pexels.com


Sebagai penutup dari perenungan ini, saya teringat dan akan menampilkan akan sebuah himne karya Marty Haugen yang ia ciptakan pada tahun 1994:

Marty Haugen: All Are Welcome

Let us build a house where love can dwell And all can safely live,

A place where saints and children tell How hearts learn to forgive.

Built of hopes and dreams and visions, Rock of faith and vault of grace; Here the love of Christ shall end divisions;

Let us build a house where prophets speak, And words are strong and true, Where all God's children dare to seek To dream God's reign anew.

Here the cross shall stand as witness And a symbol of God's grace; Here as one we claim the faith of Jesus:

Let us build a house where love is found In water, wine and wheat: A banquet hall on holy ground, Where peace and justice meet.

Here the love of God, through Jesus, Is revealed in time and space; As we share in Christ the feast that frees us:

All are welcome, all are welcome, All are welcome in this place.

Daftar Acuan:
Messer, Donald E. A Conspiracy of Goodness: Contemporary Images of Christian Mission. Nashville: Abingdon Press, 1992.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE