Tentang Abraham: Bagaimana Frustasi dan Merintih Adalah Keniscayaan dalam Proses Pertumbuhan Iman Bagian 1

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 14 Februari 2019
Di mana titik terpenting dalam kehidupan Abraham dalam menghadapi kematian? Di akhir kehidupannya? Tidak. Titik itu ada ketika ia harus mengorbankan anaknya, Ishak

Seratus tujuh puluh lima tahun. Itu adalah lama usia kehidupan yang dijalani Abraham. Kemudian, Abraham menghembuskan nafas terakhirnya dan mati pada usia tua. Seorang lelaki tua yang selama bertahun-tahun, hidupnya dipakai untuk membentuk suatu bangsa yang besar, umat kepunyaan Allah.

“Dan anak-anaknya Ishak dan Ismael menguburkan dia di dalam gua Makhpela, di padang Efron bin Zohar, orang Het itu, padang yang letaknya di sebelah timur Mamre, yang telah dibeli Abraham dari bani Het; di sanalah terkubur Abraham dan Sara istrinya” (Kej. 25:9-10).

Kenapa kehidupan di dunia ini bisa menjadi begitu suram? Apakah Tuhan menciptakan dunia ini supaya manusia menderita dan sia-sia saja hidupnya? Tidak. Dunia di taman Eden yang Tuhan ciptakan sebelum manusia jatuh dalam dosa adalah dunia yang indah dan berarti. Namun, semuanya berubah di Kejadian pasal 3, manusia jatuh dalam dosa, lingkungan menjadi rusak, hubungan antar sesama menjadi rusak, dan hubungan manusia dengan Penciptanya juga menjadi rusak.

Kematian Abraham

Seorang bapak telah menutup mata untuk selamanya di depan mata putranya sendiri, Ishak. Seorang bapak yang memang bukanlah sosok yang sempurna, tapi telah mewariskan begitu rupa iman yang memberikan pengharapan kekal. Ishak menyaksikannya sendiri; bapaknya telah wafat, meninggalkan keluarga untuk selamanya.

Seorang suami telah tutup usia. Seorang suami telah meninggal di tempat istrinya yang telah terlebih dahulu dikuburkan. Abraham telah mengakhiri kehidupan di dalam ketaatan kepada janji Allah. Mungkin dia tidak sempat melihat janji Allah yang begitu rupa memberkati keluarganya sampai menjadi suatu bangsa yang sangat besar. Namun demikian, Abraham mendapatkan kemenangan yang paripurna, bahwa dirinya telah mengenal Allah yang begitu setia di dalam hidupnya.

Seluruh perasaan Ishak campur aduk ketika ia harus menguburkan ayah yang begitu dicintai. Mungkin saja, terlintas dalam pikirannya, begitu banyak kenangan indah bersama bapaknya. Mungkin ia mengingat perjalanan menyenangkan di padang belantara, hingga setiap kesempatan yang dihabiskan dalam suka dan canda. Meskipun demikian, inilah fakta yang harus diterima oleh Ishak: hakikat kehidupan. Ada perjumpaan, ada juga perpisahan.



Photo by Unsplash


Abraham meninggal dalam usia senja, seorang lelaki tua yang bertahun-tahun berkomitmen penuh kepada Allah. Adam Clarke memberikan pidato yang baik tentang Abraham: “Di atas segalanya sebagai abdi Allah, ia berdiri tanpa ada yang lain; sehingga ia ada di bawah pribadi yang paling mulia dan sempurna seperti teladan kita, Yesus Kristus. Abraham diusulkan dan direkomendasikan sebagai model dan pola yang menurutnya iman, ketaatan, dan ketekunan, para pengikut Kristus harus dibentuk.”

Sementara kita begitu mengagumi pria ini, bahkan menyebutnya sebagai bapak segala bangsa, jangan lupakan bahwa Allah saja lah yang membuatnya begitu hebat, begitu baik, dan sangat berkarisma. Bahkan Abraham tidak memiliki apa pun kecuali apa yang telah diterimanya, yaitu belas kasih Allah yang bebas tanpa syarat. Akan tetapi, tetap saja ia hanyalah seorang hamba, pelayan bagi Allah. Ia adalah seorang pekerja keras bagi Allah yang tidak pernah menyia-nyiakan anugerah Allah. Ia pergi dalam iman percaya, cinta, taat, dan tekun terhadap panggilan Allah.

Setelah kematian Abraham, Allah terus memberkati keturunan-keturunannya sebab Allah adalah pribadi yang setia kepada janji-Nya. Abraham bukanlah manusia yang luar biasa; ia hanyalah seorang manusia biasa. Hidupnya pasti akan berakhir. Akan ada saatnya ketika ia harus pergi untuk selamanya. Sebaliknya, Allah adalah pribadi yang kekal. Keberadaan-Nya tak berawal dan tak berkesudahan.

Kematian Suatu Keniscayaan



Photo by Unsplash


Hati orang tua mana yang tidak terluka ketika anaknya, yang akan dikorbankan bagi Allah, bertanya: “Bapa, di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” (Kej. 22:7)

Iman Abraham terhadap kematian diuji bukan ketika dirinya meregang nyawa dalam menghadapi kematiannya. Iman Abraham diuji dengan begitu hebat ketika ia diminta untuk mengorbankan anaknya. Ini adalah satu pukulan dan hantaman yang begitu berat bagi Abraham. Anak yang begitu dinantikan dan dirindukan harus kehilangan nyawa demi ketaatannya kepada Allah.

Secara alami, Abraham pasti mengalami frustasi yang begitu hebat. Bukan hanya frustrasi, namun juga rintihan yang begitu dalam. Memang kita tidak melihat Abraham merintih secara jelas, namun pastinya, hatinya mengerang hebat. Melalui Alkitab kita dapat melihat beberapa perspektif mengenai rasa sakit yang bisa manusia alami. Rasa sakit itu pernah Abraham alami, dan tidak luput kita juga mengalaminya di dalam kehidupan yang sarat dengan penderitaan.


Tentang Abraham: Bagaimana Frustasi dan Merintih Adalah Keniscayaan dalam Proses Pertumbuhan Iman Bagian 2

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE