Tentang Abraham: Bagaimana Frustasi dan Merintih Adalah Keniscayaan dalam Proses Pertumbuhan Iman Bagian 2

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 14 Februari 2019
Begitulah orang Kristen yang dewasa secara rohani: mereka adalah orang-orang yang berbahagia walaupun mereka hidup dengan kesedihan mendalam.

Frustsasi

Alkitab mengajarkan bahwa frustrasi adalah bagian yang tidak dapat dihindari dalam hidup kita di dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Dalam peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa, “Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya” (Rm. 8:20). Dengan demikian, keadaan manusia menjadi semakin buruk.



Photo by Unsplash


Kita menjadi sakit; kita salah dalam menilai; kita berdosa; kita mengalami masalah dari dalam maupun dari luar. Frustrasi dialami oleh Abraham, namun tidak sampai di sana saja, Alkitab juga mencatat Abraham memiliki iman kepada Allah. Abraham memiliki harapan menjelang kematian anaknya, Ishak (Ibr. 11:17-19).

Sesungguhnya, ini sama sekali bukanlah situasi yang mudah, walaupun kepadanya telah dikatakan: “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” Karena ia berpikir bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang dari kematian. Dan dari sana, ia seakan-akan telah menerima Abraham kembali. Sekalipun Allah telah bersabda, tak lantas iman percaya Abraham bergema begitu rupa. Perasaannya dipenuhi dengan frustrasi, batinnya berteriak hebat, “bagaimana mungkin saya bisa kuat menyanggupi juga melakoni pembantaian anak saya sendiri?” Abraham mungkin terus berharap bahwa itu hanyalah mimpi.

Seorang manusia biasa, Abraham bisa saja salah menilai pengorbanan Ishak sebagai suatu tindakan yang bodoh dan sia-sia. Namun demikian, dalam ujian keimanan, Abraham telah melewati masa-masa frustrasi dalam penyerahan diri yang penuh kepada Allah. Khayalan saya, kalau pun Allah tidak bersabda bahwa ada korban pengganti Ishak, pastilah pengorbanan Ishak tidak berjalan dengan begitu baik. Kayu-kayu bakaran telah basah sedemikian rupa oleh derasnya air mata Abraham yang tertumpah bagi Ishak karena frustrasi yang begitu hebat. Iya, ini hanya khayalan saya.

Merintih

Belajar merintih adalah salah satu kunci dalam respon orang Kristen menghadapi sebuah persoalan. Alkitab memberikan kita ruang untuk mengungkapkan rasa sakit. Kita tahu bahwa sepertiga dari kitab Mazmur berisi ratapan, di mana hamba Tuhan yang setia merintih karena rasa sakit akibat persoalan mereka.

Orang Kristen yang dewasa secara iman belajar mengungkapkan kesedihan mereka dengan rintihan, helaan nafas, menangis, atau cara apa pun yang dianggap pantas. Abraham juga tidak luput dari merintih. Ia pernah merasakan rintihan yang hebat di dalam hidupnya, jauh sebelum pergumulannya untuk mengorbankan Ishak kepada Tuhan. Apa yang membuat Abraham merintih? Kota Sodom dan Gomora.



Photo by Unsplash


Abraham bergumul di hadapan Allah dengan seruan permohonan agar Allah mengampuni Sodom dan Gomora. Permohonan yang nampaknya percuma saja untuk diserukan. Untuk apa kita merintih memohon pemulihan bagi kota yang penuh dengan rupa-rupa kecemaran?

Memang pantas bagi mereka untuk mengalami kehancuran dan kebinasaan. Akan tetapi, Abraham memikirkan hal yang berbeda. Ia begitu mengasihi kota yang tidak ia kenal. Dalihnya, jika di antara mereka masih ada orang benar, apakah Tuhan akan melenyapkan orang-orang benar bersama dengan orang fasik?

Abraham juga pernah merintih begitu dalam ketika istrinya, Sara, meninggal dunia. Kejadian 23:2 mencatat bagaimana Abraham datang meratapi dan menangisinya. Namun, ayat 3 mencatat bahwa Abraham memiliki daya juang. Dikatakan bahwa sesudah itu Abraham bangkit dan meninggalkan istrinya yang mati itu, lalu pergi mencari pekuburan bagi istrinya.

Kita telah belajar untuk hidup dalam rasa sakit dan bahkan tetap bersukacita di tengah-tengah rasa sakit itu. Dalam bukunya yang berjudul Creative Suffering, Paul Tournier, yang dianggap sebagai bapak konseling Kristen kontemporer, berbicara tentang rasa sedih yang dialami karena kematian bapaknya ketika dia baru berumur dua tahun, kematian ibunya ketika dia berumur lima tahun, dan kematian istrinya.

Tournier mengatakan, “Hati manusia tidak tunduk kepada aturan logika: mereka bertentangan secara logika. Saya dapat mengatakan bahwa saya memiliki kesedihan yang mendalam tetapi saya adalah orang yang berbahagia. Begitulah orang Kristen yang dewasa secara rohani: mereka adalah orang-orang yang berbahagia walaupun mereka hidup dengan kesedihan mendalam.”



Photo by Unsplash

Kehadiran Tuhan

Hal lain yang dapat menolong kita mengatasi kesulitan adalah pengetahuan bahwa Allah beserta kita. Abraham mengalami dengan benar bahwa Allah selalu beserta dengan dirinya. Kehadiran Tuhan memberi harapan bagi dirinya.

Seorang sarjana Perjanjian Baru yang terkenal, A.T. Reobertson menjelaskan hal ini: “Roh Kudus sama-sama menyimpan kelemahan kita dan mengambil bagian dalam beban yang kita hadapi sama seperti dua orang yang bersama-sama mengangkat kayu, satu orang di masing-masing ujung kayu tersebut.” Idenya adalah Roh datang mendekat kepada kita dan mengambil bagian dalam beban kehidupan kita. Peran Roh Kudus sangat nyata, sehingga ketika Roh berdoa untuk kita, Ia berdoa dengan penuh rintihan yang tidak terucapkan dengan kata-kata.

Roh mengidentifikasikan dirinya dengan kita sehingga rintihan kita menjadi rintihan-Nya. Roh mengeluh bersama-sama dengan kita. Dia menderita sama halnya dengan Kristus yang telah menderita bagi dosa manusia. Demikianlah kita mengalami penghiburan dalam penyertaan Roh Kudus juga dalam kasih Kristus di setiap pergumulan kehidupan.



Photo by Unsplash


Penutup

Abraham telah mengakhiri suatu pertandingan iman dengan baik. Ia setia sampai akhir. Kematiannya bukanlah suatu kesia-siaan belaka. Kematiannya merupakan kisah seorang pejuang iman yang luar biasa. Kisahnya memberikan pelajaran bagi kita bahwa kehidupan adalah penyerahan diri total kepada kehendak Allah.

Frustrasi, rintihan, dan kesabaran di dalam menghadapi pergumulan adalah latihan iman yang membuat ketaatan kita semakin perkasa. Abraham hanya manusia biasa seperti kita. Ia sanggup mengakhiri kehidupannya dengan berbangga, bukan karena dirinya perkasa, tetapi karena ia menggantungkan hidup sepenuhnya kepada Allah yang berkuasa.


Baca Juga:

Tentang Abraham: Bagaimana Frustasi dan Merintih Adalah Keniscayaan dalam Proses Pertumbuhan Iman Bagian 1

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE