Tentang Kristen “Ateis” dan Hidup di Luar Tuhan (bagian 1)

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 1 Februari 2019
Ketika Salomo berkata hidup di bawah matahari adalah suatu kesia-siaan, maka sebenarnya hidup di bawah matahari itu adalah hidup di dalam sudut pandang kita sendiri.

Kekristenan dan ateisme tentu adalah dua ide yang tampak bertentangan. Orang-orang Kristen percaya Tuhan, sedangkan ateis adalah orang-orang yang tidak mempercayai Tuhan itu ada. Bagaimana kedua ide ini dapat digabungkan?

Namun Craig Groeschel, dalam bukunya “The Christian Atheist”, mengajukan sebuah gagasan yang tak jarang sebenarnya dihidupi oleh orang-orang yang mengaku diri Kristen, yang dia sebut sebagai Kristen “ateis”. Konsep ini merupakan suatu keyakinan di mana ada orang-orang yang mengaku percaya Tuhan tapi hidup seolah-olah Tuhan itu tidak ada. Banyak orang Kristen yang tidak sadar bahwa dirinya adalah seorang Kristen “ateis”, bahkan termasuk mereka yang sudah rajin ke gereja dan juga pelayanan.

"I believe in God, but don't know Him."

"I believe in God, but don't fear Him."

"I believe in God, but don't go overboard."

"I believe in God, but don't trust him fully."im."


(The Christian Atheist, Craig Groeschel)

Percaya atau tidak, konsep Kristen “ateis” ini sungguh nyata. Mungkin kita pun melakukan segala sesuatu tanpa memikirkan bahwa Tuhan itu nyata, Tuhan ada bersama kita, Tuhan sedang melihat perbuatan kita, dan Tuhan peduli dengan semua hal yang kita lakukan.



Photo by Unsplash


Berbicara tentang ateis, tahukah kamu bahwa kitab Pengkhotbah disebut sebagai kitab yang disukai para ateis?

Memang, kitab Pengkhotbah adalah kitab yang sangat menarik walaupun kitab ini banyak berbicara tentang sesuatu yang negatif. Keyword yang akan paling sering kita temukan adalah kata “sia-sia”. Nada-nadanya seakan pesimistis namun realistis, kenyataan bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah sebuah kesia-siaan.

Pengkhotbah ditulis oleh seorang Raja yang sangat terkenal, kaya raya, pintar, yang katanya tidak satu orang pun di dunia ini yang sepintar dia. Bahkan di Alkitab ditulis bahwa dia mengetahui nama semua jenis tumbuhan dari yang paling kecil yang tumbuh di bebatuan sampai yang paling besar. Kerajaan yang dipimpinnya saat itu bisa dibilang adalah kerajaan terkaya dan disegani oleh semua kerajaan lainnya di dunia. Siapakah dia? Anak Raja Daud, yaitu Salomo.

Salomo yang adalah manusia terkaya dan paling berkuasa yang pernah hidup di dunia ini, juga pernah mencoba semua hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya (Pkh. 2:1). Namun baginya, semua hal itu pun sia-sia. Minuman yang nikmat (1:3), harta benda sampai budak-budak yang “berkembang biak” di istananya (2:7), banyaknya istri yang dalam kitab Raja-Raja tercatat berjumlah 700 (2:8), segala hal yang diinginkan oleh semua manusia di bumi ini pernah dia miliki atau lakukan semuanya (2:10). Namun, akhirnya tetap sama, “segala sesuatu adalah kesia-siaan, memang tak ada keuntungan di bawah matahari” (2:11). Segala hal yang baik seperti kepintaran juga sia-sia (2:14) karena semuanya akan menuju ke nasib yang sama, yaitu kondisi tua, pikun, dan mati (3:20).

Bayangkan, seorang Raja seperti Salomo, di akhir hidupnya menulis kitab Pengkhotbah dan menyimpulkan bahwa segala sesuatu adalah sia-sia. Apa gunanya kita hidup di dunia ini kalau segala sesuatu itu sia-sia?



Photo by Unsplash


Salomo, seorang raja yang terhormat, bahkan menyamakan hidup manusia dengan binatang (3:19). Misalnya, apa persamaan manusia dengan sapi? Mungkin manusia dan sapi sama-sama bekerja, makan, dan tidur, namun apa yang membedakannya sehingga kita tidak mau disebut sapi? Mereka tidak khawatir atau peduli sama sekali apakah hidup ini sia-sia atau tidak. Mereka tidak bertanya soal arti kehidupan, dan inilah yang membedakan kita dengan binatang.

Manusia akan selalu mengalami kekhawatiran dalam hidup. Khawatir akan masa depan, kuliah apa, kerja apa, kapan punya pacar, kapan menikah, kapan punya anak, kapan pensiun, dan sebagainya. Kita tidak akan pernah berhenti mencari arti kehidupan dan kepuasan hidup. Tidak peduli senyaman apa kehidupan kita, seberapa banyak harta kita, seberapa besar kemampuan kita, bahkan sekalipun kita menjadi seperti Salomo.

Kita bukan orang-orang yang sekedar puas ketika bisa “makan, minum, bersenang-senang, dan tidak usah memikirkan segala hal lainnya”. Kita bisa saja melakukan semua itu sekadar untuk survive di dunia ini. Namun kita akan terus merasa hidup kita kosong dan tidak ada artinya.

Tidak ada hal yang bisa memuaskan hidup kita di dunia ini. Kalau saja pornografi atau game bisa memuaskan hidup kita, maka kita tidak akan mengakses situs-situs porno lagi atau bermain game lagi bukan? Cukup sekali saja melakukannya karena kita sudah puas. Namun kenyataannya, apakah manusia puas hanya sekali saja?


Photo by on Unsplash


Kembali berbicara mengenai Kristen “ateis”. Kalau ateis tidak mempercayai Tuhan itu ada, maka mereka sebenarnya akan terus mencari apa arti dari hidup mereka. Mereka harus menerima kenyataan kalau hidup ini cuma sementara dan akan selesai begitu saja karena Tuhan itu tidak ada.

Bukankah itu kesia-siaan yang dimaksud Salomo? Apapun yang manusia kerjakan hanya akan berakhir begitu saja ketika manusia mati nanti. Lalu apa yang harus kita lakukan?

“Sebuah bidang ilmu mungkin bisa menjawab pertanyaan ‘bagaimana’ dalam penjelasan materi, tapi pertanyaan yang paling penting menjawab pertanyaan ‘mengapa’. Mengapa kita ada, dan siapa yang akan menuntun kita melalui kekhawatiran dan kesulitan hidup ini?” (Jesus Among Secular Gods, p.12)

Di dalam kitab Pengkhotbah, ada keyword kedua yang akan sering kita temukan ketika membaca kitab ini. Apakah itu? Kata “di bawah matahari” ditulis dalam kitab Pengkhotbah sebanyak 29 kali. Ravi Zacharias, seorang apologet yang menulis banyak buku, pernah berkata seperti ini, “The key to understanding the Book of Ecclesiastes is the term ‘under the sun.’ What that literally means is you lock God out of a closed system, and you are left with only this world of time plus chance plus matter.”



Photo by Unsplash


Apa artinya? Ketika Salomo berkata hidup di bawah matahari adalah suatu kesia-siaan, maka sebenarnya hidup di bawah matahari itu adalah hidup di dalam sudut pandang kita sendiri. Cukup dari apa yang kelihatan dari mata kita saja dan membuang Tuhan yang bertahta atas alam semesta dan tidak bisa kita lihat itu keluar dari hidup kita.

Tentang Kristen “Ateis” dan Hidup di Luar Tuhan (bagian 2)

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE