Tentang Menunggu dan Menanti (Bagian 1)

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 8 November 2018
Menanti justru menuntut keseluruhan diri kita seutuhnya untuk bersiap-siap menyambut dan memeluk yang akan datang itu, yang seringkali tak dapat digambarkan bentuk atau wujudnya.

Dalam drama bertajuk Menunggu Godot, Samuel Beckett mengisahkan dua orang, Estragon dan Vladimir, yang sedang menunggu munculnya orang ketiga yang tak jelas juntrungannya. Baik namanya (entah Godot, Godin, atau apalah), wajahnya, juga mengapa mereka harus menunggunya. Percakapan antara kedua orang itu juga tak jelas dan tak penting. Drama dua babak dengan plot yang terkesan asal-asalan ini dipentaskan di teater-teater besar seluruh dunia tak lama setelah kemunculannya. Mereka menyebutnya Theater of Absurd. Drama ini mengajak penonton untuk menganalisis postur dan gesture dalam memahami kedua tokoh, saat makna tak dapat lagi ditambang dari kedalaman kata.

Beckett menampilkan karakter Estragon dan Vladimir yang sepanjang cerita terus-menerus bersitegang atas berbagai hal. Soal usaha menarik celana, bertukar topi, melepas sepatu, juga perdebatan soal waktu dan tempat, kapan dan di mana mereka menunggu, kapan dan di mana Godot akan muncul, yang semakin tak jelas. Sementara mereka mengumbar gesture repetitif tanpa makna, Godot tak pernah muncul. Keputusasaan begitu pekat di ujung drama, diakhiri dengan kalimat Vladimir, “Kita gantung diri saja kalau besok Godot tak muncul.”

Banyak kritikus menafsir bahwa Beckett sedang mengejek orang-orang yang percaya pada Tuhan dan orang Kristen yang terus menanti-nanti kedatangan-Nya yang kedua kali, suatu tindakan yang sudah kehilangan makna di mata Beckett dan banyak orang. Dua perang dunia yang menghancurkan kepercayaan diri bangsa Barat atas klaim bahwa mereka adalah makhluk rasional dan bermoral, yang diikuti abad dekadensi atau kebangkrutan moral, membuat banyak orang semakin meragukan keberadaan Tuhan. Kita diibaratkan menunggu sebuah kemunculan atau penampakan seorang Juruselamat atau apapun yang dapat memberi jawaban dan makna atas semua kehancuran ini.

Pada akhirnya, Godot tak pernah muncul. Isi benak Beckett tersirat dalam kata-kata Vladimir di awal babak satu, “Hanya satu penulis Injil yang menulis tentang satu pencuri yang diselamatkan ketika disalib di sebelah Juruselamat. Dua penulis Injil lainnya bahkan tak pernah menyebut-nyebut mereka”, atau dalam pertanyaan Estragon yang tak pernah terjawab, “Menurutmu, Tuhan melihat aku?” Tidak ada Juruselamat yang akan datang menyelamatkan kita. Berhentilah menantikan datangnya seseorang yang akan memberikan makna pada hidupmu! Apakah yang terjadi ketika menunggu adalah satu-satunya makna hidup yang tersisa? Life is waiting, seperti tagline film The Terminal yang dibintangi oleh Tom Hanks.



Photo by Fabrizio Verrecchia on Unsplash


Drama tragikomedi Beckett dapat memberikan gambaran atas postur dan gesture orang-orang yang sedang menunggu sesuatu. Ada baiknya kalau kita mengontraskannya dengan bagian Alkitab yang memperlihatkan bagaimana umat Allah “menanti” penggenapan janji-Nya. Saya lebih suka membuat perbedaan antara istilah menunggu dan menanti.

Kitab Ezra, Nehemia, dan Ester memiliki alasan tersendiri untuk berada berurutan dalam kanon Alkitab. Selain rantai sejarah yang menyatukannya, ketiga kitab itu juga menceritakan ujung sebuah penantian panjang, selama sekitar 70 tahun, dari sebuah bangsa yang tercerai berai dan diperbudak, untuk membangun rumah Tuhannya kembali. Rumah Tuhan adalah tempat segala sesuatu berawal, prima causa dari kelahiran, kehancuran, dan kelahiran kembali sebuah bangsa, sendi kehidupan dan identitas diri bangsa Israel. Kitab Nehemia mengawali kisahnya dengan menceritakan kerinduan Nehemia membangun Yerusalem kembali, sementara kitab Ester menceritakan tentang hari-hari mendebarkan yang harus dilalui Ratu Ester dalam upaya menyelamatkan bangsanya dari rencana genosida Haman.

Ada kesamaan antara postur dan gesture Nehemia dan Ester saat mereka sedang menantikan waktu yang tepat untuk “beraksi”. Postur mereka berdua adalah postur orang yang bersiap menghadapi bahaya apapun, bahkan kematian, walaupun mereka merasa sangat takut (Neh. 2:2 dan Est. 4:16), sedangkan gesture mereka adalah gesture orang yang memohon anugerah dan belas kasihan (Neh. 1 dan Est. 4:16). Di dalam postur dan gesture keduanya terkandung antisipasi terhadap kesempatan yang Tuhan berikan, sangat berbeda dari postur Estragon dan Vladimir yang ayal-ayalan. Berbeda dari gesture repetitif tanpa makna dari para tokoh Menunggu Godot, Nehemia dan Ester berulang kali berdoa dan memohon, baik kepada Tuhan maupun kepada raja. Suatu repetisi yang penuh makna.



pexels.com


Inilah perbedaan mendasar antara menanti dan menunggu. Dalam menunggu, seringkali postur kita adalah postur orang yang bergerak tak tentu arah dalam ketergesaan, sementara gesture kita menunjukkan repetisi rutin (yang banyak ditemukan dalam ritual neurotik penderita Obssessive-Compulsive Disorder) yang membosankan dan melelahkan, berbayang disorientasi diri dan waktu, dan akhirnya menunjukkan ketidakpedulian. Gambaran ini sangat jelas setiap kita melihat orang-orang yang sibuk dengan gawainya atau anak-anak kecil yang terhisap dalam game android-nya di sudut suatu ruang.

Menanti justru menuntut keseluruhan diri kita seutuhnya untuk bersiap-siap menyambut dan memeluk yang akan datang itu, yang seringkali tak dapat digambarkan bentuk atau wujudnya. Ketika kita menantikan perkenanan Tuhan, dalam bentuk apakah perkenanan itu? Sama seperti Nehemia dan Ester yang tidak dapat meramalkan seperti apa wujud kasih karunia Tuhan, namun mereka menanti-nanti-Nya dalam repetisi yang non-identik, non-rutin, dalam doa, permohonan, dan pengharapan.



Photo by Braden Collum on Unsplash


Menunggu adalah kegiatan yang membosankan. Menanti, sebaliknya, adalah kegiatan yang penuh perasaan. Padahal keduanya bisa sama-sama tidak jelas kepastiannya dan tidak pasti kejelasannya. Objeknya pun bisa serupa, misalnya: menunggu bus trans berikut datang (setelah bus sebelumnya menutup pintu tepat ketika kaki kita sudah terangkat di udara di antara pijakan halte dan lantai bus).

Di dalam kebosanan, kita menunggu dan berusaha melompati waktu yang merentang di antara dua ruang. Waktu direduksi menjadi durasi— jam, menit, detik— yang harus dihabiskan. Maka kita perlu membunuhnya (kill the time) dengan hiburan musik yang enak, novel teranyar dan terlaris, atau mencandu cemilan, bisa juga tontonan streaming atau game di gawai kita. Menunggu berarti memosisikan diri kita sebagai penonton, bukan aktor. Kita sengaja melarutkan diri dalam kegiatan praktis. Pada akhirnya, kita tidak sadar bahwa kita sedang menenggelamkan diri perlahan-lahan.



Photo by Ben White on Unsplash


Kita, orang Kristen, tidak sedang menunggu Godot, namun seringkali postur dan gesture kita lebih mirip dengan Estragon dan Vladimir daripada postur dan gesture Nehemia dan Ester. Alangkah indahnya jikalau kita senantiasa hidup di dalam penantian akan kedatangan-Nya, akan penggenapan janji-Nya dalam setiap momen hidup kita, sampai saatnya tiba Dia menjemput kita pribadi ataupun saat Dia menjemput kita bersama-sama sebagai kumpulan orang percaya.


Baca bagian selanjutnya:(bagian 2)

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE