Tentang Menunggu dan Menanti (Bagian 2)

Going Deeper, LIVE THROUGH THIS, 8 November 2018

Masa depan seringkali kita hadapi berdasarkan ekspektasi pada apa yang akan muncul, yang tampak dan berbentuk, bukan antisipasi pada apa yang akan Tuhan genapi. Kita berekspektasi akan munculnya seorang kekasih daripada mengantisipasi kasih atau kesempatan mengasihi. Kita berekspektasi pada datangnya panggilan interview kerja daripada mengantisipasi panggilan untuk berkarya. Kita berekspektasi untuk memiliki sebuah rumah daripada menjadi rumah bagi sesama. Kita berekspektasi untuk diselamatkan seorang Pahlawan lebih dari menantikan seorang Sahabat yang menemani kita di dalam masalah.

Viktor Frankl, pendiri Logotherapy, menceritakan pengalaman hidupnya dalam kamp konsentrasi Nazi. Psikoterapis ini mengamati bagaimana manusia kehilangan diri mereka secara eksistensial ketika bekerja paksa sepanjang siang dengan perut lapar dan menunggu kapan giliran mereka masuk ke kamar gas menjadi satu-satunya pengalaman mereka setiap hari. Sebaliknya dari berupaya menebus waktu, para tahanan menjadi apatis di “ruang tunggu” itu.

“Kata-kata seperti ‘ah, hari seperti ini masih akan kita lalui’ atau ‘semuanya cuma omong kosong’ lumrah terdengar di malam hari di dalam barak. Akhir penawanan sama sekali tak terbayangkan oleh para tawanan karena kamp konsentrasi dibuat sebagai tempat yang dari dalamnya tidak akan ada seorang pun yang bisa keluar, hidup atau mati. Ketidakpastian ini mengarahkan para tawanan pada perasaan terpencil.” (Kutipan ini berasal dari buku Logoterapi, Psikoterapi Viktor Frankl, karangan E. Koeswara).



Photo by Dean Bennett on Unsplash


Di sini kita melihat waktu meluruh sepenuhnya menjadi sebentuk ruang spasial, seperti yang pernah dikatakan Walter Benjamin, ”history merges into setting”, atau “history is secularized as the setting”, atau “chronological movement is grasped and analyzed in a spatial image”. Benjamin menyimpulkan bahwa di sinilah titik di mana pengharapan eskatologis itu sirna, senada dengan kesimpulan Frankl bahwa manusia tidak akan bisa meng-ada atau terus bereksistensi tanpa keterarahan pada masa depan (yang otentik). Di dalam ruang tunggu, waktu dibekukan atau dibunuh. Dan itu bisa jadi sangat menakutkan bagi manusia modern yang sudah terbiasa melaju bersama bergulirnya waktu.

Kehidupan bergerak maju dengan cepat. Segala sesuatu terasa sementara atau transien, lalu tiba-tiba kita harus berada dalam suatu situasi begitu lama tanpa kejelasan masa depan. Seolah-olah kita tak memiliki tempat berpijak lagi di luar ruang tunggu ini. Seolah-olah inilah satu-satunya ruangan yang disisakan untuk kita. Perasaan lelah dan putus asa sewaktu menunggu kapan kita bisa pergi dari ruangan itu mendorong beberapa tawanannya untuk bunuh diri atau kehilangan daya juangnya.



Photo by Tom Pumford on Unsplash


Tak ada kontras yang lebih menarik selain daripada membandingkan antara peristiwa Guru yang tertidur dan murid-murid yang terjaga di dalam perahu di tengah Danau Galilea yang tengah mengamuk (Mrk. 4:35-41) dengan peristiwa Guru yang terjaga dan murid-murid yang tertidur di Getsemani (Mrk. 14:32-42). Siapa yang mengalami momen eksistensial dalam kedua peristiwa ini? Sepintas, kita seolah bisa menebak dari postur mereka: yang tidur itulah yang pasti sudah terlalu lelah menunggu atau yang larut dalam durasi waktu keseharian. Namun kalau kita dalami gesture dari mereka yang posturnya berjaga, ada perbedaan besar dalam kedua peristiwa.

Murid-murid terjaga di atas perahu karena rasa takut yang luar biasa. Rasa takut seringkali ditandai fenomena hilangnya orientasi diri. Ke-diri-an (selfhood) kita sebenarnya juga hilang ketika orientasi diri hilang. Kita menjadi tidak otentik pada saat ketakutan. Kita bisa histeris dan hilang akal, lalu melakukan hal-hal yang tak pernah kita lakukan seumur hidup kita, karena itu bukan diri kita lagi.

Pada saat itu kita tak bisa lagi membayangkan kemungkinan diri kita di masa depan, karena yang ada hanya kegelapan atau kematian. Visi mati mendahului raga. Para murid bahkan berteriak pada Guru yang mereka tahu sangat mengasihi mereka, ”Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Guru yang sedang tertidur di perahu yang sama, justru memiliki visi-Nya sendiri atas angin ribut yang melanda mereka.



pexels.com


Guru yang terjaga di Getsemani bergumul dengan hebat untuk menerima dan membiarkan datang apa yang akan menimpanya. Meminjam istilah filsafat eksistensialis, pergumulan-Nya ditandai oleh angst (kecemasan yang dibedakan dari kegelisahan atau kekuatiran) yang membuat keringatnya bercampur rembesan darah dari pembuluh darah nya yang pecah. Budi Hardiman, dalam buku “Heidegger dan Mistik Keseharian”, mengatakan bahwa filsuf Heidegger memahami angst sebagai suatu perasaan terlempar ke dalam dirinya sendiri yang baru disadarinya memiliki kedalaman bagai palung tak berdasar. Kecemasan ini tidak berobjek dan bukan muncul akibat masa depan yang tak pasti.

Yesus bukan hanya manusia, tapi juga Tuhan, dan Dia mengalami angst yang berbeda dari kita. Kata-katanya, “…bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu lah yang terjadi” menunjukkan bahwa Ia sebenarnya memiliki kuasa untuk membuang cawan penderitaan itu, cawan yang akan menghabisi eksistensi-Nya. Dalam pergumulan yang sulit dicerna akal pikiran kita ini juga terdapat banyak hal lain yang pasti tak akan mampu kita pahami sepenuhnya. “Dia sangat takut dan gentar” (Mark 14:33), namun kita tidak melihat tanda-tanda Dia kehilangan diri-Nya di dalam rasa takutnya di Getsemani. Otentisitas dan otoritas-Nya sebagai Tuhan dan manusia tetap dapat kita lihat secara utuh di sana, walau memang terlampau ajaib bagi kita untuk memahami diri-Nya sepenuhnya.

Dia membiarkan yang akan datang itu menghampirinya dan kata-kata-Nya,“…seperti mau mati rasanya” menunjukkan bahwa Dia sedang mengantisipasi momen itu, sedang bersiap meminum cawan itu, dan memeluk penderitaan yang tak terpahami itu dengan sebulat-bulat penyerahan kehendak-Nya supaya ”kehendak-Mu lah yang terjadi”. Sayang sekali, murid-murid-Nya tertidur karena tak paham apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi. Mereka hanya sekadar menunggu Guru-Nya selesai berdoa dan menunggu datangnya pagi tanpa visi.



Photo by IV Horton on Unsplash


Di dalam ruang ini semoga kita tidak sedang menunggu-nunggu sambil berteriak tanpa pengharapan, “Tuhan, Engkau tidak peduli lagikah pada kita?!” Semoga kita semua dalam postur sedang menantikan pertolongan-Nya dan dalam gesture sedang berdoa dan memohon terus menerus, dan walaupun merasa takut, tidak kehilangan antisipasi penuh pengharapan untuk menyambut uluran tangan-Nya, sambil terus bertindak menggenapi rencana dan kehendak-Nya.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE